Bagi sebagian masyarakat Kalimantan Barat, Rabu terakhir di bulan Safar bukanlah hari biasa. Ada satu tradisi nan selalu datang dan diwariskan dari generasi ke generasi: Robo-Robo.
Tradisi ini dikenal sebagai ritual tolak bala nan diisi dengan angan berbareng untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari musibah. Robo-Robo juga tidak lepas dari sejarah kehadiran Opu Daeng Menambon ke Mempawah pada 1737. Dalam perkembangannya, tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu dan Bugis di Kalimantan Barat, termasuk masyarakat pesisir di Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Namun, siapa sangka tradisi nan awalnya lekat dengan nilai spiritual tersebut sekarang perlahan mempunyai wajah baru?
Robo-Robo Sungai Kakap: Dari Tradisi hingga Wisata Budaya
Pada Rabu, 12 Agustus 2026, saya berkesempatan datang langsung ke area Pasar Sungai Kakap untuk memandang seremoni Robo-Robo. Dari pagi, area ini sudah dipenuhi masyarakat nan datang untuk mengikuti sekaligus menyaksikan rangkaian kegiatan.
Yang saya lihat bukan hanya sebuah ritual tahunan.
Saya memandang sebuah tradisi nan sedang berkembang.
Dari Doa Bersama hingga Pesta Budaya
Suasana semakin ramai ketika rombongan Bupati Kubu Raya, Sujiwo, tiba di lokasi. Kedatangannya disambut dengan beragam pertunjukan, mulai dari hadrah, drumben, barongsai, hingga palang pintu nan ditampilkan Perguruan Pukul Tujuh Silat Kampung.
Berbagai pagelaran tari juga ikut menghidupkan suasana.
Di tengah keramaian tersebut, saya memandang masyarakat dari beragam latar belakang ikut menikmati rangkaian acara. Ada nan datang untuk mengikuti tradisi, ada nan menikmati pertunjukan, dan ada pula nan sekadar mau merasakan suasana Robo-Robo secara langsung.
Hal ini menjadi salah satu perihal nan menurut saya menarik.
Robo-Robo tidak lagi hanya menjadi seremoni nan identik dengan golongan masyarakat tertentu. Di Sungai Kakap, tradisi ini berkembang menjadi ruang pertemuan beragam golongan masyarakat.
Bahkan, Anggota Komisi V DPR RI Syarif Abdullah Alkadrie menilai Robo-Robo sekarang menjadi ruang sinergi beragam budaya dan etnis di Sungai Kakap.
Ketika Tradisi Mulai Dikemas Lebih Modern
Ada perubahan nan cukup terasa dalam penyelenggaraan Robo-Robo tahun ini.
Pemerintah Kabupaten Kubu Raya melakukan penataan area agar aktivitas berjalan lebih tertib, nyaman, dan aman. Pelaku UMKM juga mendapatkan tenda secara gratis, sementara lapak kuliner dan lelong ditata agar area pagelaran terlihat lebih rapi.
Bagi saya, perubahan ini menarik lantaran memperlihatkan gimana sebuah tradisi bisa beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Robo-Robo tetap membawa identitas budayanya, tetapi langkah penyelenggaraannya mulai diarahkan agar dapat dinikmati oleh masyarakat nan lebih luas.
Bukan hanya masyarakat lokal.
Tetapi juga visitor dari luar daerah.
Saprahan, Kuliner, dan Ruang Kebersamaan
Salah satu bagian nan tidak bisa dipisahkan dari Robo-Robo adalah kebersamaan.
Tradisi ini juga lekat dengan makan saprahan, ialah makan berbareng nan menjadi simbol kebersamaan masyarakat. Dalam seremoni Robo-Robo, nilai tersebut terasa semakin kuat lantaran masyarakat berkumpul dan berinteraksi dalam satu ruang.
Selain prosesi budaya, keberadaan lapak kuliner dan UMKM membikin seremoni terasa semakin hidup.
Pengunjung tidak hanya datang untuk memandang tradisi, tetapi juga dapat menikmati beragam makanan dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Di titik ini, Robo-Robo mulai menunjukkan potensinya sebagai sebuah pengalaman wisata budaya.
Wisatawan tidak hanya memandang pertunjukan, tetapi juga dapat merasakan suasana, mencicipi kuliner, berinteraksi dengan masyarakat, dan mengenal tradisi nan hidup di dalamnya.
Bukan Sekadar Tradisi Tahunan
Pemerintah Kabupaten Kubu Raya sendiri telah menetapkan Robo-Robo di Kecamatan Sungai Kakap sebagai almanak tahunan. Penyelenggaraan nan semakin tertata diharapkan dapat menarik lebih banyak masyarakat dari beragam daerah.
Menurut saya, di sinilah tantangannya.
Ketika sebuah tradisi mulai dikembangkan menjadi daya tarik wisata, kemeriahan bukan satu-satunya perihal nan perlu diperhatikan. Nilai budaya dan makna nan ada di kembali tradisi juga kudu tetap dipertahankan.
Jangan sampai Robo-Robo hanya dikenal lantaran pagelaran dan keramaiannya, tetapi masyarakat justru lupa kenapa tradisi tersebut terus dilakukan.
Sebab, kekuatan Robo-Robo bukan hanya pada apa nan terlihat.
Ada sejarah, doa, kebersamaan, dan identitas masyarakat nan membuatnya tetap hidup hingga sekarang.
Melihat Robo-Robo dari Dekat
Sebagai generasi muda, datang langsung ke seremoni Robo-Robo memberikan pengalaman nan berbeda bagi saya.
Selama ini, tradisi sering kali hanya kita kenal melalui cerita, foto, alias media sosial. Namun ketika berada langsung di tengah masyarakat, saya bisa memandang bahwa budaya bukan sesuatu nan hanya tersimpan di masa lalu.
Budaya terus bergerak.
Ia bisa beradaptasi, dikemas lebih menarik, dan apalagi menjadi bagian dari perkembangan pariwisata wilayah tanpa kudu kehilangan identitasnya.
Robo-Robo Sungai Kakap menjadi salah satu contohnya.
Dari tradisi tolak bala, dia berkembang menjadi ruang kebersamaan masyarakat sekaligus mempunyai potensi sebagai daya tarik wisata budaya Kubu Raya.
Bagi saya, menjaga Robo-Robo bukan berfaedah kudu membuatnya tetap sama seperti dahulu.
Yang lebih krusial adalah memastikan bahwa ketika tradisi itu berkembang, makna dan masyarakat nan menjadi bagian dari tradisi tersebut tetap menjadi pusatnya.
Karena pada akhirnya, Robo-Robo bukan hanya tentang satu hari perayaan.
Ia adalah cerita tentang gimana sebuah tradisi terus hidup di tengah perubahan zaman.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·