Di Kampus ITB, Duta Besar Singapura Berbagi Wawasan tentang Talenta Global

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Di Kampus ITB, Duta Besar Singapura Berbagi Wawasan tentang Talenta Global Ilustrasi(Dok ITB)

INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) menjadi tuan rumah sesi The Ambassador Talks nan menghadirkan Duta Besar (Dubes) Singapura untuk Indonesia, H.E. Kwok Fook Seng pada Kamis (4/6), di Nemangkawi Auditorium, Labtek XIX, SBM Freeport Building Lantai 6, Kampus ITB Ganesha. 

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara,  menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dubes Kwok. Ia menekankan pentingnya sesi tersebut dalam memperkuat kerja sama ASEAN sekaligus mendorong terjadinya brain circulation antarnegara. Hubungan kolaboratif antara ITB dan Singapura sendiri telah terjalin selama lebih dari tiga dasawarsa sejak 1993. 

“Saat ini, kerja sama tersebut mencakup beragam lembaga terkemuka, seperti National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), Singapore Management University (SMU), Singapore Institute of Technology (SIT), Temasek Polytechnic, LASALLE College of the Arts, AI Singapore, hingga mitra industri seperti Intel Technology Asia,” ungkapnya.

Tata juga mendorong mahasiswa untuk berpikir melampaui batas, memanfaatkan kesempatan internasional, membangun jejaring global, serta mengembangkan kompetensi nan dibutuhkan untuk menghadapi bumi nan terus berubah.

Singapura sebagai Mitra Strategis Jangka Panjang

Dalam pemaparannya, H.E. Kwok Fook Seng menyampaikan bahwa Singapura telah menjadi salah satu penanammodal asing terbesar di Indonesia selama lebih dari satu dekade. Dalam satu tahun terakhir, nilai investasi Singapura di Indonesia mencapai sekitar 20 miliar dolar AS. Ini mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan dan komitmen jangka panjang antara kedua negara, sekaligus membuka ruang nan luas bagi kerjasama akademik maupun industri.

"Saat ini beragam kesempatan bagi mahasiswa Indonesia di Singapura telah tersedia dan dapat dimanfaatkan sejak dini. “Pintunya sudah terbuka,” tuturnya.

Kwok mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan beragam jalur nan tersedia, mulai dari program pertukaran pelajar, summer school, program gelar ganda, hingga kesempatan magang dan penempatan kerja. “Mulailah lebih awal,” tegasnya.

Kwok menyebut, magang tidak hanya menjadi sarana memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga merupakan salah satu jalur rekrutmen nan banyak digunakan perusahaan untuk mengenali dan menilai calon talenta sebelum mereka lulus. Ia juga menyoroti sejumlah sektor nan diperkirakan bakal menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan dunia talent di masa depan, ialah energi, info dan kepintaran buatan (AI), keberlanjutan (sustainability) serta sektor jasa (services). Pada sektor energi, dia menilai Indonesia mempunyai potensi nan sangat besar, khususnya di bagian daya terbarukan. 

"Dengan potensi daya terbarukan nan mencapai sekitar 3.700 GW dan kebutuhan daya Singapura nan hanya sekitar 20 GW, terbuka kesempatan kerjasama nan luas dalam pengembangan daya hijau, perdagangan sertifikat daya terbarukan, hingga pasar karbon lintas negara," terangnya.

Menurut Kwok selain energi, info menjadi aset strategis nan semakin menentukan daya saing suatu negara. Oleh lantaran itu, mahasiswa perlu membangun keahlian kajian info nan kuat agar bisa menghasilkan penemuan dan mengambil keputusan berbasis bukti. Di bagian AI, Duta Besar Kwok mengingatkan bahwa pesatnya perkembangan teknologi menghadirkan kesempatan sekaligus tantangan. 

Mahasiswa kata Kwok, didorong tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga bisa menerapkannya untuk menyelesaikan beragam persoalan nyata sesuai bagian skill masing-masing. Ia juga menekankan pentingnya aspek keberlanjutan dalam pengembangan penemuan dan bisnis. Menurutnya, beragam tantangan global, seperti perubahan suasana dan transisi energi, memerlukan solusi nan berkepanjangan dan berakibat luas bagi masyarakat.

"Sementara itu, sektor jasa dipandang bakal terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan terhadap jasa berbasis pengetahuan, teknologi, pendidikan, kesehatan dan ekonomi digital. Sektor ini dinilai menawarkan kesempatan pekerjaan nan luas bagi generasi muda nan mempunyai keahlian kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah nan baik," terangnya.

Inovasi, Adaptasi Pasar dan Kekayaan Intelektual

Selain itu,  Kwok juga turut menyoroti tantangan nan sering dihadapi para pendiri startup generasi pertama, ialah kurangnya perhatian terhadap penyesuaian pasar lokal. Inovasi nan tidak disertai pemahaman terhadap karakter dan perilaku pasar setempat sering kali susah berkembang. Ia memberikan contoh gimana upaya kuliner perlu menyesuaikan produknya di setiap daerah, sementara startup digital perlu melakukan penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan pasar nan lebih spesifik dan kompetitif.

"Terkait kekayaan intelektual, saya mendorong mahasiswa dan peneliti untuk melindungi hasil invensinya melalui sistem nan tepat. Sekaligus aktif mengomersialisasikan dan membagikan penemuan guna menciptakan akibat nan lebih luas bagi masyarakat," sambungnya.

Menutup sesi diskusi, Kwok menegaskan bahwa keberhasilan di tingkat dunia tidak hanya ditentukan oleh keahlian teknis, tetapi juga oleh kualitas kemanusiaan, seperti empati, keahlian beradaptasi dan kepekaan terhadap kebutuhan pasar. Kwok mendorong mahasiswa untuk membangun fondasi keilmuan nan kuat, mengembangkan pendekatan lintas disiplin, serta memanfaatkan info untuk menghasilkan solusi secara sigap dan tepat. 

"Banyak tantangan nyata saat ini tidak dapat diselesaikan hanya dari satu perspektif akademik, melainkan memerlukan kerjasama beragam bagian ilmu," tandasnya.

Selain itu, dia membujuk mahasiswa untuk mempersiapkan diri menjadi bagian dari dunia talent nan bisa berkontribusi di tingkat internasional melalui penguasaan teknologi, pemahaman terhadap rumor keberlanjutan, serta keahlian beradaptasi di tengah perubahan nan cepat.

Melalui aktivitas The Ambassador Talks ini, mahasiswa ITB memperoleh wawasan mengenai kesempatan kerjasama internasional dan sektor-sektor strategis masa depan, sekaligus kompetensi nan diperlukan untuk berkontribusi dalam riset, inovasi, dan pembangunan berkepanjangan di tingkat global. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia