Dampak Kerja dari Rumah terhadap Pengangguran Lulusan Baru

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Dampak Kerja dari Rumah terhadap Pengangguran Lulusan Baru Ilustrasi.(Magnific)

SELAMA beberapa tahun terakhir, kepintaran buatan (AI) sering kali dijadikan kambing hitam atas lesunya penyerapan tenaga kerja tingkat pemula (entry-level). Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa tren bekerja dari rumah alias remote work justru menjadi aspek utama di kembali meningkatnya nomor pengangguran di kalangan lulusan baru.

Berdasarkan info dari Federal Reserve Bank of New York, tingkat pengangguran untuk lulusan perguruan tinggi di bawah usia 29 tahun meningkat dari 3,1% menjadi 3,7% dalam sembilan tahun terakhir. Sebaliknya, pengangguran di kalangan lulusan nan lebih berilmu (di atas 29 tahun) justru menurun tipis dari 1,9% menjadi 1,8%.

Kesenjangan di Sektor Remotable

Fenomena ini sangat terlihat pada bagian pekerjaan nan bisa dilakukan secara jarak jauh, seperti rekayasa perangkat lunak (software engineering) dan kajian keuangan. Riset tersebut menemukan bahwa kerja remote berkontribusi hingga 64% dari total kenaikan pengangguran kaum muda sejak pandemi.

Di sisi lain, pekerjaan nan memerlukan kehadiran fisik, seperti perawat, tidak menunjukkan kesenjangan usia nan permanen. Setelah sempat bergolak pada 2020, tingkat perekrutan untuk peran bentuk telah kembali normal dan apalagi menjadi titik terang di pasar tenaga kerja saat ini.

Data Kunci:

  • Tingkat pengangguran lulusan baru (usia 22-27) mencapai 5,6% per Maret 2026.
  • Pemberian umpan kembali (feedback) coding meningkat 18,3% saat bekerja di kantor.
  • Perekrutan tingkat pemula turun antara 14% hingga 29% di beragam negara maju.

Hilangnya Mentorship dan Efek Scarring

Penelitian nan diterbitkan oleh National Bureau of Economic Research menyoroti bahwa meskipun kerja remot dapat meningkatkan produktivitas pekerja senior, perihal ini berakibat jelek bagi pekerja muda. Di kantor, pekerja muda mendapatkan faedah besar dari pengarahan langsung dan sesi umpan kembali spontan.

Tanpa hubungan tatap muka, lulusan baru mengalami hal yang disebut sebagai pengaruh jaringan nan hilang. Perusahaan nan beraksi sepenuhnya secara terdistribusi condong enggan merekrut pekerja muda nan memerlukan banyak bimbingan dan lebih memilih mempekerjakan staf senior nan dianggap lebih aman dan mandiri.

AI-Washing: Alasan nan Nyaman bagi Perusahaan

Meskipun banyak perusahaan mengaitkan pengurangan staf dengan mengambil AI, para ahli ekonomi menyebut kejadian ini sebagai AI-washing. Mereka beranggapan bahwa perusahaan menggunakan teknologi sebagai pembenaran atas keputusan pengurangan tenaga kerja nan sebenarnya sudah direncanakan alias dipicu oleh perubahan model kerja.

"Tidak ada bukti nyata kehilangan pekerjaan secara massal lantaran AI," ungkap Torsten Slok, kepala ahli ekonomi di firma investasi Apollo. Sebaliknya, dorongan AI justru meningkatkan permintaan untuk tenaga mahir dan insinyur baru.

Bagi Gen Z, realitas ini mulai disadari. Survei Gallup menunjukkan bahwa golongan usia ini termasuk yang paling tidak menyukai pengaturan kerja remote sepenuhnya, lantaran mereka merasa kehilangan hubungan sosial dan kesempatan pengembangan pekerjaan nan krusial di awal masa kerja mereka. (Fortune/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia