Cerita Warga Cideng Terganggu Lapangan Badminton Komersial Dekat Rumah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Foto: Warren Little/Getty Images

Warga di sebuah perumahan area Jalan Kesehatan, Petojo Selatan, Gambir, Jakarta Pusat merasa terganggu dengan kehadiran sebuah lapangan bulu tangkis komersial. Sebab, lapangan ini berdiri di tengah permukiman warga.

"Ya terdengar bunyi orang teriak-teriak. Lalu, lantaran komersial, jalan perumahan nan sempit ini mengganggu warga," kata salah satu warga, nan enggan disebutkan namanya kepada kumparan, Senin (4/5).

Awalnya, pemilik rumah ini tak tahu menahu bakal dibangun sebuah lapangan bulu tangkis komersial. Sekitar tahun lalu, satpam perumahan baru mendatangi penduduk satu per satu.

"Dia bawa surat perizinan ke warga, tanpa menyebut peruntukannya, isinya siap tukar rugi jika ada kerusakan. Di surat itu sudah ada masing-masing nama dan alamat penunggu perumahan," kata penduduk tersebut.

Warga tak sempat bertanya lebih lanjut mengenai peruntukannya, sebab, nan datang hanya satpam.

"Pemiliknya sendiri enggak datang," katanya.

Warga ini lampau menceritakan, proses pembangunan lapangan bulu tangkis ini dimulai dari pembangunan sebuah kantor. Lalu, pemilik instansi itu membeli 3 kavling rumah tua di bagian belakang kantornya.

"Nah, awalnya untuk parkiran. Dipakai bulu tangkis untuk staf-stafnya, lampau lama-lama sepi," katanya.

Tak lama proses pembangunan berlangsung.

Nah, kurang dari setahun. Tiang pancang telah berdiri. Warga sempat protes. Bahkan melaporkan keberadaan lapangan komersial ini ke JAKI, aplikasi nan menangani pelaporan masyarakat kota Jakarta.

"IMB ada lantaran di sambung dengan kantornya di depan nan peruntukan commercial," kata penduduk tersebut.

Minta Bangunan Dimundurkan, Atau Hentikan Operasional

Warga mengeluhkan letak tempat bulu tangkis nan terlalu dekat dengan rumahnya. Sebab, rumah dan lapangan itu hanya terpaut 4 meter.

Lalu, tak ada Garis Sempadan Bangunan (GSB) antara jalan dan lapangan.

"Lokasi di dalam area perumahan, tanah peruntukan rumah tinggal dibangun untuk commercial dan tanpa GSB," katanya.

Jalan nan sempit ini menyebabkan penduduk kesusahan masuk rumah jika ada mobil visitor lapangan nan parkir.

"Karena jalannya sempit, apalagi 2 mobil papasan aja enggak bisa. Sehingga penduduk kudu naik ke trotoar untuk masuk rumah," ucapnya.

Lalu, gedung lapangan sendiri berbatasan langsung dengan tembok-tembok rumah warga.

"Ya tetangga saya terganggu juga, lantaran hanya dibatasi tembok. Berbatasan langsung," katanya.

Untuk itu, penduduk meminta pengelola untuk mempertimbangkan usulan warga.

"Ya, jika bisa dipasang peredam, tetap tembus. Mereka katanya bakal pasang pembatas kaya gorden begitu, tapi bakal sangat dekat dengan rumah saya. Ketika saya buka jendela, rasanya seperti ketutupan. Rasa-rasanya, kok jadi saya nan salah," ucapnya.

"Karena itu, saya minta lapangannya dimundurin dari jalan. Atau, ya, hentikan operasional," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan