Circle Pertemanan Makin Kecil? Ini Cara Biar Tetap Solid di Usia Dewasa

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Ilustrasi pertemanan. Foto: Thinkstock

Saat memasuki usia dewasa, rasanya lingkaran pertemanan semakin mengecil. Berbeda dengan dulu sewaktu sekolah alias kuliah, ada saja kawan nan setiap hari bisa diajak nongkrong bareng, berbagi cerita, alias sekadar menghabiskan waktu.

Begitu masuk bumi kerja, berkeluarga, alias sibuk mengejar tujuan hidup masing-masing, pelan-pelan daftar kawan dekat makin berkurang. Kondisi ini bukan semata lantaran hubungan nan renggang, melainkan ada perubahan ritme hidup nan membikin kondisi pertemanan ikut berubah.

Meskipun lingkaran pertemanan semakin sempit, setiap orang tentu punya langkah masing-masing untuk menjaga hubungan tetap hangat, termasuk bagi sejumlah kawan kumparan. Nah, jika Anda sedang mengalami perihal serupa, yuk kepoin cerita mereka di bawah ini!

Friendship Maintenance Saat Dewasa ala kawan kumparan

Ilustrasi sahabat wanita . Foto: Shutterstock

Memasuki usia 20-an, banyak orang mulai merasakan lingkaran pertemanan nan makin menyempit. Hal ini juga dialami oleh salah satu teman kumparan, Putri Fahtia (21).

Menurutnya, perubahan ini terjadi lantaran pola pikir nan semakin dewasa. Dengan begitu, Anda jadi lebih mengerti mana kawan nan betul-betul saling support dan mana nan nggak.

Putri sendiri mengaku lebih memilih punya sedikit sahabat, tapi memberi impact positif. Buatnya, jumlah bukan nan utama, nan krusial kualitas dan kenyamanan dalam hubungan.

“Karena pertemanan nggak perlu banyak, asal kompak dan punya arah bareng, bukan untuk saingan,” katanya.

Dengan circle nan makin kecil, Putri punya beberapa langkah agar pertemanannya tetap terjaga, antara lain:

  • Jaga komunikasi dengan rutin saling bertanya kabar

  • Cari aktivitas baru nan bisa dilakukan bareng, seperti jalan alias memasak

  • Kasih kejutan mini ke kawan tanpa kudu diminta

Ilustrasi Pertemanan. Foto: Shutterstock

Di sisi lain, Faisal Saputro (20) punya pandangan serupa soal pertemanan di usia dewasa. Menurutnya, makin dewasa, waktu dan daya otomatis terbagi ke banyak hal, mulai dari pekerjaan, kuliah, sampai konsentrasi ke diri sendiri. Akibatnya, agenda untuk sekadar ketemu kawan jadi makin sulit.

Nggak hanya lantaran kesibukan, Faisal juga merasa standar dalam memilih kawan ikut berubah. Ia sekarang lebih selektif dan hanya berkawan dengan orang nan betul-betul nyambung, baik dari langkah komunikasi maupun pola pikir.

Menariknya, Faisal justru memandang bentrok sebagai bagian krusial dalam menjaga hubungan. Ia percaya, pertemanan nan sering diuji lewat perbedaan alias apalagi pertengkaran justru bisa jadi lebih kuat. “Setelah dipikir-pikir, semakin sering berantem itu malah bisa bikin lebih dekat. Aneh ya? Tapi nyata,” ujarnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam laman Women’s Health. Konflik dalam pertemanan sebenarnya bisa mempererat hubungan. Sebab, ketika masalah dibahas secara terbuka sampai tuntas, kedua pihak condong jadi lebih saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Ilustrasi Pertemanan. Foto: Shutterstock

Cerita serupa juga datang dari Nadia Putri Ramadhani (29). Saat ini, dia hanya punya beberapa kawan dekat. Sebab, setiap temannya sudah punya prioritas sendiri, ada nan konsentrasi kerja, menikah, pindah kota, alias sibuk dengan keluarga.

“Dulu mungkin senang kenal banyak orang, tapi makin ke sini saya lebih menghargai hubungan nan tulus dan bikin nyaman,” tuturnya.

Bagi Nadia, pertemanan nggak kudu diukur dari seberapa sering berjumpa alias chatting setiap hari. nan lebih krusial adalah adanya rasa saling support dan nyambung saat ngobrol.

Hal sederhana seperti saling memberi kabar, mengucapkan ulang tahun, alias menyempatkan waktu untuk berjumpa sudah cukup untuk menjaga hubungan tetap hangat.

Nikmati serunya sharing hal-hal seru dengan ribuan kawan baru di organisasi kawan kumparan. Klik kum.pr/temankumparan

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan