CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani membeberkan Danantara hingga sekarang telah menggarap proyek-proyek hilirisasi dengan investasi mencapai USD 26 miliar alias setara dengan Rp 450,42 triliun (dengan kurs Rp 17.324 per dolar AS).
Rosan memastikan proyek-proyek hilirisasi ini di luar dari proyek-proyek hilirisasi nan tengah digarap Danantara saat ini sejumlah 30 proyek.
Dia menyebut proyek-proyek hilirisasi senilai USD 26 miliar ini sudah melangkah terlebih dulu sebelum proyek hilirisasi tahap I dimulai pada Februari 2026 lampau dengan sebanyak 11 proyek. Selain itu, proyek-proyek ini juga di luar dari proyek hilirisasi tahap II sebanyak 13 proyek nan baru saja dimulai hari ini, Rabu (29/4).
“Memang sebelumnya sudah ada nan melangkah juga di luar fase pertama dan kedua, sudah ada proyek juga itu seperti (dua proyek) hilirisasi di kelapa,” kata Rosan dalam gelaran Groundbreaking Proyek Hilirisasi Tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4).
Selain hilirisasi kelapa, ada juga proyek hilirisasi nan sudah melangkah lebih dulu ialah di bagian industri kimia.
“Jadi jika kita kumpulkan ini di luar kelak nan bakal dibangun, proyek-proyek nan sudah terbangun oleh kami kurang lebih nilainya USD 26 miliar,” jelasnya.
Sebelumnya pada November 2025 lalu, pabrik industri kimia PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) memulai operasional produksi 15 produk petrokimia Cilegon, Banten.
Kompleks pabrik seluas 110 hektare ini mempunyai kapabilitas produksi naphtha cracker sebesar 3 juta ton per tahun, menghasilkan 1 juta ton etilena, 520 ribu ton propilena, 350 ribu ton polipropilena, 140 ribu ton butadiena, dan 400 ribu ton BTX (benzena, toluena, xilena) setiap tahun.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·