'Dewa Perang' AS Sambut Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Deal Kerja Sama

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Republik Indonesia secara resmi menyepakati babak baru dalam hubungan militer kedua negara dengan mengumumkan Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama alias Major Defense Cooperation Partnership (MDCP). Kesepakatan strategis ini diumumkan langsung oleh Menteri Urusan Perang AS, Pete Hegseth, saat menyambut kehadiran Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, dalam pertemuan bilateral di Pentagon, Senin waktu setempat.

Pembentukan MDCP ini diproyeksikan menjadi kerangka kerja utama untuk memajukan kerja sama pertahanan bilateral kedua negara. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas dan perdamaian di area Indo-Pasifik nan kian dinamis, sekaligus mencerminkan peran krusial Indonesia di mata bumi internasional.

Menteri Pete Hegseth menegaskan bahwa kunjungan delegasi Indonesia ke Pentagon merupakan bukti nyata dari hubungan keamanan nan terus bertumbuh secara aktif di antara kedua kementerian. Hegseth menyoroti intensitas kerjasama militer nan sudah melangkah sangat kuat selama ini.

Secretary of War Pete Hegseth hosts a bilateral meeting with Indonesia Minister of Defense Sjafrie Sjamsoeddin at the Pentagon, Washington, D.C., April 13, 2026. (DoW photo by U.S. Navy Petty Officer 1st Class Eric Brann)Foto: Office of the Secretary of War P/Petty Officer 1st Class Eric Bra
Secretary of War Pete Hegseth hosts a bilateral meeting with Indonesia Minister of Defense Sjafrie Sjamsoeddin at the Pentagon, Washington, D.C., April 13, 2026. (DoW photo by U.S. Navy Petty Officer 1st Class Eric Brann)

"Kunjungan Anda menunjukkan pentingnya hubungan keamanan nan terus berkembang - serta aktif dan bertumbuh - antara Departemen Urusan Perang dan Indonesia. Kemitraan ini mencerminkan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita, memperkuat daya tangkal kawasan, serta memajukan komitmen berbareng terhadap perdamaian melalui kekuatan," ujar Hegseth dalam sambutannya sebagaimana dituliskan Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, Selasa (14/4/2026).

Merespons perihal tersebut, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan komitmen penuh Indonesia untuk mempererat kerja sama nan telah terjalin selama puluhan tahun. Sjafrie menekankan bahwa penguatan hubungan ini bermaksud untuk memberikan akibat jangka panjang bagi kedua bangsa.

"Hari ini, kami datang sebagai delegasi Indonesia dengan semangat nan sangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan kita, nan kudu berkepanjangan bagi generasi mendatang di Indonesia dan Amerika Serikat. Kita bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional masing-masing," tegas Sjafrie Sjamsoeddin.

Kemitraan MDCP ini berpijak pada tiga pilar utama nan didasarkan pada prinsip kedaulatan nasional, ialah modernisasi organisasi militer dan penguatan kapasitas, training serta pendidikan militer profesional, dan latihan serta kerja sama operasional. Dalam pelaksanaannya, kedua negara sepakat untuk mengeksplorasi inisiatif teknologi mutakhir seperti pengembangan keahlian asimetris canggih, sistem otonom bawah laut, hingga kerja sama pemeliharaan dan perbaikan (overhaul) alutsista.

Selain urusan teknologi, AS dan Indonesia juga sepakat untuk meningkatkan intensitas training berbareng pasukan khusus. Hegseth juga secara unik memberikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia nan telah membantu proses pemulangan jenazah prajurit Amerika nan gugur pada masa Perang Dunia II.

"Saya menghargai support berkepanjangan Anda dalam membantu Amerika Serikat menemukan, memulangkan, dan melindungi jenazah prajurit kami nan bertempur berbareng Indonesia selama Perang Dunia II. Jadi, ini adalah awal dari babak baru dan misi berbareng bagi negara-negara besar kita," tambah Hegseth.

Dalam pernyataan resminya, Juru Bicara Utama Pentagon, Sean Parnell, menambahkan bahwa kedua pemimpin juga berkomitmen untuk memperluas kompleksitas latihan multilateral seperti Super Garuda Shield.

"Selain itu, AS memuji kepemimpinan Indonesia dalam Dewan Perdamaian serta peran aktif dalam Pasukan Stabilisasi Internasional nan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis global."

Secara historis, hubungan keamanan antara Jakarta dan Washington memang telah terjalin kuat selama lebih dari tujuh dasawarsa dengan konsentrasi pada stabilitas area Indo-Pasifik. Indonesia tercatat mempunyai nilai perjanjian aktif mencapai US$ 1,88 miliar (Rp 31,9 triliun) dalam sistem Penjualan Militer Asing (FMS) untuk pengadaan alutsista canggih seperti jet tempur F-16, helikopter Apache, hingga rudal Javelin dan Sidewinder.

Selain pengadaan alutsista, AS juga konsisten memberikan support biaya keamanan serta support peningkatan kapabilitas lembaga pertahanan bagi Indonesia. Kerja sama ini diperkuat dengan beragam latihan militer berbareng seperti Garuda Shield dan Cope West nan rutin digelar untuk memperkuat interoperabilitas antara TNI dan militer AS.

Di sisi lain, kerja sama strategis ini juga berangkaian erat dengan komitmen besar Indonesia di kancah internasional, terutama mengenai situasi di Timur Tengah. Indonesia telah menyatakan kesiapannya untuk mengirimkan 8.000 pasukan perdamaian ke Jalur Gaza, Palestina, sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap stabilitas global.

Pengiriman ribuan personel TNI ini dilakukan dalam kerangka Blue Ocean Project (BoP), sebuah inisiatif perdamaian nan diprakarsai dan dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump. Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu kontributor pasukan penjaga perdamaian terbesar di bawah mandat internasional nan sekarang bersinergi dengan prakarsa keamanan ketua AS.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News