Di Depan Pemerintah-Pengusaha Eropa, Airlangga Ungkap Rencana Besar RI

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto datang dalam Brussels Economic Security Forum (BESF) di Belgia akhir pekan lalu. Dia menyampaikan rencana besar Indonesia ke depan di tengah dinamika global.

BESF merupakan forum tahunan nan diselenggarakan oleh European Policy Centre (EPC) dan menjadi salah satu forum utama di Brussel untuk membahas rumor keamanan ekonomi, ketahanan rantai pasok, perdagangan, investasi, teknologi, dan dinamika ekonomi global. Forum tersebut dihadiri oleh para pejabat tinggi Uni Eropa, pemerintah negara mitra, pelaku usaha, hingga media internasional.

Airlangga menyampaikan, Indonesia bisa menjaga ketahanan ekonomi dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen (year-on-year) pada triwulan I tahun 2026, inflasi nan tetap terkendali, serta persediaan devisa nan kuat dan surplus neraca perdagangan nan telah berjalan selama lebih dari 70 bulan berturut-turut.

Indonesia saat ini terus mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, pengembangan manufaktur, transformasi digital, dan ekonomi hijau. Indonesia juga terus memperkuat posisinya dalam rantai pasok global, termasuk pada sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan daya terbarukan.

Indonesia telah berkembang menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) bumi dengan menarik investasi dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara pada sektor produksi baterai, material katoda, hingga perakitan kendaraan listrik. Perkembangan tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan industri nasional, tetapi juga berkontribusi terhadap diversifikasi rantai pasok daya bersih dunia sehingga menjadi lebih handal dan berkelanjutan.

Indonesia juga terus mendorong transformasi digital sebagai salah satu pilar krusial dalam memperkuat keamanan dan ketahanan ekonomi nasional. Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan melampaui USD130 miliar dalam gross merchandise value (GMV) pada tahun 2025, menjadikan Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di area Asia Tenggara.

Selain itu, Indonesia juga terus memperkuat ketahanan daya sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi melalui pengembangan daya terbarukan domestik dan penerapan program biodiesel B50. Kebijakan tersebut diperkirakan bisa mengurangi impor bahan bakar hingga 4 juta kiloliter per tahun, sekaligus meningkatkan kemandirian daya nasional dan mendukung transisi menuju ekonomi nan lebih berkelanjutan

Menurut Airlangga, dinamika geopolitik dunia nan semakin kompleks memberikan tekanan baru terhadap sistem ekonomi internasional, mulai dari ketahanan rantai pasok hingga stabilitas perdagangan dan investasi. Kondisi tersebut menuntut hadirnya kerangka kerja sama nan lebih erat serta pentingnya membangun arsitektur ekonomi internasional nan tetap terbuka, inklusif, dan handal dalam menghadapi beragam tantangan global.

"Arsitektur ekonomi internasional saat ini jelas sedang mengalami perubahan. Pertanyaan nan lebih krusial adalah gimana kita dapat membangun kembali framework nan bisa mempertahankan faedah keterbukaan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi. Saya meyakini bahwa jawabannya bukan terletak pada decoupling, melainkan pada diversification. Bukan pada fragmentation, melainkan pada cooperation and partnerships," kata Airlangga

Airlangga memaparkan pendekatan Indonesia dalam memperkuat economic security dan ketahanan ekonomi nasional, sekaligus menyampaikan perkembangan kerja sama ekonomi Indonesia dan Uni Eropa, termasuk proses penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Penting memperkuat kerja sama internasional, mendorong diversifikasi rantai pasok global, serta mencegah fragmentasi ekonomi nan berpotensi menghalang pertumbuhan dan stabilitas perekonomian dunia.

Konflik di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah menunjukkan gimana gangguan geopolitik dapat dengan sigap berakibat pada rantai pasok, investasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia. Tren tersebut menunjukkan bahwa gangguan geopolitik dapat dengan sigap memicu peningkatan biaya, menurunkan investasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Kondisi tersebut mendorong banyak negara untuk menerapkan beragam kebijakan guna memperkuat keamanan ekonomi (economic security), antara lain melalui kebijakan industri, penyaringan investasi (investment screening), serta pengendalian ekspor (export controls) untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Airlangga juga menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memperluas kerja sama ekonomi melalui beragam perjanjian perdagangan strategis, termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Canada CEPA, dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA), serta proses aksesi Indonesia ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Sebagai personil ASEAN, G20, dan BRICS, serta melalui proses aksesi menuju OECD, Indonesia terus memperkuat perannya sebagai jembatan antara negara maju dan negara berkembang. Peran tersebut menjadi krusial dalam mendorong dialog, memperkuat kerja sama internasional, serta membangun solusi berbareng nan inklusif guna menghadapi beragam tantangan ekonomi global.

Rangkaian Brussels Economic Security Forum (BESF) ditutup oleh European Commissioner for Trade and Economic Security Maroš Šefčovič nan menegaskan pentingnya penguatan kerja sama internasional dalam menghadapi beragam tantangan ekonomi dan geopolitik global.

"Mari kita bekerja sama membangun kerangka keamanan ekonomi nan lebih baik, nan bisa memperkuat ketahanan sekaligus menjaga keterbukaan, inklusivitas, dan pertumbuhan nan berkepanjangan bagi semua," pungkasnya.

(mij/mij)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News