Saat itu, penduduk mulai panik dan keluar rumah. Mereka baru menyadari bunyi dan getaran tersebut tidak hanya dirasakan keluarganya, tetapi juga oleh penduduk lainnya.
"Kami enggak tahu apa penyebab pastinya. Terlebih ketika memandang di media sosial juga belum ada info resmi apa pun nan dirilis pemerintah," ujarnya.
Baid mengatakan kepanikan penduduk semakin meningkat setelah beredar info nan mengaitkan bunyi dan getaran tersebut dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kekhawatiran itu semakin besar lantaran penduduk tetap mempunyai trauma akibat tsunami Selat Sunda pada 2018 lalu.
"Kami memang mempunyai trauma mendalam bakal kejadian tsunami Selat Sunda tahun 2018 lalu," tuturnya.
Getaran apalagi tetap dirasakan hingga sekitar pukul 09.00 WIB. Sesekali, terdengar pula dentuman nan lebih keras sebelum bunyi dan getaran kembali mengecil.
Menurut Baid, kondisi mulai lebih tenang sekitar pukul 11.00 WIB. Namun, penduduk tetap diliputi kekhawatiran lantaran getaran terkadang kembali terdengar lebih kuat.
Sebagian penduduk apalagi memilih mengungsi sejak sekitar pukul 08.00 WIB. Anak-anak juga tidak berangkat sekolah lantaran para orang tua cemas terjadi sesuatu nan membahayakan.
"Saat ini sudah agak tenang lantaran getarannya mulai berkurang. Tapi masyarakat tetap lumayan panik dan belum tahu kudu melakukan apa," kata Baid.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·