Ilustrasi.(Dok. Kementerian Pertanian)
DI saat krisis pupuk dunia menekan produksi pangan di banyak negara, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat petani Indonesia justru tetap berproduksi dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu penopang cadangan beras dunia. Penegasan ini tertuang dalam laporan resmi Food Outlook jenis Juni 2026 nan dirilis FAO di Roma pada 17 hingga 18 Juni 2026, nan sekaligus menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan ranking keempat dunia.
Dalam analisisnya, FAO menilai stabilnya nilai di tingkat produsen alias petani menjadi insentif utama nan mendorong petani untuk terus memprioritaskan budidaya padi, pola nan FAO catat terjadi di Indonesia berbareng Republik Korea, Pakistan, dan Filipina. Sebaliknya, sejumlah produsen utama Asia justru diproyeksikan mengalami penurunan produksi, antara lain Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand.
Berdasarkan laporan FAO tersebut, produksi beras Indonesia diproyeksikan mencapai 38,5 juta ton pada periode 2025/2026 dan 38,6 juta ton pada 2026/2027. Posisi Indonesia hanya berada di bawah India (151,9 juta ton), China (143,2 juta ton), dan Bangladesh (41,5 juta ton), serta jauh di atas seluruh negara ASEAN lainnya seperti Vietnam (28,3 juta ton), Thailand (23,3 juta ton), Myanmar (16,8 juta ton), dan Filipina (12,1 juta ton).
"FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan tertinggi keempat bumi setelah India, China, dan Bangladesh," tegas Menteri Pertanian nan juga Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman.
Hal nan paling menonjol, Indonesia mencatat kenaikan produksi tertinggi di antara seluruh produsen utama dunia. Data FAO menunjukkan produksi beras Indonesia diprediksi melonjak dari 34,0 juta ton (2024/2025) menjadi 38,5 juta ton (2025/2026) alias naik 4,5 juta ton. Angka ini jauh melampaui kenaikan India (+1,7 juta ton), Bangladesh (+1,1 juta ton), dan China (+1,0 juta ton). Dari empat produsen terbesar dunia, hanya China dan Indonesia nan tumbuh positif.
Sesuai laporan tersebut juga, FAO memproyeksikan stok akhir beras Indonesia naik dari rata-rata 5,6 juta ton menjadi 7,5 juta ton (2025/2026) dan 7,8 juta ton (2026/2027). FAO menyebut penebalan stok Indonesia sebagai salah satu aspek nan menopang stabilitas persediaan beras dunia, nan pada akhir 2026/2027 diperkirakan mencapai 213,8 juta ton, rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah.
Laporan FAO pelemahan produksi di sejumlah negara tersebut tidak lepas dari dua tekanan besar nan sekarang membayangi petani dunia, ialah anomali suasana El Nino dan krisis pupuk global. Sejak bentrok di Timur Tengah menutup Selat Hormuz pada akhir Februari 2026, jalur nan menampung hingga sepertiga perdagangan pupuk dunia, nan kemudian disusul pembatasan ekspor pupuk nitrogen oleh China, nilai pupuk internasional melonjak tajam. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan ambruk lebih dari 95 persen, dan nilai urea bumi melonjak 40 hingga 60 persen hanya dalam hitungan minggu.
Dampaknya nyata di lapangan, terutama di negara-negara ASEAN nan berjuntai pada pupuk impor. Di Thailand, banyak petani memilih tidak menanam kembali lantaran biaya tak lagi tertutup hasil panen. The Washington Post (9 Mei 2026) menurunkan kisah Saithong Jamjai, petani di Suphan Buri nan baru saja memanen padi di lahan 19 hektare miliknya, namun memutuskan tidak menanam lagi karena lonjakan nilai pupuk dan bahan bakar membikin ongkos tanam membengkak.
Ketua Asosiasi Petani Padi Thailand, Pramote Charoensilp, memperingatkan petani terjebak "krisis gunting", ialah nilai urea menembus 1.200 baht per karung sementara nilai gabah hanya 5.000 hingga 6.000 baht per ton, lampau mendesak pemerintah turun tangan. Tekanan itu memantik kritik keras oposisi di parlemen atas pesan pemerintah nan berubah-ubah soal kesiapan pupuk, sementara lima kapal pengangkut pupuk tertahan dan stok nasional menipis hingga hanya cukup sampai sekitar April.
Kondisi serupa terjadi di Filipina. Media internasional seperti Rappler dan Taipei Times (April 2026) melaporkan petani dataran tinggi Benguet, seperti Romeo Wagayan (57 tahun), membiarkan hasil panennya membusuk di ladang lantaran biaya panen, pupuk, dan transportasi lebih besar daripada nilai jual, sehingga mereka memutuskan tidak memanen sama sekali. Harga urea di Filipina dilaporkan melonjak hingga sekitar Php2.100 per karung pada bulan Juni 2026 dari sebelumnya Php1.380 di bulan Januari 2026. Gelombang dorongan pun mengalir ke pemerintah, dengan golongan tani seperti SINAG menyoroti lonjakan harga, sementara sejumlah senator menuntut anggaran tambahan hingga puluhan miliar peso untuk menyelamatkan petani dari ancaman kandas tanam.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia justru bergerak berlawanan arah. "Saat petani di negara tetangga menjerit, menunda tanam, apalagi menekan pemerintahnya lantaran pupuk langka dan mahal, nilai pupuk di Indonesia justru kami turunkan 20 persen. Bukan naik, tapi turun. Dan kami pastikan pupuk mudah diakses petani, tepat waktu, tepat jumlah, sampai ke desa," tegas Mentan Amran.
Penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen telah bertindak sejak 22 Oktober 2025, nan pertama sepanjang sejarah Republik Indonesia, mencakup seluruh jenis pupuk bersubsidi. Harga urea, misalnya, turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, dan NPK dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram. Kebijakan ini ditempuh tanpa menambah beban subsidi APBN, melainkan melalui efisiensi industri dan perbaikan tata kelola distribusi, sekaligus menambah volume pupuk subsidi hingga 700 ribu ton agar akses petani semakin luas.
"Inilah bentuk nyata keberpihakan negara kepada petani. Ketika petani di banyak negara menjerit lantaran pupuk langka dan mahal, petani Indonesia justru menikmati pupuk nan lebih murah dan lebih mudah didapat. Itulah salah satu kunci mengapa, di tengah El Nino dan gejolak global, produksi kita justru naik paling tinggi di dunia," ujar Amran.
"Pengakuan dari lembaga internasional ini adalah pengakuan atas kerja keras seluruh petani Indonesia. Inilah bukti keberhasilan program peningkatan produksi pangan nan kita jalankan bersama," pungkas Mentan Amran. (RO/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·