Ekonom senior Chatib Basri menilai perekonomian Indonesia saat ini tidak seburuk nan dibayangkan lantaran pondasi konsumsi domestik dan shopping pemerintah nan kuat.
Eks Menteri Keuangan itu menjelaskan, perang AS-Israel dan Iran nan berkapak pada kenaikan nilai minyak mentah memang menakut-nakuti defisit APBN 2026. Berdasarkan perhitungannya, setiap kenaikan USD 1 dari nilai minyak mentah, defisit APBN melebar Rp 6,8 triliun.
Namun menurutnya, serangan AS-Israel terhadap Iran tidak bakal berjalan lama. Sebab Presiden AS Donald Trump punya kepentingan politik untuk mengamankan laju inflasi menjelang pemilu sela akhir tahun nanti.
Di sisi lain, Chatib menilai perekonomian Indonesia juga tetap dalam kondisi nan baik, tecermin dari konsumsi rumah tangga dan pemerintah nan tinggi pada kuartal I 2026.
“Situasi di domestik itu tidak seburuk nan dibayangkan. Mungkin bapak dan ibu banyak nan tidak setuju sama saya. Kenapa [tidak seburuk nan dibayangkan]? Karena jika dilihat di kuartal I, household consumption-nya itu tetap relatif lumayan, didorong oleh lebaran puasa pada waktu itu,” jelas Chatib dalam aktivitas Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6).
Sementara itu pertumbuhan konsumsi alias shopping pemerintah cukup tinggi mencapai 20-22% pada kuartal I 2026. Berdasarkan tingginya shopping pemerintah itu, Chatib menilai pemerintah tidak bakal shopping sebesar ini pada kuartal II hingga kuartal IV 2026.
Jika pertumbuhan shopping pemerintah tinggi, kata Chatib, maka pemerintah perlu mencari kenaikan pendapatan seperti meningkatkan penerimaan pajak. Namun dia berpandangan langkah itu sepertinya tidak bakal dilakukan dalam waktu dekat.
“Sehingga mungkin di kuartal II, III, dan IV growth dari government spending-nya enggak mungkin di 22%. Maka kita bakal mulai mengalami deceleration dari economic growth-nya,” ucap Chatib.
Chatib menilai kekhawatiran terbesar para penanammodal dan turunnya kepercayaan terhadap ekonomi RI disebabkan kekhawatiran pelebaran defisit APBN melampaui 3%.
Ia menganggap perihal itu tidak bakal terjadi jika shopping pemerintah bisa dikendalikan pada kuartal-kuartal berikutnya. Sebab Chatib menilai tingkat penerimaan pajak bakal menurun pada kuartal III dan IV.
"Pertanyaannya bisa gak government spending bakal terus setinggi ini ke depan?...Sementara tax revenue-nya tumbuh di sekitar 18%, sementara spending-nya [pemerintah] 34%. Ada kemungkinan tax revenue-nya bakal slowdown di quarter III dan IV, mau gak mau itu spending-nya [pemerintah] juga bakal slowdown. Kalau enggak, budget deficit-nya bakal lebih dari 3%," jelasnya.
“Inilah nan kemudian menimbulkan anxiety dari orang, dari investor. Mereka cemas ini deficit-nya bakal bisa sustainable alias tidak,” tutup Chatib.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·