Darurat Kesehatan dalam Bayang-Bayang Krisis Iklim Global

Sedang Trending 32 menit yang lalu
Ilustrasi perubahan iklim. Foto oleh Li-An Lim on Unsplash

Pada tahun 2024, untuk pertama kalinya dalam sejarah pencatatan modern, rata-rata suhu tahunan dunia melampaui periode 1,5 derajat Celsius di atas suhu era pra-industri. Bukan sekadar rekor statistik, nomor itu adalah sinyal ancaman bagi kesehatan miliaran manusia. Romanello et al. (2025) dalam laporan tahunan kesembilan Lancet Countdown on Health and Climate Change nan diterbitkan di The Lancet mencatat bahwa tingkat kematian akibat panas telah meningkat 23 persen sejak dasawarsa 1990-an, mendorong rata-rata 546.000 kematian per tahun. Rata-rata setiap orang di bumi terpapar 16 hari panas rawan pada 2024 nan tidak bakal terjadi tanpa perubahan iklim.

Perubahan suasana bukan lagi ancaman masa depan. Ia adalah darurat kesehatan publik nan sedang berjalan sekarang, di setiap negara dan di setiap lapisan masyarakat. Romanello et al. (2024) dalam laporan kedelapan Lancet Countdown melaporkan bahwa 10 dari 15 parameter pemantauan ancaman kesehatan mencapai rekor mengkhawatirkan.

Pada 2023, manusia terpapar rata-rata 50 hari lebih banyak suhu menakut-nakuti kesehatan dibandingkan jika suasana tidak berubah, dan kekeringan ekstrem melanda 48 persen wilayah daratan global. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres merespons laporan tersebut dengan tegas: emisi nan terus memecahkan rekor sedang menimbulkan ancaman kesehatan nan memecahkan rekor pula.

Di antara ancaman nan paling nyata adalah ekspansi penyakit bawaan vektor. Perubahan suhu dan pola curah hujan memperluas kediaman nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles ke wilayah-wilayah nan sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Sebuah studi proyeksi nan diterbitkan di The Lancet Planetary Health memperkirakan bahwa tambahan 4,7 miliar orang berpotensi berisiko terpapar malaria dan dengue pada tahun 2070 akibat perubahan suasana (Wellcome, 2024).

Bagi Indonesia, nomor ini bukan abstraksi: Kementerian Kesehatan RI (2026) mencatat bahwa perubahan suhu dan pola curah hujan diperkirakan bakal meningkatkan penularan penyakit nan ditularkan melalui vektor seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD), nan siklus hidup nyamuk vektornya menjadi lebih sigap dalam kondisi cuaca nan tidak stabil.

Polusi udara adalah wajah lain dari krisis suasana nan sama. Pembakaran bahan bakar fosil tidak hanya memanaskan planet, tetapi juga mengotori udara nan dihirup miliaran orang setiap hari. Kementerian Kesehatan RI (2025) dalam arsip Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Kesehatan 2025-2030 mencatat bahwa sekitar 45 persen kematian anak akibat jangkitan saluran pernapasan bawah akut di Indonesia disebabkan oleh polusi udara rumah tangga. Di tingkat global, WHO (melalui laporan Lancet Countdown 2025) mencatat bahwa pengurangan polusi dari batu bara saja telah menghindari rata-rata 160.000 kematian awal per tahun antara 2010 dan 2022, sebuah bukti langsung bahwa tindakan suasana adalah tindakan kesehatan.

Ada dimensi nan sering luput dari perbincangan: hilangnya keanekaragaman hayati akibat perubahan suasana memperlemah ketahanan ekosistem nan menjadi penyangga kesehatan manusia. Ketika ekosistem terganggu, spillover zoonosis, ialah perpindahan patogen dari hewan ke manusia, menjadi lebih mungkin terjadi. Keslan Kemenkes RI (2024) mengingatkan bahwa perubahan suasana mempengaruhi aspek lingkungan seperti kualitas air, udara, dan makanan, sekaligus meningkatkan akibat penyakit zoonosis dan penyakit bawaan air nan memperparah beban sistem kesehatan nasional.

Indonesia berada di posisi nan sangat rentan. Sebagai negara kepulauan tropis dengan kepadatan masyarakat tinggi dan beban penyakit jangkitan nan sudah berat, setiap derajat kenaikan suhu dunia memperburuk kondisi nan sudah ada. Kementerian Kesehatan RI (2025) memproyeksikan kematian mengenai panas bakal meningkat menjadi sekitar 53 kematian per 100.000 masyarakat pada tahun 2080 jika tidak ada tindakan penyesuaian nan signifikan. Ini bukan skenario terburuk nan jauh di masa depan; ini adalah lintasan nan sedang kita jalani sekarang.

Kabar baiknya adalah bahwa tindakan suasana dan tindakan kesehatan menunjuk ke arah nan sama. Romanello et al. (2025) mencatat bahwa pertumbuhan daya terbarukan mencapai rekor 12 persen dari listrik dunia pada 2024, menciptakan 16 juta lapangan kerja, sekaligus mengurangi polusi udara nan membunuh. Dua pertiga mahasiswa kedokteran di seluruh bumi sudah menerima pendidikan tentang suasana dan kesehatan pada 2024, sebuah pergeseran paradigma nan krusial meski tetap perlu dipercepat.

Masalahnya adalah kecepatan. Investasi terus mengalir ke bahan bakar fosil. Emisi tetap memecahkan rekor. Dan sementara itu, nyamuk terus memperluas wilayah jelajahnya, udara terus memburuk, dan orang-orang terus jatuh sakit lantaran penyakit nan semestinya bisa dicegah. Kemenkes RI telah melangkah dengan Rencana Aksi Nasional 2025-2030, tetapi rencana di atas kertas hanya berarti jika ada penerapan di lapangan, anggaran nan memadai, dan komitmen lintas sektor nan tidak berakhir di pertemuan koordinasi.

Perubahan suasana bukan krisis lingkungan semata. Ia adalah krisis kesehatan dengan wajah nan sudah dikenali: bangsal rumah sakit nan penuh di musim penghujan, anak-anak dengan gangguan pernapasan di kota-kota berpolusi, dan lansia nan tidak selamat dari gelombang panas. Kita sudah tahu penyebabnya. nan kurang bukan pengetahuan, melainkan keberanian untuk bertindak cukup cepat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan