Dengarkan Aspirasi Buruh-Ojol, Ibas Kawal Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta - Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) berbincang langsung dengan ratusan pekerja, buruh, pelaku UMKM, dan pengemudi ojek online di Kabupaten Trenggalek. Dialog ini dilakukan dalam agenda Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan MPR RI berjudul 'Buruh Kuat, Serikat Bersatu, Indonesia Maju Sejahtera'.

Pada aktivitas ini, beragam aspirasi disampaikan mulai dari kondisi lapangan kerja, perlindungan sosial, kesejahteraan pekerja, hingga angan masyarakat mini agar terus mendapat perhatian negara.

Ibas menilai persoalan ketenagakerjaan bukan sekadar nomor pertumbuhan ekonomi semata. Di baliknya, ada perjuangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, hingga menjaga angan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik dari hari ke hari.

"Selamat Hari Buruh 1 Mei 2026. Semoga para pekerja semakin sehat, kuat, maju, dan semakin sejahtera untuk Indonesia nan kita cintai bersama," ujar Ibas dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).

Ibas pun membujuk masyarakat untuk terus berterima kasih atas kesempatan bekerja dan hidup tenteram di tengah beragam tantangan ekonomi nan dihadapi saat ini. Namun menurutnya, rasa syukur juga kudu dibarengi dengan keberpihakan negara terhadap kesejahteraan para pekerja.

Sebagai Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII, Ibas menegaskan bakal terus mengawal izin ketenagakerjaan agar berpihak pada pekerja dan bisa menciptakan keseimbangan nan sehat antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah.

"Pemerintah daerah, pekerja, dan pengusaha kudu terus berdialog. Tiga unsur ini tidak bisa berdiri sendiri dalam membangun kesejahteraan bersama," ungkap Ibas.

Ibas menegaskan setiap keresahan masyarakat kudu dijawab dengan solusi dan program nyata nan bisa langsung dirasakan manfaatnya. Mulai dari akses KUR untuk pekerja dan pelaku upaya kecil, program training dan peningkatan kapabilitas tenaga kerja, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, agunan persalinan bagi pekerja perempuan, hingga perlindungan agar tidak terjadi PHK sepihak.

"Kita tidak boleh hanya mendengar keluhan masyarakat tanpa menghadirkan jalan keluar. Negara kudu datang melalui program-program nan betul-betul membantu pekerja agar hidupnya lebih aman, lebih sehat, dan punya masa depan," tegasnya.

UMKM Dorong Hadirnya Program Ketenagakerjaan & Pemberdayaan Ekonomi

Di tengah dialog, bunyi pelaku UMKM turut menjadi perhatian. Salah satu peserta, Tania berambisi agar pelaku upaya mini juga mendapatkan perhatian dalam program-program ketenagakerjaan dan pemberdayaan ekonomi.

Ia pun menceritakan gimana dirinya berbareng pelaku UMKM lain terus berupaya memperkuat di tengah keterbatasan.

"Kami ini UMKM bukan pabrik besar. Kami mau terus tersentuh program-program ketenagakerjaan agar semangat kami terus menyala. Usia kami di UMKM ini juga sudah tua sehingga kami minta lebih diperhatikan. Kami tetap punya anak, punya cucu. Semangat kami sebagai wanita berdikari mau terus menyala, tapi kami juga terus butuh support dari pemerintah, dari Pak Ibas, dari dinas agar UMKM kami ini terus bisa mendapatkan perhatian, bukan pekerja nan ada di pabrik saja," tutur Tania.

Pernyataan tersebut membikin suasana perbincangan menjadi lebih hangat dan penuh empati. Banyak peserta terlihat mengangguk setuju, menggambarkan bahwa perjuangan masyarakat mini bukan hanya soal mencari penghasilan, tetapi juga mempertahankan angan hidup family mereka.

Menanggapi perihal itu, Ibas mengatakan negara kudu datang bukan hanya untuk pekerja formal, tetapi juga untuk masyarakat mini nan selama ini menopang ekonomi family melalui upaya mandiri.

"UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat. Semangat ibu-ibu dan para pelaku upaya mini ini luar biasa. Tugas kita berbareng adalah memastikan mereka tidak melangkah sendiri," kata Ibas.

Pekerja Informal Harpakan Perlindungan Kerja

Dalam perbincangan tersebut, Solidaritas Ojek Online Trenggalek Raya turut menyampaikan aspirasi mengenai angan agar pengemudi ojek online mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan cuma-cuma nan ditanggung pemerintah. Aspirasi itu disampaikan sebagai corak kebutuhan nyata pekerja informal nan rentan terhadap akibat kecelakaan kerja dan ketidakpastian penghasilan.

Menanggapi perihal ini, Ibas mengatakan pemerintah kudu terus mencari solusi terbaik agar pekerja informal seperti pengemudi ojol mendapatkan perlindungan nan lebih baik tanpa mengabaikan keberlangsungan ekosistem usaha.

"Keinginan Presiden agar potongan aplikator di bawah 10 persen tentu menjadi perhatian berbareng dan angin segar bagi teman-teman ojol. Tapi kita juga kudu mencari titik tengah nan adil. Misalnya bisa dipikirkan skema sekitar 9,5 persen untuk aplikator dan 9,5 persen untuk pekerja ojol, sehingga sama-sama tetap punya ruang nan sehat untuk bertumbuh dan tetap sesuai semangat keberpihakan kepada pekerja," jelasnya.

Menurut Ibas, usulan BPJS cuma-cuma bagi pengemudi ojol juga merupakan aspirasi krusial nan perlu terus dikaji dan diperjuangkan melalui kerjasama beragam pihak.

"Kita mau para pekerja dan teman-teman ojol bisa bekerja dengan tenang, sehat, dan punya perlindungan sosial nan baik. Jangan sampai mereka bekerja keras setiap hari tetapi tetap merasa sendirian menghadapi hidup," tuturnya.

Selain perlindungan kerja, Ibas juga menyoroti pentingnya pembuatan lapangan kerja baru nan betul-betul dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat daerah. Ia menyebut program-program pemerintah kudu bisa menghadirkan akibat nyata bagi ekonomi keluarga.

Salah satu nan disorotinya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui dapur SPPG nan dinilai dapat membuka banyak kesempatan pekerjaan baru di daerah.

"Kalau satu SPPG memerlukan sekitar 40 pekerja dan ada 100 SPPG di Trenggalek, berfaedah bisa tercipta ribuan lapangan pekerjaan baru. Jadi program ini bukan hanya soal makan bergizi, tetapi juga tentang membuka kesempatan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Ibas.

Ia mengatakan ketika lapangan kerja terbuka, daya beli masyarakat meningkat, usaha-usaha mini ikut bergerak, dan kondisi ekonomi wilayah menjadi lebih sehat. Ia menilai pertumbuhan ekonomi nan baik kudu bisa menciptakan rasa kondusif dan optimisme di tengah masyarakat.

"Kalau masyarakat punya pekerjaan, penghasilan meningkat, daya beli tumbuh, usaha-usaha melangkah baik, maka ekosistem ekonomi kita juga bakal semakin kuat. Pada akhirnya bangsa ini bisa lebih aman, stabil, dan sejahtera," jelasnya.

Ibas juga menekankan pentingnya perlindungan bagi pekerja perempuan, termasuk kewenangan libur hamil, agunan persalinan, dan agunan kesehatan kerja. Menurutnya, wanita nan bekerja kudu tetap mendapatkan rasa kondusif dan perlindungan nan layak.

"Kita mau para pekerja wanita juga bisa bekerja dengan aman, sehat, dan tetap punya masa depan nan baik untuk keluarganya," ujarnya.

Di akhir dialog, Ibas kembali mengingatkan bahwa membangun kesejahteraan pekerja memerlukan kerja sama semua pihak. Pemerintah, pengusaha, pekerja, dan masyarakat kudu melangkah berbareng agar pembangunan ekonomi tidak meninggalkan rakyat kecil.

"Pekerja nan kuat bakal melahirkan family nan kuat. Kalau family kuat, wilayah bakal maju, dan Indonesia bisa semakin sejahtera. Kita kudu terus saling mendukung dan tidak boleh menyerah menghadapi keadaan," ucap Ibas.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Trenggalek Christina Ambarwati Soemarno menyampaikan pemerintah wilayah terus berupaya memperluas perlindungan sosial bagi pekerja rentan, termasuk pengemudi ojek online dan penyandang disabilitas, melalui optimasi program BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan meski di tengah keterbatasan anggaran.

Ia menambahkan, pemerintah wilayah juga terus mendorong aktivitas bantuan dan kerjasama lintas pihak agar support sosial dapat menjangkau masyarakat hingga lapisan terbawah. (prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News