Surabaya, CNN Indonesia --
Cucu salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri KH Abdussalam Shohib alias nan berkawan disapa Gus Salam, mewanti-wanti agar pelaksanaan Muktamar NU ke-35 kudu melangkah secara berdikari dan independen, tanpa ada intervensi pihak eksternal.
Gus Salam nan juga Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang ini menegaskan kemandirian baik dari segi pembiayaan maupun penyelenggaraan perhelatan muktamar ini sangat krusial dilakukan untuk menjaga marwah organisasi.
Menurutnya, independensi dari kombinasi tangan eksternal menjadi kunci utama demi melahirkan kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) nan bersih dan solid di masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengusulkan agar Muktamar NU ini kudu muktamar nan berdikari dan independen. Mandiri dalam pembiayaan, dalam perhelatan, dan independen dari intervensi siapapun, khususnya eksternal. Tujuannya apa? Agar kelak ke depan terpilihlah PBNU nan betul-betul menjaga transparansi, berintegritas dan solid. Itu nan menjadi kemauan kami," kata Gus Salam, Sabtu (6/6).
Gus Salam nan sempat menginisiasi Muktamar Luar Biasa (MLB) NU melalui Forum Penyelamat Organisasi dan Panitia MLB (PO & MLB) NU ini optimistis NU mempunyai kapabilitas besar untuk mandiri.
Mantan Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengaku pihaknya pernah menggalang biaya miliaran rupiah dari penduduk nahdliyin dalam waktu sangat singkat saat menjelang Muktamar Lampung 2021 lalu.
"Apakah bisa NU melakukan kemandirian di dalam perwakilan Muktamar. Saya kira mampu. Kenapa? Karena kami dulu ketika bakal muktamar di Lampung, PWNU Jawa Timur ini pernah coba untuk meng-collect dana dari masyarakat dari nahdliyin untuk menghadapi Muktamar Lampung itu hanya dalam waktu 1 bulan kami ini bisa mengumpulkan biaya nyaris Rp4 miliar," ucapnya.
Semangat kemandirian ini disebutnya juga sudah terlihat dari kesiapan sejumlah pesantren besar dan para ustad di Jatim nan menyatakan siap mengemban seluruh beban biaya jika ditunjuk menjadi tuan rumah forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
"Karena memandang dari respon beberapa pesantren Syaichona Cholil Bangmalan, Pesantren Walisongo Situbondo, beliau kan mengatakan siap menjadi tuan rumah dengan pembiayaan mandiri. Kemudian Kiai Asep [Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto] juga menyatakan siap menjadi tuan rumah dan siap melayani peserta muktamar dengan biaya sendiri," papar Gus Salam.
Lebih lanjut, Gus Salam menilai momentum muktamar saat ini adalah waktu nan paling tepat untuk menghidupkan kembali tradisi lama NU, di mana umat dan masyarakat terlibat secara masif dalam pendanaan dan penyelenggaraan, seperti nan pernah terjadi pada Muktamar di Situbondo (1984), Yogyakarta (1989), Cipasung (1994), hingga Lirboyo (1999).
"Artinya apa? Semangat-semangat para kiai, semangat umat untuk menjaga kemandirian dan independen ini sangat kuat. Lah, momentum Muktamar ini saya kira adalah momentum nan tepat untuk mengembalikan antusiasme itu. nan sebenarnya antusiasme itu sejak dulu ada," ujarnya.
Karena itu, Gus Salam mendorong agar skema pendanaan muktamar dilakukan secara transparan. Menurutnya, jika pembiayaan dilakukan secara berdikari dan akuntabel oleh panitia, maka perihal itu bakal meminimalisir adanya praktik-praktik politik duit selama berjalannya muktamar.
Bila perihal itu sukses dilakukan, maka kata Gus Salam, muktamar juga bakal menghasilkan pemimpin NU nan independen dan tak bisa diintervensi pihak eksternal manapun, nan berupaya menyusupkan agenda hingga kepentingannya di tubuh NU.
"Ya jika makanya kemudian ada dinamika-dinamika berangkaian dengan politik uang, dengan apa namanya perebutan logistik itu ya kadang-kadang kita juga memandang itu adalah sebuah kelaziman lantaran mereka memang memerlukan logistik nan tidak mini untuk datang ke tempat Muktamar," sambung Gus Salam.
"Sehingga jika kemudian semua ini menjadi tanggung jawab dari panitia muktamar, kita harapkan buahpikiran pendapat nan mereka bawa itu otentik, betul-betul kebutuhan jam'iyah dan mereka bakal memilih pemimpin nan betul-betul mereka anggap sebagai nan ideal untuk menghadapi tantangan dan kepentingan jam'iyah," ujarnya.
Muktamar NU sendiri rencananya bakal digelar Agustus 2026 mendatang. Namun, letak pelaksanaannya belum ditetapkan hingga sekarang.
Forum tertinggi organisasi terbesar di Indonesia tersebut bakal diawali dengan perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur pada 20-21 Juni 2026 mendatang.
(frd/sfr)
Add
as a preferred source on Google
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·