KEMAMPUAN bahasa asing sekarang menjadi kebutuhan krusial bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam menghadapi persaingan kerja di level global. Melalui Program Sertifikasi Bahasa Asing Murid SMK Tahun 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen memperluas kesempatan siswa SMK untuk bekerja, magang, hingga melanjutkan studi ke luar negeri.
Program strategis ini dijalankan melalui dua skema utama. Pertama, sertifikasi bahasa asing non-Bahasa Inggris nan mencakup Bahasa Arab, Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, dan Prancis. Kedua, sertifikasi Bahasa Inggris melalui standar internasional TOEIC (Test of English for International Communication).
Target Sasaran dan Jangkauan Program
Hingga saat ini, program sertifikasi non-Bahasa Inggris telah menjangkau lebih dari 120 SMK dengan sasaran lebih dari 13 ribu siswa di beragam wilayah Indonesia. Sementara itu, untuk sertifikasi TOEIC, pemerintah menetapkan sasaran nan lebih masif.
Target Sertifikasi TOEIC 2026:
- Jumlah Murid: Sekitar 170.000 peserta
- Jumlah Sekolah: Lebih dari 800 SMK di seluruh Indonesia
Sebagai langkah penguatan, Kemendikdasmen menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Bantuan Pemerintah Program Sertifikasi Bahasa Asing Murid SMK Tahun 2026 Tahap 2 guna memastikan penyelenggaraan program melangkah ahli dan tepat sasaran.
Mencetak SDM Berkompetensi Global
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa SMK mempunyai posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) nan siap menjawab kebutuhan industri global.
"Kami mau lulusan SMK Indonesia mempunyai kompetensi dunia dan bisa bersaing di bumi internasional. Mereka kudu siap bekerja, berkarya, dan menunjukkan kualitas anak bangsa di mana pun berada," ujar Abdul Mu’ti dalam keterangannya, Jumat (22/5).
Ia menambahkan bahwa penguasaan bahasa asing bakal meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam membuka kesempatan baru di kancah internasional, sekaligus membawa gambaran positif bagi Indonesia.
Bahasa Sebagai Jembatan Masa Depan
Senada dengan perihal tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menilai bahwa piagam saja tidak cukup di bumi kerja modern. Kemampuan komunikasi dan penyesuaian di lingkungan internasional menjadi nilai tambah nan sangat menentukan.
"Bahasa menjadi jembatan masa depan. Karena itu, lulusan SMK kudu percaya diri untuk bersaing, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga internasional," kata Tatang.
Pemerintah berupaya memastikan lulusan SMK tidak hanya unggul dalam keahlian teknis (hard skills) sesuai bagian keahliannya, tetapi juga dibekali dengan soft skills dan keahlian bahasa nan mumpuni. Melalui ekspansi program ini, diharapkan lulusan SMK mempunyai keberanian untuk berkontribusi nyata dalam kemajuan Indonesia di panggung dunia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·