Chatib Basri: Jadi Menteri Keuangan Gampang, Cukup Hemat Anggaran

Sedang Trending 4 hari yang lalu
 Jadi Menteri Keuangan Gampang, Cukup Hemat Anggaran Ekonom Chatib Basri(Antara)

Ekonom senior Indonesia M Chatib Basri menyebut tugas menteri keuangan cukup sederhana dalam pengelolaan fiskal. Hal itu dia sampaikan saat memaparkan kondisi perekonomian RI akhir-akhir ini dalam aktivitas Grab Business Forum 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta, Selasa (9/6). Seorang Menkeu, katanya, hanya mempunyai tiga pilihan kebijakan, ialah meningkatkan penerimaan, memangkas belanja, alias menambah utang.

"Tugas dari Menteri Keuangan itu sebetulnya sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal. Naikkan, potong, pinjam. Tidak ada opsi lain. Kalau Anda tidak bisa menaikkan, maka Anda kudu potong. Kalau Anda tidak bisa potong, Anda kudu pinjam. As simple as that," ujar Chatib nan juga mantan menteri finansial pada 2013-2014 itu.

Dalam situasi tekanan ekonomi dan depresiasi rupiah saat ini, kata dia, opsi meningkatkan pajak belum memungkinkan.

"Masa di dalam situasi ini, tax-nya mesti dinaikkan?" kata dia.

Selain itu opsi menambah utang juga tidak realistis. "Siapa nan mau pinjem duit sekarang? Cost of fund-nya bakal jadi sangat mahal," jelasnya.

Karena itu opsi nan paling mungkin saat ini adalah adalah opsi ketiga, ialah memotong shopping secara selektif.

"Maka opsi nan paling mungkin itu adalah opsi tiga. Cut the spending selectively. Jadi solusinya hanya bahwa fisikalnya itu kudu di-rationalize untuk meng-address isu itu," jelasnya.

Di sisi lain, Chatib menyebut ada aspek kekhawatiran akibat fiskal pada depresiasi rupiah saat ini. Hal itu bisa dilihat dari naiknya credit default swap (CDS).

"Jadi jika orang dari luar beli bond, itu ada asuransinya. Asuransinya itu adalah CDS. Nah, semakin tinggi akibat fiskalnya, CDS-nya semakin tinggi. Jadi jika CDS-nya naik, itu akibat fiskalnya naik," katanya.

Ia mengatakan 23% dari pelemahan rupiah bisa dijelaskan oleh CDS. nan menarik, lanjut Chatib, CDS sudah mulai memburuk sebelum perang.

"Jadi jika kemudian dibilang bahwa penyebabnya (pelemahan rupiah) adalah perang, that's not true. Kenapa? Karena negara lain juga ada akibat perang. Tapi depresiasinya tidak serendah Indonesia," tandasnya. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia