Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) alias Indonesia Eximbank terus mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk bisa menembus pasar global, di tengah beragam ketidakpastian ekonomi. Department Head of NIA, Business Ecosystem & Partnership LPEI Agnes Rahadian, menjelaskan sebagai Special Mission Vehicle, LPEI mempunyai mandat utama untuk mendorong ekspor nasional melalui tiga pilar, ialah pembiayaan, penjaminan, dan asuransi.
LPEI mempunyai alokasi biaya PKE hingga Rp 13,85 triliun untuk program Penugasan Khusus Ekspor (PKE). Adapun alokasi tersebut terbagi menjadi sembilan program PKE, ialah PKE Kawasan Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa Timur, Amerika Latin (KWS); PKE Usaha Kecil Menengah (UKM), PKE Trade Finance (TFC).
Kemudian PKE Industri Alat Transportasi & Pendukung (ATP); PKE Industri Farmasi & Alat kesehatan (IFA); PKE Penjaminan & Asuransi (PJA); PKE Industri Penerbangan (GIA); PKE Pariwisata Mandalika (MDK); dan PKE Penunjang DPSP (DPSP).
"Biasanya, kita bisa, kita sering ketemu pelaku upaya nan baru banget kepikiran buat ekspor. Bukan berfaedah dia gak punya upaya di domestik, punya upaya di domestik, udah lama, tapi baru banget kepikiran ekspor. Di LPEI Kami mempunyai coaching program for new exporters," ungkap dia dalam Live Stage: "Penguatan Produk UKM Indonesia Menembus Pasar Global: Dari Dukungan Pembiayaan Hingga Kemudahan Transaksi Ekspor," di Trade Expo Indonesia (TEI), Kamis (15/10/2026).
Agnes merinci, coaching program for new exporters, UKM diberikan kelas dan kurikulum, mulai dari pengenalan dasar prosedur ekspor, langkah membikin harga, termasuk komponennya, langkah menarik pembeli dari luar negeri, dan tetap banyak lagi. Dia memastikan bahwa semua prosedur diajarkan.
"Namun pembiayaan nan kami berikan adalah nan berorientasi ekspor, tapi bukan berfaedah kami tidak mendukung dari bawah. Kami siap mendukung transaksi dengan orientasi ekspor," tegas dia.
Untuk diketahui, LPEI juga bakal mendukung UMKM nan memerlukan pembiayaan dengan kriteria nan dibutuhkan. Dari sisi penjaminan, LPEI juga bisa menjadi Bid Guarantee untuk tender-tender nan diikuti pengusaha Indonesia di luar negeri. Sedangkan dari sisi asuransi, setidaknya ada dua asuransi nan disiapkan oleh LPEI, ialah Marine Cargo sama Trade Credit Insurance.
Sementara itu, Insurance Division Head Indonesia Eximbank, Ilham Mustafa mengatakan dua asuransi tersebut disiapkan oleh LPEI. Adapun untuk Trade Credit Insurance adalah perlindungan nan bisa dimanfaatkan oleh pengusaha Indonesia jika ada kegagalan bayar dari pembeli di luar negeri.
"Kami nan bakal bayar jika ada kegagalan buyer. Jadi asuransi di kita, bisa digunakan saat sudah deal, sudah kirim barang, tapi takut dibayar alias tidak, asuransikan saja ke LPEI. Pada saat jatuh tempo pembayaran rupanya gagal, bisa beri tahu kami, kami nan bakal investigasi, terbukti kandas bayar dengan argumen nan ditentukan, kami nan bakal bayar," rinci dia dalam Forum Bisnis TEI 2026 dengan tema "Aksesibilitas Pembiayaan Perdagangan, dan Asuransi Ekspor".
Untuk diketahui, support cakupan asuransi dari sisi komersial mencakup kebangkrutan pembeli dan pembayaran. Sedangkan dari sisi tantangan politik mencakup patokan pemerintah, kegagalan kontrak, restriksi transfer, masalah kurensi, hingga perang.
Sedangkan untuk Marine Cargo untuk mendukung saat peralatan rusak di jalan. Ilham menyebut asuransi ini sudah sangat umum, seperti di e-commerce pada saat membeli dan bayar di e-commerce pasti sudah bundling dengan proteksinya.
Eksportir rempah-rempah, Ari Irawan sudah merasakan faedah support LPEI termasuk asuransi. Menurutnya, Ari apalagi pada saat tertentu beberapa negara tujuan mengharuskan asuransi.
"Kami menggunakan akomodasi asuransi Marine Cargo mulai dari tahun ini, sebagai upaya dari 'sedia payung sebelum hujan'," jelas dia.
Untuk diketahui, Ari telah melakukan ekspor utama ke India dan Pakistan, serta beberapa negara baru, seperti Korea, Taiwan, Mesir, Vietnam, dan Malaysia. Adapun produk nan diekspor adalah rempah-rempah seperti cengkeh, lada, temulawak, dan tetap banyak lagi.
Adapun Direktur Fasilitas Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Susila Brata mengatakan bahwa isu-isu dunia saat ini tidak bisa terhindarkan, bakal mengganggu rantai pasok global, termasuk transportasi internasional. Kendala itu juga menjadi tantangan juga bagi Indonesia nan juga biasanya bakal menjadi tantangan pembiayaan.
"Kami juga mendukung insentif beragam industri, apalagi kami mempunyai atase finansial di luar negeri, nan berkoordinasi dengan atase perdagangan nan bisa menjadi akses bagi pelaku upaya untuk bisa mendapat akses di negara tujuan," pungkas Brata.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·