Jakarta -
Aipda Bahruddin Azhari mengabdi sebagai Bhabinkamtibmas untuk melayani penduduk di Desa Pulau Maringkik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Aipda Bahruddin dinilai tidak hanya menjaga keamanan setempat, tapi juga ikut mendukung kebutuhan masyarakat di sana.
Atas dedikasinya, Aipda Bahruddin diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Ia telah mengabdi di salah satu pulau mini di NTB itu sejak 2021.
Salah satu penduduk nan menceritakan dedikasi Aipda Bahruddin ialah penduduk Maringkik berjulukan Rizal. Ia mengenal Aipda Bahruddin sebagai polisi nan sigap dalam membantu masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beliau langsung datang sendiri mendampingi masyarakat nan bersangkutan, misalnya nan bermasalah alias nan minta tolong, alias masyarakat sendiri nan datang ke rumahnya beliau gitu kadang. Iya, jadi memang aktif orangnya," kata Rizal saat dihubungi.
Rizal mencontohkan ketika ada peringatan cuaca jelek dari BMKG. Aipda Bahruddin langsung meneruskan info itu ke penduduk Pulau Maringkik lewat grup WhatsApp.
"Sambil bertanya gimana kondisi desa Pulau Maringkik gitu. Kalau menurut saya pribadi orangnya sangat bertanggung jawab," ujar dia.
Aipda Bahruddin juga aktif dalam beragam aktivitas kemasyarakatan. Dia ikut membantu semua aktivitas nan digelar penduduk agar melangkah sukses dan lancar.
"Jadi memang menurut saya selama ini ya, sepengetahuan saya ya emang orangnya bertanggung jawab dan sigap," tutur Rizal.
Dihubungi terpisah, Aipda Bahruddin menceritakan mengenai tugasnya di pulau dengan dua ribuan masyarakat tersebut. Desa Maringkik termasuk pulau terpencil dengan jumlah masyarakat terpadat.
Aipda Bahruddin sendiri saat ini berdomisili di Montong Belae, Keruak, Lombok Timur. Untuk pergi menuju Pulau Maringkik, dia kudu menggunakan perahu dari Tanjung Luar.
Dia biasa menumpang perahu nelayan nan bakal pulang ke Pulau Maringkik. Biasanya para nelayan menjual hasil tangkapannya itu di Tanjung Luar.
"Estimasi perjalanan dari Tanjung Luar ke Pulau Maringkik bisa dibilang untuk perjalanannya saja sekitar 25 menit. Tapi lantaran menunggu penumpang-penumpang nan lain jadinya bisa dikategorikan sampai ya 35 menitan lah," kata Aipda Bahruddin.
Namun perihal itu kerap menjadi hambatan ketika dirinya menerima info mendadak dari penduduk nan meminta bantuan. Dia kudu segera mencari perahu nan bisa membawanya pergi ke Pulau Maringkik.
"Ya mungkin bisa kita bilang dalam perihal membantu masyarakat misalnya, masyarakat pada saat malam hari lantaran butuh support ambulans. Jadi otomatis mana nan terdekat nan dihubungi melalui koordinasi dengan bidan, dengan puskesmas, akhirnya saya berkoordinasi dengan puskesmas untuk meminjam ambulans untuk menjemput penduduk nan memerlukan support nan bakal dibawa ke puskesmas terdekat lantaran support darurat darurat," tutur dia.
Aipda Bahruddin menjelaskan pengabdiannya di Pulau Maringkik berfokus pada pembinaan keamanan dan ketertiban, serta aktivitas sosial untuk membantu kebutuhan masyarakat. Dalam melaksanakan kegiatannya, Aipda Bahruddin selalu berkomunikasi dan melibatkan seluruh komponen terkait.
"Bisa kita bilang pada saat ada urgen untuk pengamanan penyelenggaraan kegiatan, mau tidak mau kami kudu berangkat dengan perangkat seadanya walaupun dengan menggunakan keterbatasan transportasi ke sana, nan krusial masyarakat di sana merasa terlayani masalah keamanannya," kata Bahruddin.
Adapun aktivitas nan dilakukan Aipda Bahruddin itu meliputi penyuluhan, sambang desa hingga sumbangsih saran kepada masyarakat. Dia mengaku kerap menampung aspirasi dan keluhan warga.
"Mungkin lantaran kita menjadi penampung aspirasinya, kita mempunyai semacam pemikiran-pemikiran nan bisa menjadi solusi bagi mereka di situ gitu," kata Aipda Bahruddin.
Selain itu, Aipda Bahruddin juga ikut mendukung ketahanan pangan dengan mendorong penduduk untuk memanfaatkan pekarangan kosong. Dia berterima kasih program tersebut dapat melangkah meskipun tetap ada kendala.
"Saat ini alhamdulillah di sana ada pekarangan kosong nan ditanami sama masyarakat berupa pisang, pisang dan lain-lain. Tapi kendalanya kami di sana ketika kami mau mengadakan apa alias masyarakat kami hambatan masyarakat kami di situ untuk bercocok tanam kendalanya sama hewan ternak kambing ini. Karena kambing tidak mempunyai kandang di situ. Itu merupakan keluhannya masyarakat di situ sehingga mau tidak mau lahan kosong ini kudu betul-betul dipagar tempatnya gitu," tutur Aipda Bahruddin.
Hal lain nan dilakukan Aipda Bahruddin ialah memberikan imbauan kepada penduduk untuk tidak mengambil pasir laut secara ilegal. Hal itu dikarenakan jumlah pasir nan didatangkan dari Lombok bisa mencapai tiga kali lipat lebih mahal.
"Misalnya pembeliannya di pulau Lombok Rp 800.000 untuk ke sampai wilayah tempat itu mereka menghabiskan biaya sekitar Rp 3 juta, Rp 3 jutaan gitu. Nah sehingga mungkin mereka di situ alternatifnya mau mencari pasir lantaran pasir menurut nan di sana tetap kita bilang alami," ujar Aipda Bahruddin.
Dia melarang penduduk untuk mengambil pasir karena bakal berakibat terhadap lingkungan. Menurut Bahruddin, jumlah penduduk nan mengambil pasir sekarang semakin menurun berkah aktivitas edukasi nan dilakukannya itu.
"Jadi kami menghimbau dan melarang melakukan pelarangan kepada masyarakat setempat untuk mengambil pasir lantaran dampaknya nan bakal ditimbulkan itu bukan hanya akibat kepada dia apa bagi oknum nan mengambil pasir cuman dampaknya kepada masyarakat dan ikan nan ada," kata Aipda Bahruddin.
Selanjutnya, Aipda Bahruddin juga pernah menyelesaikan persoalan antarkampung di sana. Dia berkoordinasi dengan para tokoh setempat untuk meredam agar situasi tidak semakin memanas.
"Kita berjumpa langsung dengan beberapa tokohnya, lantaran tokoh-tokoh nan di sana nan itulah nan peran krusial para tokoh masyarakat ketika ada persoalan bisa kita berkoordinasi, bekerja sama untuk menyelesaikan secara kekeluargaan agar masalah apa nan ada di sana tidak meluas gitu," kata dia.
(knv/lir)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·