Cerita Sukabread, Roti Buatan Napi Sukamiskin yang Laris hingga Jakarta-BSD

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Aroma roti menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari laki-laki berinisial H dan R, nan sekarang berstatus penduduk bimbingan alias narapidana (napi) Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat (Jabar). Di salah satu perspektif gedung pemasyarakatan itu berdiri dapur Sukabread, nan operasionalnya dikelola nyaris seluruhnya oleh napi.

Dari dapur ini beragam jenis roti diproduksi sebanyak 70 hingga 100 buah perhari. Napi H mengatakan dia sudah berpindah-pindah lapas sebanyak dua kali. Pertama dari Salemba ke Cipinang, kedua dari Cipinang ke Sukamiskin, dan di sinilah dia merasa produktif dan tenang.

"Sudah sekitar enam bulanan saya di sini. Saya setahun di Cipinang sebelumnya, lampau saya dapat info ada kegiatan-kegiatan kerja di sini, ada speedboat, ada roti. Ada proses seleksi, penarikan (ke Lapas Sukamiskin) untuk penduduk bimbingan mana nan mau mencoba aktivitas di dalam lapas, akhirnya saya mendaftarkan," jelas H kepada detikcom, Sabtu (29/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

H mengaku di Lapas Cipinang juga terdapat pengarahan kerja produksi roti, namun menurutnya terlalu banyak napi nan mengikuti aktivitas tersebut di sana. Sehingga selama di Cipinang, H lebih banyak menghabiskan waktu di gereja sebagai tamping.

"Kalau di Cipinang memang ada produksi roti, tapi penduduk binaannya banyak banget, jadi untuk kesempatan kerja lebih di sini. Di Cipinang saya jadi tamping-tamping di gereja saja," kata laki-laki asal Kembangan, Jakarta Barat (Jakbar) ini.

Dia berterima kasih dipindahkan ke Lapas Sukamiskin, nan dinilainya mempunyai suasana lebih tenang dibanding dua lapas sebelumnya. "Di sini lebih tenang, di sini aktivitas kerjanya jelas dan sangat membantu banget sih untuk menghabiskan waktu," sambung dia.

Sukabread, nan merupakan program pengarahan kerja napi, telah menemukan pasarnya. Pesanan datang dari Jakarta, Tangerang Selatan hingga sejumlah konsumen di Bandung.

Ada pula mantan penduduk bimbingan nan setelah bebas memilih menjadi reseller Sukabread. H sendiri mengaku tertarik menjual ulang produk Sukabread usai bebas nanti.

"Animo tamu-tamu (lapas), mereka bilang untuk dijual ke luar (Sukabread) ini cocok. Malah kita sekarang ada reseller. Ada beberapa napi nan sudah bebas pun mau jual roti, kita bisa bantu untuk program reseller tadi. Jadi marginnya kita ambil dari HPP, untung sedikit, biar reseller juga bisa berkarya di luar," ucap H.

Roti Buatan Napi Sukamiskin nan LarisRoti Buatan Napi Sukamiskin nan Laris Foto: (Dok istimewa)

Pesanan juga datang dari tamu lapas nan telah mencicipi rasa roti buatan H dan rekan-rekan. Usai mencicipi, pertanyaan para tamu adalah apakah Sukabread bisa dipesan untuk aktivitas di luar lapas.

"Kadang ada tamu-tamu juga dari luar nan berkunjung, lampau mereka mencoba rotinya. Saat mereka merasakan cocok, roti menarik, mereka tanya bisa nggak dipesan misalnya untuk aktivitas gereja, alias aktivitas apa pun," cerita H.

H menyebut reseller terbesar Sukabread adalah penjual roti di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat, dan Bumi Serpong Damai (BSD). Pesanan kedua reseller mencapai 150 hingga 200 buah per pembelian.

"Reseller terbesar kami adalah rumah sakit di Semanggi, Jakarta Pusat dan di BSD. Mereka sekali order 150-200 pieces. Di Bandung nan pesan teman-teman misalnya dari gereja. Kalau kafe sudah ada nan di dekat-dekat sini ambil dari Sukabread," terang Hendra.

Pengiriman produk Sukabread ke Jakarta menggunakan jasa ekspedisi. Produk-produk itu dititipkan H ke bagian depan lapas, dan nantinya petugas ekspedisi bakal mengambil pesanan di depan lapas.

Hendra sekarang menjadi salah satu koordinator Sukabread. Ia lebih banyak mengurus manajemen, mulai pembelian bahan hingga pengemasan.

Sementara pekerjaan di dapur dikoordinasikan oleh napi R. Sekitar 8 napi bekerja di kembali dapur Sukabread.

Sebulan 2.000-3.000 Roti Terjual

Napi R merupakan penduduk bimbingan lain nan mengoordinasikan produksi di dapur. Ia mempunyai latar belakang pengalaman di kafe dan bakery.

Menurut R, Sukabread sebenarnya sudah ada sebelum dia bergabung. Namun produksinya sempat berakhir lantaran sejumlah peralatan mengalami kerusakan.

"Sebelumnya sudah ada Sukabread tapi sempat off lantaran perangkat saat itu ada nan rusak-rusak," kata R.

Saat ini nilai roti nan dijual secara retail di dalam lapas berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Rata-rata sekitar 70-100 roti terjual setiap hari untuk kebutuhan internal dan koperasi.

Jumlah itu belum termasuk pesanan unik dari luar. "Kalau untuk pemesan di luar ya pasti lebih. Sebulan 2.000-3.000 roti terjual," ujarnya.

Mereka juga mencoba memanfaatkan bahan baku agar tidak terbuang. Dalam pembuatan beberapa jenis roti, bagian nan digunakan adalah kuning telur. Putih telur nan tersisa kemudian diolah menjadi produk lain berjulukan Cawan Musi dengan tambahan kaldu Jepang.
"Karena untuk buat roti kan pakai kuning telur saja. Putih telurnya sayang dibuang, makanya kami buat Cawan Musi pakai kaldu Jepang," tutur R.

Kendala Sudah Jago Bikin Roti, Keburu Bebas

Namun program pengarahan kerja seperti Sukabread mempunyai persoalan nan berbeda dengan upaya bakery pada umumnya. Tenaga kerjanya terus berganti.

Napi H mengatakan ada penduduk bimbingan nan telah dilatih hingga mempunyai keahlian membikin roti dengan baik. Ketika keterampilannya mulai matang, masa pidananya justru selesai.

"Kendala kita nih ada penduduk nan sudah kita latih untuk membikin roti, lagi bagus-bagusnya kemampuannya membikin roti, eh rupanya mereka nggak terlalu lama di sini, mereka bebas," ujarnya.

Akibatnya, tim kudu kembali melatih penduduk bimbingan baru. Karena itu, Hendra mengatakan orientasi Sukabread saat ini belum semata-mata mengejar keuntungan.

"Jadi memang effort-nya itu untuk melatih penduduk bimbingan lagi. Untuk mencari untung belum mikir sampai segitu. Harus settle operasionalnya saja dulu," katanya.

Bidik Hotel hingga Stasiun Whoosh

Kalapas Sukamiskin Nanank Syamsuddin mengatakan pengembangan Sukabread dimulai dari penyediaan sumber daya manusia. Napi dipetakan berasas minat dan kemampuannya, kemudian mendapatkan training sebelum ditempatkan pada aktivitas kerja.

"Bentuk support kami juga untuk Sukabread, kembali lagi mengenai SDM kami optimalkan di sini dengan memetakan minat penduduk binaan. Di sini lampau di-training dulu sehingga nantinya right man right job," kata Nanank.

Menurutnya, sistem pemenuhan tenaga untuk aktivitas kerja juga memungkinkan dilakukan melalui pemindahan napi dari unit pelaksana teknis lain ke Sukamiskin. Lapas terlebih dulu menyampaikan kebutuhan kepada instansi wilayah.

"Kebijakan transfer SDM itu juga sangat dimungkinkan, di mana kita mengusulkan ke kanwil lampau kanwil nan bakal memerintahkan UPT-UPT lain. Jadi di lapas sebelumnya di-screening sesuai kebutuhan program bimker di sini, dan di sini kami asesmen ulang," papar Nanank.

Strategi berikutnya adalah memperluas pasar. Nanank mengatakan pihaknya telah memperkenalkan Sukabread kepada sejumlah personil forum koordinasi ketua wilayah (forkopimda), termasuk DPRD.

"Kita kemarin sudah berjumpa dengan beberapa personil forkopimda, termasuk DPRD, dan kami sampaikan program-program unggulan kami, mereka support. Syiar kita ke mereka tentunya jadi pintu masuk syiar mereka ke nan lain," ujar Nanank.

Sukabread juga mulai diperkenalkan kepada organisasi pengusaha hotel. Lapas Sukamiskin turut menjajaki kesempatan pemasaran melalui pengelola Stasiun Whoosh Tegalluar.

"Kita juga mendorong ke organisasi pengusaha hotel, lampau kami jajaki Sukabread ke pengelola Stasiun Whoosh Tegalluar," imbuh Nanank.

Penjajakan dengan sejumlah pengusaha dan asosiasi hotel, menurutnya, telah mendapatkan respons awal. Lapas juga berencana menggandeng dinas nan membidangi UMKM untuk memperluas pemasaran.

"Sukabread ini pangsanya sudah kelas premium. Kemarin kita berjumpa beberapa pengusaha alias asosiasi hotel nan kami juga sosialisasikan dan mereka minat. Tinggal selangkah lagi membikin kerja sama," kata Nanank.

Libatkan Eks Napi untuk Pasarkan Sukabread

Selanjutnya Nanank menerangkan jalur pemasaran produk Lapas Sukamiskin, termasuk Sukabread, telah disiapkan melalui Griya Abipraya. Menariknya, pekerja di Griya Abipraya juga melibatkan mantan penduduk bimbingan nan sekarang berstatus sebagai pengguna pemasyarakatan di Badan Pemasyarakatan (Bapas).

"Kita juga mengembangkan Sukabread untuk menjangkau pasar masyarakat. Kita ada hub, namanya Griya Abipraya, dari situ kelak kita pasarkan Sukabread. Di mana pekerja di Griya Abipraya juga mantan penduduk bimbingan nan berstatus pengguna pemasyarakatan," sebut Nanank.

Nanank juga meminta pemasaran produk tidak hanya menjadi pekerjaan petugas nan menangani aktivitas kerja. "Semua pegawai saya tekankan punya tanggung jawab mengembangkan produk-produk Lapas Sukamiskin, bukan hanya pihak nan terlibat pengarahan kerja alias programnya," lanjut dia.

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai metode "jaring laba-laba". Yakni petugas lapas memperkenalkan produk kepada jaringan terdekat masing-masing, mulai family hingga relasi di luar lapas.

Suguhan Sukabread untuk Tamu

Cara lain nan digunakan adalah membikin orang luar mencicipi produknya secara langsung. Nanank mengatakan setiap ada tamu nan berkunjung, Sukabread menjadi salah satu produk nan disuguhkan. Kebijakan serupa diterapkan ketika Lapas Sukamiskin menyiapkan goodie bag untuk tamu.

"Tidak ada isi goodie bag nan kita beli di luar. Semua isinya adalah hasil budidaya kita, ada telur, kangkung, roti dan lain-lain," sebut Nanank.

Menurut Nanank, strategi itu sekaligus digunakan untuk menghadapi salah satu hambatan produk buatan penduduk binaan, ialah stigma. Ia menyadari gambaran terhadap produk nan dibuat di dalam lapas tidak dapat berubah dalam waktu singkat.

"Kita memang terkendalanya adalah imej. Imej itu kita nggak bisa ubah seperti membalikkan tangan, tapi pelan-pelan kita coba," ujarnya.

Karena itu, Nanank memilih mengundang pihak luar untuk datang, memandang proses produksi, dan mencicipi sendiri Sukabread. Menurutnya, upaya mengubah pandangan tersebut tetap menjadi pekerjaan nan kudu dilakukan secara bertahap.

"Makanya saya suguhkan, ajak pihak-pihak luar ke sini, lampau lihat langsung sehingga pembeli memandang faktanya rupanya dapur kita higienis, rasanya nggak kalah, dan betul dibuat di dalam lapas," ungkap Nanank.

"Inilah PR kita semua di pemasyarakatan, mengubah imej. Makanya metode kita sederhana, jaring laba-laba, lantaran sejauh ini efektif," pungkas Nanank.

(aud/zap)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑