Di Tengah Pelebaran Defisit, Penerimaan Pajak Justru Melonjak 22,1%

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Di Tengah Pelebaran Defisit, Penerimaan Pajak Justru Melonjak 22,1% Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.(MI/Insi Nantika Jelita)

PEMERINTAH mencatat keahlian penerimaan pajak nan tetap kuat di tengah pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hingga akhir Mei 2026, penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun alias tumbuh 22,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi penopang utama pendapatan negara nan telah terealisasi sebesar Rp1.185 triliun alias 37,6% dari sasaran APBN 2026. Kinerja tersebut tercatat ketika defisit APBN melebar menjadi Rp180,4 triliun alias setara 0,70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit APBN per akhir Mei 2026 meningkat dibandingkan posisi akhir April nan sebesar Rp164,4 triliun alias 0,64% terhadap PDB. Dengan demikian, secara bulanan terjadi tambahan defisit sekitar Rp16 triliun, sehingga ruang defisit kembali melebar setelah sempat menyempit pada April.

Meski demikian, pemerintah menilai kondisi fiskal tetap terjaga seiring kuatnya pertumbuhan pendapatan negara. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, hingga 31 Mei 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp1.185 triliun alias 37,6% dari sasaran APBN sebesar Rp3.153,6 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 19,1% dibandingkan periode nan sama tahun lalu.

“Ini realisasi APBN sampai dengan Mei 2026 nan terus menunjukkan tren positif. Kita lihat pendapatan tumbuh 19,1%. nan paling menarik adalah pendapatan pajak naiknya 22,1% Jadi ada perbaikan di sini, terutama dari penerimaan pajak,” kata Purbaya dalam konvensi pers APBN KiTa jenis Mei 2026 di Jakarta, Rabu (19/6).

Menurut Purbaya, pertumbuhan pendapatan negara terutama ditopang oleh penerimaan perpajakan nan mencapai Rp958,2 triliun alias 35,6% dari sasaran APBN. Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak mencapai Rp834,4 triliun, sementara penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp123,8 triliun.

Ia menambahkan, keahlian penerimaan pajak tahun ini menunjukkan perbaikan nan signifikan dibandingkan tahun lalu. Setelah mencatat pertumbuhan negatif sepanjang 2025, penerimaan pajak sekarang kembali tumbuh positif dan berpotensi meningkat lebih lanjut seiring perbaikan manajemen dan kepatuhan perpajakan.

“Tahun lampau full year pertumbuhan pajaknya negatif. Sekarang positif, mungkin kelak bakal 20,5%. Kita coba sorong ke atas terus seiring dengan perbaikan di pajak,” ujarnya.

Di sisi lain, realisasi shopping negara hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp1.365,4 triliun alias 35,5% dari pagu APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka tersebut tumbuh 34,4% yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan negara. Dari total shopping tersebut, shopping pemerintah pusat mencapai Rp1.059,3 triliun, sedangkan transfer ke wilayah terealisasi sebesar Rp306,1 triliun.

Walaupun APBN tetap berada dalam posisi defisit, pemerintah menilai esensial fiskal tetap sehat. Hal itu tercermin dari surplus keseimbangan primer sebesar Rp58,6 triliun. Surplus keseimbangan primer menunjukkan bahwa pendapatan negara tetap bisa menutupi shopping negara di luar pembayaran kembang utang, sehingga menjadi parameter krusial bagi keberlanjutan fiskal.

“Karena pajak APBN juga ada perbaikan nan signifikan. nan krusial lagi nan dilihat di sini, surplus keseimbangan primernya Rp58,6 triliun,” pungkas Purbaya. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia