Ini adalah ilustrasi karya seniman tentang planet ekstrasolar raksasa gas WASP-121b. Planet nan membengkak ini sangat dekat dengan bintangnya sehingga style tarik pasang surut bintang tersebut meregangkannya hingga berbentuk seperti telur.(NASA)
PARA astronom kembali menemukan gambaran mengejutkan mengenai cuaca di bumi lain. Kali ini, pengamatan menggunakan James Webb Space Telescope (JWST) mengungkap kondisi atmosfer ekstrem di WASP-121b, sebuah planet ekstrasolar nan dikenal sebagai "ultra-hot Jupiter" alias planet raksasa gas dengan suhu sangat tinggi.
Dilansir dari Space, WASP-121b merupakan salah satu planet paling ekstrem nan pernah ditemukan di luar Tata Surya. Planet ini mengorbit sangat dekat dengan bintang induknya sehingga satu tahun di sana hanya berjalan sekitar 30,5 jam.
Jarak nan sangat dekat tersebut membikin WASP-121b terus-menerus menerima panas luar biasa. Suhu di sisi nan menghadap bintang apalagi cukup tinggi untuk menguapkan logam. Sementara itu, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa besi nan menguap dapat mengembun di sisi malam nan lebih dingin dan turun sebagai hujan.
Tak hanya itu, penelitian nan telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada Rabu (10/6) kemarin ini mengungkap adanya hujan rubi dan safir di planet tersebut. Kondisi ini menjadikan WASP-121b sebagai salah satu bumi dengan cuaca paling unik dan galak nan pernah diamati.
Atmosfer Berbeda antara Sisi Fajar dan Senja
Dalam penelitian terbaru, tim astronom memanfaatkan keahlian JWST untuk mengawasi perubahan sinar bintang nan melewati atmosfer WASP-121b saat planet itu melintas di depan bintang induknya.
Pengamatan tersebut memungkinkan para intelektual mempelajari kondisi atmosfer di beragam wilayah planet secara lebih rinci. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan suhu nan signifikan antara sisi fajar dan sisi senja.
Penulis utama penelitian, Cyril Gapp dari Max Planck Institute for Astronomy di Jerman, mengatakan bahwa kualitas pengamatan JWST memungkinkan para astronom memperoleh gambaran paling perincian tentang planet-planet jauh hingga saat ini.
"Dengan mengukur perubahan penyerapan sinar bintang saat WASP-121b berotasi, kami dapat menyelidiki atmosfernya wilayah demi wilayah," ujar Gapp.
Para peneliti menemukan bahwa sisi senja, ialah wilayah nan baru meninggalkan area siang hari, mempunyai suhu lebih tinggi dibandingkan sisi fajar nan baru memasuki siang hari.
Fenomena tersebut diduga dipicu oleh angin sangat kuat nan memindahkan panas dari sisi planet nan terus menghadap bintang menuju sisi nan selalu berada dalam kegelapan.
Angin Dahsyat dan Molekul Air
WASP-121b diketahui mengalami kondisi nan disebut tidal locking alias penguncian pasang surut. Akibatnya, satu sisi planet selalu menghadap bintang, sementara sisi lainnya terus berada dalam kegelapan.
Meski demikian, saat planet melintas di depan bintang induknya, teleskop tetap dapat mengawasi bagian-bagian atmosfer nan berbeda. Dari info tersebut, para peneliti menemukan bahwa sisi senja menyerap lebih banyak sinar bintang dibandingkan sisi fajar.
Selain itu, mereka mendeteksi perubahan sinyal nan berangkaian dengan uap air dan karbon monoksida. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan suhu nan cukup besar di beragam wilayah atmosfer.
Menurut penelitian, suhu di sisi senja apalagi cukup tinggi untuk memecah molekul air di lapisan atas atmosfer. Sebaliknya, sisi fajar nan lebih dingin diduga sebagian tertutup awan nan tersusun dari mineral silikat, meskipun keberadaan awan tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui penelitian lanjutan.
Temuan terbaru ini menambah daftar bukti bahwa WASP-121b mempunyai sistem cuaca nan sangat ganas.
Sebelumnya, pengamatan menggunakan Very Large Telescope di Chile mengungkap adanya pola angin berlapis dan jet stream nan sangat kuat, apalagi membentang hingga mencakup separuh bagian planet. Kecepatan angin di atmosfernya diperkirakan mencapai sekitar 18.000 kilometer per jam.
Sementara itu, pengamatan menggunakan Hubble Space Telescope menemukan bahwa unsur magnesium dan besi terus terlepas dari atmosfer planet tersebut. Para intelektual menduga proses itu dipicu oleh radiasi ultraviolet nan sangat kuat dari bintang induknya. (Space/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·