Dari Galon Bekas, Perempuan Katulampa Ciptakan Peluang Usaha Baru

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Peserta mengikuti program pemanfaatan kembali galon Le Minerale di Kampung Katulampa, Bogor. Galon jejak diolah menjadi beragam produk nan mempunyai kegunaan baru. Foto: kumparan.

Barang nan sudah selesai digunakan tidak selalu kudu berhujung sebagai sampah. Dengan keahlian dan pengolahan nan tepat, material jejak tetap bisa dimanfaatkan menjadi peralatan baru nan berguna, apalagi mempunyai nilai ekonomi.

Hal inilah nan coba dilakukan Le Minerale berbareng BenihBaik.com melalui program pemberdayaan wanita di Kampung Katulampa, Bogor. Dalam program tersebut, galon Le Minerale nan sudah tidak terpakai diolah kembali menjadi lampu hias hingga instalasi hidroponik sederhana.

Program ini menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas. Galon nan telah digunakan tidak langsung dibuang, tetapi diberi kegunaan baru agar dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat.

Founder dan CEO BenihBaik.com, Andy F. Noya, mengatakan, “Kolaborasi ini lahir dari kesamaan visi antara BenihBaik.com dan Le Minerale bahwa perubahan sosial nan berkepanjangan bakal semakin kuat ketika beragam pihak bergerak berbareng dalam semangat gotong royong dan kolaborasi.”

Menurutnya, BenihBaik.com berkedudukan sebagai jembatan nan mempertemukan perusahaan nan mempunyai kepedulian dengan masyarakat nan membutuhkan. Pertemuan tersebut kemudian diwujudkan melalui program nan tepat sasaran dan memberikan faedah nyata.

Andy menilai Le Minerale tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan. Program ini juga dirancang untuk menambah keahlian dan mendorong masyarakat agar semakin mandiri.

Melibatkan 50 Perempuan di Kampung Katulampa

Sejumlah galon Le Minerale jejak disiapkan untuk diolah kembali dalam program pemberdayaan wanita di Kampung Katulampa, Bogor. Foto: kumparan.

Sebanyak 50 wanita mengikuti training dan pendampingan nan berjalan selama tiga hari, pada 12–14 Mei 2026. Dalam aktivitas tersebut, para peserta belajar mengolah galon Le Minerale nan sudah digunakan menjadi produk nan mempunyai kegunaan dan potensi nilai jual.

Salah satu produk nan dibuat adalah lampu hias. Galon jejak dipotong, dirakit, lampau dihias hingga berubah menjadi produk hiasan nan dapat digunakan kembali.

Lewat proses tersebut, para peserta tidak hanya belajar membikin kerajinan. Mereka juga diajak memandang bahwa material nan ada di sekitar dapat menjadi kesempatan upaya ketika dipadukan dengan produktivitas dan keterampilan.

Lampu hias nan dihasilkan dapat dikembangkan dalam beragam corak dan desain. Jika produksinya dikelola secara konsisten, produk tersebut berpotensi dipasarkan dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.

Menurut Andy, perihal ini menunjukkan bahwa galon nan sudah selesai digunakan tetap mempunyai nilai.

“Galon Le Minerale jejak tidak menjadi limbah, tetapi dapat dimanfaatkan kembali melalui produktivitas masyarakat menjadi produk berbobot ekonomi seperti lampu hias,” kata dia.

Selain belajar membikin produk, peserta juga mendapat pengetahuan dasar mengenai proses produksi dan pengelolaan usaha. Bekal ini diberikan agar hasil training tidak hanya berakhir sebagai karya sekali jadi, tetapi dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif.

Para peserta didorong untuk bekerja sama dalam membagi tugas, mulai dari produksi, pengembangan desain, pengemasan, pencatatan, hingga pemasaran. Dengan langkah tersebut, keahlian nan dimiliki masing-masing peserta dapat saling melengkapi.

Program ini juga membuka ruang bagi wanita di Kampung Katulampa untuk lebih percaya diri dan aktif dalam aktivitas ekonomi family maupun komunitas. Mereka dapat mencoba keahlian baru sekaligus memandang kesempatan upaya dari material nan sebelumnya dianggap tidak terpakai.

Pendampingan menjadi bagian krusial dari program ini. Setelah training selesai, peserta tetap memerlukan pengarahan untuk menjaga kualitas produk, mengatur proses produksi, menentukan harga, hingga mencari kesempatan pasar.

Dengan pendampingan nan berkelanjutan, keahlian nan diperoleh diharapkan dapat berkembang menjadi upaya berbareng nan dikelola secara lebih berdikari oleh komunitas.

Galon Bekas Menjadi Media Hidroponik

Sejumlah galon Le Minerale jejak disiapkan untuk diolah kembali dalam program pemberdayaan wanita di Kampung Katulampa, Bogor. Foto: kumparan.

Selain dijadikan lampu hias, galon Le Minerale nan telah digunakan juga dimanfaatkan sebagai instalasi hidroponik sederhana. Para peserta belajar menggunakannya sebagai media untuk menanam sayuran.

Mereka mendapat pengetahuan dasar mulai dari menyiapkan media tanam, merawat tanaman, hingga memanfaatkan hasil panen. Sayuran nan dihasilkan dapat dikonsumsi oleh family alias dijual untuk menambah pendapatan rumah tangga.

Pemanfaatan galon sebagai media hidroponik menunjukkan bahwa satu material dapat mempunyai lebih dari satu fungsi. Selain untuk menanam sayuran, galon nan telah digunakan juga dapat dimanfaatkan untuk menanam padi dan cabai, maupun sebagai bagian dari budidaya ikan seperti lele.

“Bagi BenihBaik.com, inisiatif ini menjadi contoh gimana prinsip ekonomi sirkular dapat melangkah seiring dengan pemberdayaan masyarakat,” jelas Andy.

Menurutnya, ketika suatu peralatan diberi kegunaan baru, manfaatnya dapat terus berlanjut. Selain mengurangi material nan terbuang, pemanfaatan kembali galon juga dapat membuka kesempatan ekonomi dan membantu memperkuat kondisi keluarga.

Kegiatan hidroponik ini turut mendukung ketahanan pangan keluarga. Sayuran segar nan dipanen dapat memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari, sementara hasil nan lebih dapat dijual.

Jika dikelola bersama, kebun hidroponik juga dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi komunitas. Para peserta bisa berbagi peran dalam proses penanaman, perawatan, pemanenan, hingga pemasaran hasil budidaya.

Program Le Minerale berbareng BenihBaik.com menunjukkan bahwa pemanfaatan kembali galon plastik tidak hanya berangkaian dengan pengurangan sampah. Material nan telah digunakan tetap dapat diolah menjadi produk nan berfaedah dan mempunyai nilai ekonomi.

Melalui training dan pendampingan, wanita di Kampung Katulampa tidak hanya belajar membikin lampu hias alias menanam sayuran. Mereka juga mendapat ruang untuk mengembangkan keterampilan, menambah rasa percaya diri, dan membuka kesempatan upaya baru.

Dari galon nan sudah tidak terpakai, faedah baru dapat tercipta bagi family dan lingkungan sekitar. Ketika dipadukan dengan kreativitas, kerja sama, dan pendampingan, material jejak dapat menjadi sumber kesempatan nan sebelumnya tidak terlihat.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan