Dampak Mengerikan Anjloknya Rupiah Bagi Industri Penerbangan, Maskapai Tutup Sejumlah Rute

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Dampak Mengerikan Anjloknya Rupiah Bagi Industri Penerbangan, Maskapai Tutup Sejumlah Rute

Industri penerbangan nasional menghadapi tantangan berat akibat melemahnya nilai tukar rupiah. (Foto: Okezone.com/InJourney(

JAKARTA – Industri penerbangan nasional menghadapi tantangan berat akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) nan terus berlanjut. Kondisi ini memaksa maskapai domestik melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk menutup rute penerbangan nan dinilai tidak lagi menguntungkan secara ekonomi.

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier Association (Indonesia National Air Carrier Association) Bayu Sutanto menjelaskan terdapat perbedaan signifikan antara margin penerbangan internasional dan domestik di tengah gejolak kurs. Maskapai nan melayani rute luar negeri condong lebih kondusif lantaran memperoleh pendapatan dalam mata duit asing dari penumpang mancanegara.

Sementara itu, penerbangan domestik justru tertekan lantaran pendapatan dalam rupiah kudu menanggung beban biaya operasional nan kebanyakan dipengaruhi dolar AS.

Ketergantungan industri penerbangan terhadap mata duit asing memang susah dihindari lantaran nyaris seluruh komponen utama operasional menggunakan standar nilai global. Fluktuasi kurs ini berakibat langsung pada biaya pemeliharaan hingga pengadaan bahan bakar pesawat di dalam negeri.

“Exposure-nya kurang lebih 80 persen totalnya dalam corak dolar AS. Sebagian besar avtur itu 35 sampai 40 persen, maintenance dan suku cadang sekitar 25 persen, sisanya asuransi, training kru, dan lain-lain,” ujar Bayu kepada iNews Media Group, Jumat (5/6/2026).

Terkait izin harga, pemerintah melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 1041 Tahun 2026 telah mengatur pemisah biaya tambahan (fuel surcharge) untuk mengimbangi kenaikan nilai avtur nan sempat menyentuh Rp26.000 per liter.

Meski izin mengizinkan tambahan biaya hingga 50 persen, maskapai tidak selalu menerapkan nomor maksimal tersebut. Hal ini lantaran nilai tiket berkarakter bergerak mengikuti sistem pasar dan daya beli masyarakat, nan kerap disalahpahami publik sebagai komoditas dengan nilai tetap seperti kebutuhan pokok.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com