Langkah dramatis diambil General Motors (GM) di pasar otomotif terbesar dunia. Merek legendaris asal Amerika Serikat, Chevrolet, secara resmi menghentikan seluruh aktivitas penjualan ritel mobil baru di China setelah berkecimpung selama 21 tahun.
Keputusan ini mengakhiri perjalanan panjang Chevrolet nan sempat mencatatkan masa keemasan di Tiongkok. Merek ini sebelumnya sukses membukukan penjualan kumulatif hingga lebih dari 7,5 juta unit sejak pertama kali mengaspal di negara tersebut.
Kendati menyetop penjualan domestik, akomodasi manufaktur hasil kerja sama SAIC-GM tidak lantas ditutup total. Pabrik Chevrolet di China bakal dialihfungsikan menjadi pedoman produksi ekspor untuk memenuhi permintaan pasar global, disitat Car News China.
Raksasa otomotif Amerika Serikat tersebut memilih mengalihkan konsentrasi bisnisnya di China ke segmen kendaraan daya baru (NEV). Langkah strategi baru ini nantinya bakal difokuskan melalui pengembangan lini produk lini mewah Buick dan Cadillac.
Keputusan Chevrolet menyiratkan makin ketatnya peta persaingan industri roda empat di China. Dominasi merek lokal nan garang menggempur pasar dengan mobil listrik murah berfitur canggih membikin prinsipal asing kian terdesak.
Fenomena hengkangnya merek dunia dari pasar Tiongkok ini sejatinya bukan perihal baru. Merek kenamaan lain seperti Mitsubishi dan Jeep sebelumnya juga telah angkat kaki akibat nomor penjualan nan merosot signifikan.
Hingga kini, tren kekuasaan mobil listrik buatan pabrikan lokal diprediksi bakal terus menekan perkiraan pangsa pasar pabrikan tradisional di China. Kondisi ini memaksa sejumlah merek otomotif dunia untuk menghitung ulang strategi upaya mereka di sana.
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·