Dengar Kabar 116 Juta Warga RI Kurang Makan, Begini Respons Bos BGN

Sedang Trending 52 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan, tetap banyak masyarakat Indonesia nan mengalami kekurangan asupan gizi. Berdasarkan info Kementerian Kesehatan, sekitar 40% masyarakat nan berada pada golongan ekonomi terbawah tetap mengalami defisit kalori dan protein.

Menurut Sudaryono, kondisi tersebut menjadi salah satu argumen utama pemerintah terus memperkuat penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi golongan masyarakat nan paling membutuhkan.

"Jadi sebanyak kurang lebih 40% masyarakat Indonesia nan berada di kuintil 1 dan kuintil 2, itu mengalami kekurangan kalori dan protein," ujar Sudaryono saat konvensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Ia mengatakan, jika diperkirakan berasas jumlah penduduk, kondisi tersebut dialami sekitar 116 juta orang Indonesia.

"Mohon maaf, kasarnya kurang makan. Ini menyedihkan, tapi ini realita nan juga kudu kita hadapi bahwa 40% itu kira-kira 116 juta, 116 juta orang kita itu kemudian kurang makan, alias kasarnya lapar. Jadi nan dimakan lebih sedikit daripada aktivitas dia. Ini satu realita. Ini saya dapat datanya dari Kementerian Kesehatan," katanya.

Senada dengan itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan persoalan gizi tetap menjadi tantangan utama kesehatan di Indonesia. Menurutnya, andaikan program MBG melangkah efektif, maka beragam persoalan kesehatan masyarakat juga dapat ikut teratasi.

"Di mata Kementerian Kesehatan, masalah gizi adalah salah satu masalah utama kesehatan. Jadi jika program ini berhasil, banyak sekali masalah kesehatan nan bisa diselesaikan," ujar Budi saat konvensi pers di instansi Kemenko Bidang Pangan.

Selain kekurangan gizi, Budi juga mengingatkan adanya persoalan kelebihan gizi nan mulai banyak ditemukan, terutama pada golongan usia SMA hingga dewasa di wilayah perkotaan.

"Hasil cek kesehatan cuma-cuma kita sudah keluar, sampai dengan SMA itu sebagian besar anak-anak gizi kurang. Ada catatan sedikit, gizi nan lebih juga ada, terutama jika SMA ke atas dan dewasa di perkotaan. Gizi nan lebih itu juga tidak baik, ya, tapi sebagian besar tetap gizi nan kurang," terang dia.

Sudaryono Respons Soal Tunggakan Rp1,6 Triliun

Sudaryono buka bunyi mengenai tunggakan pembayaran kepada mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG), nan nilainya disebut mencapai Rp1,6 triliun. Ia menegaskan, penyelesaian tunggakan tersebut tetap menunggu proses audit agar seluruh pembayaran dilakukan sesuai sistem nan berlaku.

Sudaryono pun menekankan persoalan tersebut bukan utang baru, melainkan tunggakan nan saat ini sedang diperiksa auditor. Menurutnya, pembayaran baru bakal dilakukan andaikan hasil audit telah dinyatakan bersih dan jelas.

"Mengenai utang, ini, tunggakan lah bukan utang ya, tunggakan ini ranah dari auditor, sedang diaudit, manakala clean and clear, ya saya kira dibayar. Saya nggak ada 'oh nan ini mesti kubayar sendiri', nggak bisa, ya saya nggak mau itu. Semuanya trust in system (percaya kepada sistem nan berlaku), ya. Tidak trust in person," kata Sudaryono.

Ia menjelaskan, penyelesaian tunggakan sepenuhnya mengikuti sistem dan sistem nan berlaku. Proses tersebut juga melibatkan Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari nan berasal dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

"Bu Waka (Wakil Kepala BGN) saya, Bu Arumsari adalah kiriman dari BPKP, saya kira beliau nan in charge. Kita mau nan sah, nan bagus, nan benar, sesuai dengan mekanisme, nan mana itu nan kita selesaikan. Saya kira no issue, nggak ada masalah," ujarnya.

Di sisi lain, Sudaryono mengakui pemerintah tidak bisa terlalu lama menyelesaikan beragam persoalan administrasi, lantaran program MBG menyasar golongan nan memerlukan support secepatnya.

"(Terkait) nan tenggat waktu itu masalahnya begini, kenapa kok dikasih waktu? Masalahnya kan tidak bisa lama-lama. Ya, anak-anak nan memerlukan itu tidak bisa disuruh nunggu lama. Ibu-ibu mengandung itu nggak bisa nunggu, 'ibu hamilnya diperpanjang ya, jangan 9 bulan jika bisa', nggak bisa. Butuhnya sekarang," tutur Sudaryono.

Karena itu, dia menegaskan BGN berpacu dengan waktu untuk membereskan seluruh persoalan nan ada agar bisa konsentrasi menjalankan program makan bergizi cuma-cuma secara optimal.

"Jadi ini kami ini selalu mengatakan ibaranya pesaing utama kami ini adalah waktu. We are racing against time. Jadi kita sedang berkompetisi dengan waktu, gimana semua persoalan bisa kita selesaikan segera satu persatu, beres-beres-beres-beres-beres sehingga kita bisa jump in kepada materi-materi lain nan memang.. kita ini kan nggak cukup mengurusi begini-begini saja ya. Urusan kita besar, banyak dan banyak sekali orang nan sangat berambisi dengan kiprah dan keahlian kita," pungkasnya.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News