Dari Situ Cisanti, Membaca Kembali Cekungan Bandung

Sedang Trending 45 menit yang lalu
Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, tempat air memulai perjalanan panjang sebagai bagian dari sistem Sungai Citarum. Foto: Dokumentasi pribadi.

Bandung mempunyai banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Sebagian tampak megah dan eksklusif, sementara sebagian lainnya justru sederhana dan tenang. Dari sekian banyak tempat nan nampak sederhana, ada beberapa tempat nan menyimpan cerita panjang dan menarik tentang Bandung. Salah satunya adalah Situ Cisanti.

Situ Cisanti dikenal sebagai salah satu waduk mini alias telaga nan terletak di kaki Gunung Wayang, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Situ Cisanti juga dikenal sebagai titik nol Sungai Citarum alias hulu Sungai Citarum. Di sinilah orang bakal menjumpai sejumlah mata air sebagai sumber awal aliran Sungai Citarum.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum menyatakan bahwa terdapat tujuh mata air nan mengalir di area Situ Cisanti, ialah Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cikawudukan, dan Cisanti.

Bagi sebagian orang, Situ Cisanti dikenal sebagai salah destinasi favorit penduduk setempat dan visitor lokal untuk menikmati udara sejuk dan pemandangan gunung nan memanjakan mata, alias sekadar mencari suasana nan tenang.

Meski demikian, patut kita sadari bahwa keheningan Situ Cisanti menawarkan cerita nan jauh lebih besar. Dari sinilah kita dapat memandang kembali tentang bentang alam Cekungan Bandung dan gimana air nan menjadi bagian dari situ menjadi krusial bagi kehidupan di bagian hulu hingga hilir Sungai Citarum.

Tujuh mata air di Situ Cisanti, Kertasari, Kabupaten Bandung. Foto: BBWS Citarum.

Air tidak mengenal pemisah administrasi

Saat memandang Peta Cekungan Bandung, kita mungkin memandang gimana wilayah ini seolah-olah dikotak-kotakkan oleh pemisah administrasi, nan mana kita ketahui Cekungan Bandung meliputi Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan sebagian Kabupaten Sumedang.

Padahal, alam tidak bekerja berasas pagar manajemen tadi. Air tidak mengenal pemisah awal dan akhir suatu kabupaten alias kota. Ia mengikuti kemiringan lereng, lembah, batuan, dan gravitasi.

Dari tempat nan lebih tinggi, air mengalir menuju tempat nan lebih rendah. Sebagian air meresap ke dalam tanah, sebagian mengalir di permukaan, sebagian lainnya dapat terkumpul dalam suatu sistem aliran sungai. Perjalanan panjang air dari hulu hingga hilir menunjukkan hubungan panjang air dengan beragam bentang alam nan telah terbentuk melalui proses pengetahuan bumi selama ribuan hingga jutaan tahun nan lalu.

Oleh lantaran itu, ketika berbincang tentang air di Cekungan Bandung, kita semestinya memandang juga sistemnya secara utuh, baik saluran drainase, sungai, waduk alias waduk, apalagi genangan air sekalipun nan muncul di sekitar tempat tinggal kita. Lebih luas lagi kita perlu melihatnya sebagai suatu bentang alam nan menjadi tempat semua proses tadi berlangsung.

Dan untuk memahami bentang alam itu, Situ Cisanti menjadi salah satu tempat nan menarik.

Dari kaki Gunung Wayang menuju Cekungan Bandung

Situ Cisanti terletak di bagian hulu Sungai Citarum, tepatnya pada area pegunungan di selatan Cekungan Bandung. Di sini kita memandang gimana wilayah nan lebih tinggi berfaedah sebagai wilayah tangkapan air. Dari area tersebut, air bergerak mengikuti kemiringan lereng dan jaringan sungai menuju wilayah nan lebih rendah.

Perjalanan panjang air tersebut menjadi bagian dari nan kita kenal sebagai sistem Sungai Citarum. Oleh lantaran itu, Situ Cisanti tidak semestinya dipandang sebagai suatu objek tunggal berupa telaga alias waduk mini di area pegunungan tetapi sebagai bagian dari sistem hidrologi nan jauh lebih luas.

BBWS apalagi menggunakan istilah “kilometer nol” untuk menandai posisi Situ Cisanti sebagai awal mula perjalanan Sungai Citarum. Pada Desember 2025, BBWS menekankan pentingnya area ini sebagai titik awal Sungai Citarum nan membawa air ke beragam wilayah di Jawa Barat.

Dari sini kita memahami suatu perihal sederhana: persoalan nan terjadi di hilir tidak selalu dapat dipisahkan dari apa nan terjadi di hulu. Pun demikian, hubungan tersebut bukan berfaedah bahwa setiap persoalan nan terjadi di hilir semata-mata disebabkan oleh apa nan terjadi di hulu.

Cekungan Bandung bukan sekadar tempat nan rendah

Jika kita mendengar istilah “cekungan” maka nan terbersit oleh kita adalah suatu wadah alias mangkuk besar. Interpretasi alias gambaran tersebut tidak sepenuhnya keliru namun terlalu sederhana jika kita langsung menghubungkan pemaknaan itu dengan istilah “Cekungan Bandung”.

Cekungan Bandung merupakan suatu bentang alam nan terbentuk melalui sejarah pengetahuan bumi nan panjang di mana di dalamnya dapat ditemukan beragam corak lahan, mulai dari area pegunungan dan perbukitan di bagian tepi alias pinggir cekungan hingga area dataran nan relatif rendah di bagian tengah.

Proses pembentukan bentang alam tersebut melibatkan beragam proses seperti proses fluvial, denudasional, vulkanik, dan proses pengetahuan bumi lainnya dalam waktu nan panjang.

Dalam kondisi alaminya, air merupakan salah satu kekuatan nan bekerja membentuk bentang alam. Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir, aktivitas manusia juga menjadi salah satu aspek nan semakin kuat dalam mengubah bentang alam tersebut. Kawasan nan dulu berfaedah sebagai lahan terbuka, sawah, kebun, alias area resapan berubah menjadi jalan, permukiman, area industri, dan beragam corak pembangunan lain.

Perubahan tersebut tidak selamanya kudu dipandang sebagai suatu perihal nan negatif, tetapi perlu kita lihat sebagai suatu arah pembangunan nan memerlukan ruang-ruang unik tanpa mengabaikan kegunaan lahan lainnya. Persoalannya kemudian adalah: apakah perkembangan ruang tersebut sudah cukup mempertimbangkan karakter bentang alamnya?

Dari hulu menuju Cekungan Bandung

Pertanyaan tersebut menggelitik untuk dijawab ketika kita mencoba untuk renungkan perjalanan air dari area pegunungan ke bagian nan lebih rendah dari Cekungan Bandung.

Dari bagian hulu, air bergerak mengalir mengikuti kemiringan lereng membentuk jaringan sungai menuju bagian nan lebih rendah. Dalam perjalanannya, air berinteraksi dengan bentang alam sekaligus dengan ruang nan semakin banyak dimanfaatkan manusia untuk permukiman, infrastruktur, pertanian, dan beragam aktivitas lainnya.

Di lain pihak, hujan tetap turun, air tetap mengalir mengikuti lereng dan gravitasi, sebagian meresap ke dalam tanah. nan berubah hanyalah ruang mobilitas dan ruang resap air. Di sinilah perspektif geomorfologi (ilmu bentang alam) menjadi penting.

Geomorfologi tidak sekadar memahami corak bukit, gunung, lembah, dataran, dan sebagainya. Lebih dari itu, pengetahuan ini membantu kita memahami gimana bentang alam dapat terbentuk, kenapa bentang alam mempunyai karakter tertentu, dan gimana bentang alam merespons perubahan nan terjadi di atasnya.

Karena itu, ketika berbincang tentang persoalan air di Cekungan Bandung, pertanyaan nan perlu kita jawab berbareng misalnya: Dari mana air datang? Di mana air dapat meresap dan tertahan? Ke mana air bergerak? Bagaimana karakter bentang alam memengaruhi pergerakannya? Dan apa nan telah berubah pada bentang alam tersebut?

Papan info Situ Cisanti nan menggambarkan posisi area ini sebagai bagian krusial dari hulu Sungai Citarum. Foto: Dokumentasi pribadi.

Menjaga Situ Cisanti bukan hanya menjaga airnya

Dari Situ Cisanti kita memandang gimana air menjadi bagian dari perjalanan panjang melintasi Cekungan Bandung. Dari area pegunungan, air mengalir mengikuti lereng dan jaringan sungai menuju wilayah nan lebih rendah dan berinteraksi dengan bentang alam nan terbentuk melalui proses pengetahuan bumi dalam waktu nan panjang.

Namun, bentang alam tersebut sekarang mengalami perubahan nan tidak mungkin dielakkan akibat perkembangan permukiman, pertanian, infrastruktur, dan sebagainya. Hujan sebagai proses alam tetap turun, air tetap mengalir mengikuti style gravitasi, namun ruang mobilitas air terus berubah.

Di sinilah geomorfologi menjadi penting. Memahami Cekungan Bandung tidak cukup hanya dengan memandang sungai alias saluran air nan ada di samping tempat tinggal kita tetapi juga perlu memahami karakter bentang alam dan penggunaan lahannya. Pada akhirnya, persoalan air di Cekungan Bandung adalah bagian dari hubungan panjang antara hulu, bentang alam, air, dan manusia. Suatu hubungan nan mungkin paling sederhana untuk kita pahami dengan kembali memandang Situ Cisanti—tempat air memulai perjalanan panjangnya menyusuri Cekungan Bandung menuju hilir Sungai Citarum.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan