Liputan6.com, Jakarta - Di tengah jutaan langkah jemaah nan bergerak menuju puncak ibadah haji, ada sekelompok petugas nan melangkah dengan kewaspadaan tinggi. Mereka menyusuri kerumunan, mengawasi setiap perubahan kondisi, dan bersiap bergerak kapan saja ketika seorang jemaah memerlukan pertolongan.
Mereka adalah petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Di kembali hiruk-pikuk Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), mereka menjadi garda depan nan memastikan support datang sebelum kondisi jemaah memburuk.
Bagi tim PKP2JH, waktu bukan sekadar angka. Dalam situasi darurat, hitungan menit dapat menjadi pembeda antara kondisi nan tertangani dengan akibat nan lebih berat.
Petugas PKP2JH PPIH Arab Saudi, Cipto Fidianto, menjelaskan bahwa tugas utama timnya adalah merespons sigap beragam kondisi darurat nan dialami jemaah, baik mengenai kesehatan maupun situasi lain nan dapat menakut-nakuti keselamatan.
“Sebagai bagian dari PKP2JH, kami bekerja melakukan pemantauan, pertolongan pertama, stabilisasi awal, koordinasi evakuasi, hingga memastikan jemaah mendapatkan jasa kesehatan lanjutan jika diperlukan,” ujar Cipto pada tim Media Center Haji di Makkah, Jumat (19/6/2026).
Setiap hari, petugas bergerak menyusuri titik-titik nan menjadi pusat aktivitas jemaah. Mereka memperhatikan golongan nan mempunyai akibat lebih tinggi, seperti lansia, penyandang disabilitas, serta jemaah dengan penyakit penyerta.
Pergerakan itu memerlukan kepekaan tinggi. Sebab, kondisi seorang jemaah dapat berubah dalam waktu singkat, terutama ketika tubuh kudu menghadapi cuaca panas, perjalanan panjang, dan kepadatan manusia dalam jumlah besar.
“Kesiapsiagaan menjadi perihal absolut lantaran kondisi jemaah dapat berubah sewaktu-waktu, terutama saat cuaca ekstrem dan kepadatan jemaah meningkat,” kata Cipto.
Di lapangan, situasi nan dihadapi petugas beragam. Mulai dari jemaah nan mengalami kelelahan berat, dehidrasi, gangguan akibat panas, sesak napas, penurunan kesadaran, hingga mereka nan kehilangan arah lantaran kelelahan.
Kasus jemaah nan kolaps akibat paparan panas menjadi salah satu kondisi nan memerlukan respons segera. Petugas kudu melakukan pemeriksaan awal, memberikan pertolongan sesuai kondisi pasien, kemudian memastikan proses pemindahan melangkah andaikan diperlukan.
“Kecepatan respons menjadi sangat krusial lantaran beberapa menit pertama sering kali menentukan keberhasilan penanganan,” ungkap Cipto.
Dalam setiap penanganan, petugas tidak hanya dituntut bergerak cepat, tetapi juga kudu mengambil keputusan tepat. Mereka melakukan asesmen awal di letak kejadian untuk menentukan tingkat kegawatan, memberikan stabilisasi awal, lampau menghubungkan jemaah dengan akomodasi kesehatan nan sesuai.
Peran PKP2JH menjadi semakin krusial saat memasuki fase puncak haji. Kawasan Armuzna dipenuhi pergerakan besar jemaah, sementara akses menuju letak tertentu tidak selalu mudah.
Di tengah arus manusia nan padat, petugas kudu mencari celah agar support dapat segera mencapai jemaah nan membutuhkan.
“Tantangan terbesar adalah tingginya mobilitas dan kepadatan jemaah pada fase puncak haji, khususnya saat pergerakan di Armuzna. Dalam kondisi tersebut, akses menuju jemaah nan memerlukan support kadang tidak mudah, sementara kebutuhan pertolongan kudu diberikan sesegera mungkin,” tutur Cipto.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, PKP2JH memperkuat koordinasi dengan beragam unsur pelayanan. Patroli dilakukan secara aktif di titik strategis, komunikasi antarpetugas dijaga, dan edukasi kesehatan terus diberikan kepada jemaah.
Sebab, menurut Cipto, tidak semua kondisi darurat kudu berhujung dengan penanganan medis jika akibat dapat dicegah sejak awal. Kesadaran jemaah untuk menjaga kondisi tubuh, mencukupi kebutuhan cairan, dan mengatur aktivitas bentuk menjadi bagian krusial dalam menjaga keselamatan selama berhaji.
“Selain penanganan di lapangan, edukasi kesehatan juga menjadi perhatian penting. Banyak kondisi darurat sebenarnya dapat dicegah andaikan jemaah mempunyai kesiapan bentuk nan baik dan memahami akibat kesehatan selama berhaji,” ujarnya.
Di tengah kepadatan puncak ibadah haji, langkah para petugas PKP2JH mungkin tidak selalu terlihat oleh semua jemaah. Namun ketika ada seseorang nan tiba-tiba kehilangan tenaga, memerlukan bantuan, alias berada dalam kondisi darurat, merekalah nan bergerak paling awal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·