ilustrasi(Antara)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai surat info Menteri Dalam Negeri nan mengimbau pemerintah wilayah memfasilitasi nonton bareng selama 11 Juni hingga 19 Juli mempunyai logika nan cukup jelas. Ketika masyarakat berkumpul di ruang publik, UMKM seperti kuliner, pedagang minuman, dan penjual atribut dapat menangkap perputaran duit nan muncul di sekitar aktivitas tersebut. Namun, dia menekankan bahwa dorongan itu pada dasarnya hanya berkarakter musiman dan tidak menyentuh persoalan struktural ekonomi.
"Estimasi akibat ekonomi sebesar Rp2,34 triliun nan disampaikan TVRI juga perlu ditempatkan dalam konteks nan tepat. Angka tersebut dihitung dengan dugaan nyaris 6.000 venue aktif selama sekitar 50 malam dan seluruh potensi transaksi melangkah optimal," kata Yusuf saat dihubungi, Kamis (18/6).
Dalam praktiknya, kata dia, tidak semua letak bakal ramai setiap malam, tidak semua wilayah mempunyai kapabilitas fiskal untuk menyelenggarakan aktivitas secara konsisten, dan tidak semua UMKM bisa memperoleh faedah nan sama. "Karena itu, realisasi dampaknya kemungkinan berada jauh di bawah nomor nan banyak dikutip," ujarnya.
Masalah berikutnya, lanjut Yusuf, adalah pemerataan manfaat. Daerah dengan pendapatan original wilayah nan kuat condong lebih bisa menyediakan layar, akomodasi pendukung, serta pengamanan. Sebaliknya, banyak kabupaten tetap menghadapi keterbatasan anggaran lantaran sebagian besar shopping terserap untuk kebutuhan rutin dan program wajib.
"Akibatnya, faedah ekonomi dari aktivitas nonton bareng berpotensi lebih terkonsentrasi di wilayah nan memang sudah relatif lebih maju," jelasnya.
Kemudian Yusuf menyoroti persoalan nan lebih mendasar ialah kondisi daya beli masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, pertumbuhan bayaran riil melangkah sangat lambat meskipun ekonomi tetap tumbuh. Pada saat nan sama, jumlah kelas menengah mengalami penyusutan sehingga banyak rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
"Dalam kondisi seperti ini, tambahan shopping saat nonton bareng sering kali bukan konsumsi baru, melainkan perpindahan pengeluaran dari tempat lain. Uang nan digunakan untuk membeli kopi alias makanan di letak aktivitas kemungkinan adalah duit nan sebelumnya bakal dibelanjakan di warung alias kafe lain," paparnya.
Dalam ekonomi, jelasnya, kejadian tersebut dikenal sebagai pengaruh substitusi, sehingga tambahan permintaan riil nan tercipta tidak sebesar nan terlihat di lapangan.
Karena itu, Yusuf memandang nonton bareng Piala Dunia tetap mempunyai nilai positif sebagai intermezo publik dan sarana memperkuat hubungan sosial. Sejumlah UMKM, terutama pelaku upaya kuliner skala kecil, juga dapat menikmati peningkatan pendapatan selama aktivitas berlangsung.
"Namun, dampaknya lebih tepat dipahami sebagai stimulus jangka pendek daripada penggerak ekonomi nan signifikan. Persoalan utama ekonomi domestik saat ini tetap berada pada kualitas lapangan kerja, pertumbuhan pendapatan, dan kekuatan daya beli masyarakat," ungkapnya.
"Nonton bareng dapat menjadi pereda sesaat, tetapi tidak dapat menggantikan solusi terhadap persoalan ekonomi nan lebih mendasar," pungkas Yusuf. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·