Jakarta -
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan kepemimpinan Indonesia dalam tindakan suasana dunia pada pertemuan The Coalition Senior Representatives Meeting di arena London Climate Action Week. Di hadapan para pemimpin dan delegasi internasional, Raja Juli menegaskan Indonesia sudah masuk fase baru penerapan pasar karbon.
"Indonesia sekarang resmi memasuki fase baru penerapan pasar karbon nan kredibel, transparan, dan berakibat besar melalui penguatan tata kelola sektor kehutanan," ujar Raja Juli dalam keterangannya, Sabtu (27/6/2026).
"Indonesia tidak lagi sekadar merancang kebijakan, melainkan telah melangkah jauh ke tahap penerapan praktis nan nyata di lapangan," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raja Juli menyebut kepemimpinan Indonesia di sektor kehutanan ini dibuktikan melalui publikasi Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 dan Nomor 7 Tahun 2026, sebagai patokan turunan dari Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025. Regulasi tersebut menjadi fondasi norma nan kuat untuk menjamin tata kelola, integritas lingkungan, serta kepastian izin bagi para penanammodal berkelanjutan.
"Sebagai bukti nyata dari kesiapan prasarana tersebut, Kementerian Kehutanan dijadwalkan menggelar upacara penyerahan Persetujuan Menteri sekaligus publikasi angsuran karbon sektor kehutanan dengan volume masif, mencapai lebih dari 30 juta ton CO₂e pada 6 Juli 2026," ujarnya.
Langkah besar ini, katanya, juga segera disusul dengan peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) pada 9 Juli 2026 sebagai prasarana utama pasar karbon nasional. Kehadiran SRUK bakal memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan pasar, sekaligus memberikan kepastian nan lebih besar bagi para developer proyek dan penanammodal global.
Bersamaan dengan peluncuran tersebut, beberapa proyek karbon kehutanan Indonesia juga bakal diregistrasikan di bawah standar nan diakui secara internasional. Lalu mempertegas kesiapan Indonesia mengelola potensi besar solusi berbasis alam mulai dari rimba tropis, lahan gambut, hingga mangrove, serta penjajakan teknologi masa depan seperti biochar dan CCUS.
Kemudian, Raja Juli juga membujuk bumi internasional untuk melakukan tiga tindakan kolektif bersama. Pendekatan ini, katanya, dimulai dengan mengirimkan sinyal kuat ke pasar mengenai peran krusial angsuran karbon berintegritas tinggi, mendorong korporasi dan lembaga finansial dunia mengintegrasikan angsuran karbon berbobot ke dalam strategi transisi suasana mereka.
"Serta memperkuat kerja sama internasional di bawah Article 6 Perjanjian Paris. Melalui kerjasama nan setara dan saling menghormati prioritas nasional, Indonesia menyatakan kesiapan penuh untuk bersinergi dengan seluruh mitra dunia demi mewujudkan ekosistem pasar karbon bumi nan lebih besar, kuat, dan terpercaya," katanya.
(azh/azh)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·