Ilustrasi.(Magnific)
PERGESERAN pasar terjadi lebih sigap dari nan diperkirakan banyak orang dan tidak banyak penanammodal nan seberani Kevin O'Leary dalam menyuarakannya. Melalui beragam wawancara dan media sosial, bintang Shark Tank ini berulang kali memperingatkan bahwa seluruh kategori upaya mungkin tidak bakal memperkuat dalam 10 tahun ke depan jika mereka kandas beradaptasi.
Bagi pekerja, investor, dan pemilik upaya kecil, peringatan ini sangat krusial. Memahami letak akibat saat ini dapat membantu Anda mempersiapkan diri secara finansial dan menghindari terjebak dalam industri nan sedang merosot. Berikut delapan jenis upaya nan menurut O'Leary paling berisiko punah.
1. Ruang Kantor Tradisional dan Real Estat Komersial
O'Leary sangat pesimistis terhadap gedung perkantoran. Argumennya, peralihan ke kerja hibrida bukanlah kejadian sementara. Ia memperingatkan bahwa banyak properti tidak dapat digunakan lagi sebagai ruang instansi lantaran ekonomi berubah. Ini merujuk pada tingkat kekosongan nan mencapai 40% di beberapa kota besar.
Masalah utamanya adalah permintaan. Semakin sedikit pekerja nan berangkat setiap hari berfaedah kebutuhan bakal ruang instansi terpusat semakin berkurang. Tanpa pembalikan tren nan besar, pemilik gedung bakal kesulitan mengisi ruang, membiayai kembali utang, alias membenarkan valuasi mereka.
2. Bisnis nan Mengabaikan Kecerdasan Buatan (AI)
O'Leary menegaskan bahwa mengambil AI bukan lagi pilihan. Ia menyatakan dengan jelas bahwa AI tidak lagi opsional. Ia menambahkan bahwa perusahaan nan tidak menggunakannya sudah tertinggal. Ia memandang AI sebagai standar dasar, bukan sekadar tren sesaat.
Dari otomatisasi alur kerja hingga peningkatan penargetan pelanggan, AI menjadi kelebihan biaya dan efisiensi. Bisnis nan menolak teknologi ini berisiko kalah saing dalam perihal margin dan inovasi.
3. Restoran Fisik di Pusat Kota
Meskipun upaya restoran selalu menantang, O'Leary percaya lingkungannya berubah secara fundamental. Ia mencatat bahwa pengguna belum kembali ke pola sebelum pandemi, terutama di area pusat kota saat lampau lintas pekerja instansi sangat rendah.
Di saat nan sama, kenaikan biaya bahan baku dan tenaga kerja--yang dia sebut sebagai virus inflasi--menekan margin keuntungan. Restoran nan sangat berjuntai pada kerumunan makan siang alias lampau lintas pejalan kaki nan tinggi menghadapi tantangan berat selain mereka mengubah model bisnisnya.
4. Perusahaan nan Memaksa Kerja Kantor Penuh Waktu
O'Leary secara blak-blakan menyatakan bahwa kubikel sudah mati. Ia beranggapan bahwa memaksa tenaga kerja kembali ke lingkungan instansi nan kaku bisa menjadi bumerang, terutama untuk peran nan memerlukan keahlian tinggi.
Menurut pandangannya, talenta terbaik saat ini lebih memilih fleksibilitas. Perusahaan nan bersikeras pada kerja instansi penuh waktu mungkin bakal membatasi kumpulan calon tenaga kerja mereka dan berhujung dengan tim nan kurang kompetitif.
5. Bisnis Produksi Film nan Bergantung pada Pemeran Ekstra Tradisional
Industri intermezo pun tidak luput dari risiko. O'Leary menyoroti biaya produksi film, mencatat bahwa segmen dengan jumlah pemeran ekstra nan besar bisa menyantap biaya jutaan dolar. Ia menyarankan bahwa AI dapat menggantikan kebutuhan tersebut dengan biaya nan jauh lebih murah.
Poin utamanya adalah efisiensi. Ketika teknologi dapat mereplikasi sesuatu dengan biaya nan sangat kecil, industri nan dibangun di atas model lama kudu beradaptasi dengan sigap agar tidak kalah bersaing.
6. Proyek Token Kripto Spekulatif
O'Leary sangat skeptis terhadap proyek mata uang digital kecil, memperingatkan bahwa banyak token tidak mempunyai utilitas nyata. Dalam pandangannya, sebagian besar dari mereka pada akhirnya bakal berbobot nol.
Itu tidak berfaedah dia menentang mata uang digital secara keseluruhan. Namun dia menarik garis tegas antara aset nan sudah mapan dengan nan berkarakter spekulatif. Proyek tanpa kasus penggunaan nan kuat bakal kesulitan memperkuat seiring pasar nan semakin matang.
7. Bisnis nan sangat Bergantung pada Rantai Pasokan Tiongkok
Risiko geopolitik merupakan hal lain nan disoroti O'Leary. Ia beranggapan bahwa tarif terhadap Tiongkok semestinya jauh lebih tinggi dan mengkritik struktur hubungan perdagangan saat ini. Ia menemukan bahwa banyak upaya di Tiongkok tidak mematuhi patokan nan disepakati, ditambah dengan kesulitan litigasi di pengadilan setempat.
Bagi bisnis, perihal ini menimbulkan ketidakpastian. Perusahaan nan sangat berjuntai pada manufaktur luar negeri di wilayah sensitif dapat menghadapi kenaikan biaya dan gangguan pasokan nan tidak terduga.
8. Bisnis dengan Disiplin Arus Kas nan Lemah
Tema nan selalu ditekankan O'Leary adalah disiplin. Ia memperingatkan bahwa perusahaan nan menguntungkan sekalipun bisa kandas jika tidak mengelola kas dengan hati-hati. Ia merekomendasikan pemilik upaya untuk tetap fleksibel, melakukan pivot, dan menjaga kas sampai Anda mengetahui kecepatan nyata bisnis.
Pertumbuhan dan branding tidak bakal berfaedah jika perusahaan tidak dapat mengelola finansial sehari-hari. Seiring waktu, kontrol kas nan jelek dapat menghancurkan upaya nan sebenarnya mempunyai potensi kuat.
Kesimpulan: Benang merah dari peringatan Kevin O'Leary adalah adaptasi. Bisnis nan kandas menyesuaikan diri dengan teknologi alias tekanan biaya mungkin tidak bakal lenyap dalam semalam, tetapi bakal mengalami penurunan secara perlahan. Fokus pada perusahaan nan adaptif dan mempunyai arus kas nan kuat adalah kunci untuk menjaga stabilitas finansial dalam jangka panjang. (FinanceBuzz Money/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·