China Diam-diam Simpan Ribuan Server di Dasar Laut, Apa Tujuannya?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

loading...

China Diam-diam Simpan Ribuan Server di Dasar Laut. Foto Viet

BEIJING - Karena permintaan listrik untuk menjalankan AI semakin melampaui pasokan di darat, China telah menemukan solusinya dengan menempatkan server di dasar laut.

China secara resmi meluncurkan pusat info AI komersial nan terletak di dasar laut pada kedalaman sekitar 35 meter di dekat Zona Khusus Lingang (Shanghai). Ini digambarkan sebagai pusat info bawah laut komersial pertamadi duniayang ditenagai oleh daya angin lepas pantai.

Fasilitassenilai USD226 jutaini dikembangkan berbareng oleh Tiongkok dan perusahaan swasta HiCloud Technology. Fasilitas ini menampung nyaris 2.000 server, termasuk klaster GPU dari China Telecom dan LinkWise, dengan total kapabilitas 24 megawatt. Sistem ini menangani tugas-tugas AI, jasa 5G, dan operasi catatan info skala besar.

Terobosan terbesar proyek ini adalah metode pendinginannya. Alih-alih menggunakan sistem pendingin industri nan mengonsumsi listrik dalam jumlah besar seperti pusat info di darat, akomodasi ini memanfaatkan suhu air laut nan stabil secara alami untuk mendinginkan sistem.

Menurut media Tiongkok, pusat tersebut mencapai Indeks Efisiensi Daya (PUE) di bawah 1,15, jauh lebih rendah daripada rata-rata industri sekitar 1,5. PUE nan lebih rendah berfaedah lebih banyak listrik nan digunakan langsung untuk komputasi daripada untuk sistem pendukung seperti pendinginan dan ventilasi.

Mempromosikan pola pikir dan keahlian ramah lingkungan di kalangan siswa.Sejumlah besar info dan pengetahuan berfaedah tentang pertanian hijau, ESG, NetZero, dan angsuran karbon baru-baru ini dipresentasikan dalam sebuah lokakarya di Hanoi, nan bermaksud untuk menyebarkan pemikiran hijau dan keahlian hijau kepada ratusan siswa.

Selain itu, ladang angin lepas pantai terhubung langsung ke akomodasi tersebut, menyediakan sebagian besar daya operasional.

Hal ini mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik nasional, nan berada di bawah tekanan nan meningkat akibat permintaan AI.

Selengkapnya
Sumber Tekno Sindonews
Tekno Sindonews