Di kembali wajah-wajah lega jemaah haji Indonesia nan tiba di Madinah, ada kerja senyap nan tak selalu terlihat. Bukan hanya penyambutan di terminal, tetapi juga pengawasan ketat terhadap peralatan bawaan jemaah nan menjadi bagian krusial dari kenyamanan mereka setibanya di Tanah Suci.
Di Drop Baggage Zone Bandara AMAA Madinah, Jumat (24/04), para petugas haji airport menjalankan tugas monitoring bagasi dengan penuh ketelitian.
Pada setiap tiga shift penugasan, masing-masing ditempatkan lima orang petugas nan bekerja sebagai checker bagasi. Mereka memantau beragam peralatan bawaan jemaah, mulai dari koper besar alias bagasi tercatat, koper kabin, bangku roda, hingga tongkat nan digunakan jemaah selama menjalankan ibadah haji.
Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, mengatakan bahwa pengawasan peralatan bawaan jemaah merupakan bagian krusial dari pelayanan, lantaran setiap peralatan nan dibawa jemaah berangkaian langsung dengan kebutuhan mereka selama berada di Tanah Suci.
“Setiap peralatan bawaan jemaah kudu dimonitor secara cermat, mulai dari koper besar, koper kabin, bangku roda, sampai tongkat. Barang-barang itu merupakan kebutuhan jemaah nan bakal mereka gunakan selama di Tanah Suci,” ujar Abdul Basir.
Menurutnya, tugas checker bagasi bukan pekerjaan ringan. Mereka kudu bekerja dengan ketelitian tinggi dalam situasi lapangan nan menuntut ketahanan bentuk dan konsentrasi penuh, lantaran area penugasan berada di luar ruangan.
Pada siang hari, para petugas menghadapi panas terik nan menyengat. Sementara pada malam hari, mereka kudu memperkuat dalam udara dingin nan menusuk tulang, disertai angin kencang dan kondisi nan kerap berdebu.
Meski demikian, pengawasan bagasi kudu tetap melangkah tanpa lengah demi memastikan seluruh peralatan bawaan jemaah terpantau dengan baik.
“Kalau ada selisih jumlah alias ada bagasi jemaah nan tidak sampai, itu kudu segera kami laporkan kepada pihak maskapai. Karena itu, pengawasan pada area bagasi kudu dilakukan dengan sangat teliti dan tidak boleh lengah,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, pengawasan bagasi tidak hanya dilakukan oleh petugas haji Indonesia, tetapi juga oleh pihak maskapai. Karena itu, koordinasi antarpihak menjadi kunci agar seluruh proses pengedaran bagasi melangkah lancar hingga sampai ke hotel jemaah masing-masing.
“Bukan hanya petugas kita nan mengawasi, pihak maskapai juga ikut memantau bagasi jemaah. Maka koordinasi satu sama lain kudu terus dijaga agar seluruh bagasi jemaah bisa sampai dengan baik ke hotel masing-masing,” katanya.
Di tengah padatnya aktivitas operasional bandara, tugas monitoring bagasi memang sering tidak terlihat oleh publik. Namun, justru dari proses inilah kenyamanan jemaah ikut dijaga sejak awal kehadiran mereka di Arab Saudi.
Abdul Basir menegaskan bahwa pelayanan kepada jemaah tidak berakhir pada proses turun dari pesawat alias penyambutan di terminal, tetapi juga mencakup kepastian bahwa peralatan bawaan mereka aman, lengkap, dan terpantau dengan baik.
“Yang kami jaga bukan hanya jumlah bagasi, tetapi juga ketepatan dan kelancaran prosesnya. Harapannya, saat jemaah tiba di hotel, barang-barang mereka juga sudah termonitor dengan baik sehingga jemaah merasa tenang dan nyaman,” ucapnya.
Kerja 24 Jam
Fitsa Baharuddin, salah satu Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dari tugas kegunaan transportasi Daerah Kerja (Daker) Bandara, mengatakan pihaknya terus memberikan jasa selama 24 jam untuk para jemaah haji Indonesia di Bandara AMAA.
Menurutnya, para jemaah haji nan telah tiba di airport tidak perlu cemas mengenai bagasi, lantaran koper bakal sampai berbarengan saat jemaah tiba di hotel.
“Tugas kami adalah menerima barang-barang bagasi berupa koper besar, ada juga koper kecil, bangku roda, tongkat juga ada. Semua barang-barang bagasi itu bakal keluar dari gedung ini,” katanya terpisah.
Ia berbareng rekan petugas terus memantau koper nan tiba dan memastikan tidak ada peralatan milik jemaah nan tertinggal.
“Kita monitor jumlahnya secara lengkap, kemudian kita serah terima dengan bagian distribusinya. Kemudian barang-barang itu bakal didistribusikan di hotel,” lanjutnya.
Tak hanya itu, Fitsa juga memastikan para porter alias nan disebut ummal agar tidak sembarangan dalam memindahkan koper.
“Kita juga memonitor porter-porter alias nan di sini disebut sebagai ummal untuk lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru,” ujarnya.
Terkait hambatan di lapangan, Fitsa mengungkapkan adanya tantangan ketika agenda kehadiran kloter berjalan bersamaan, sehingga petugas kudu bekerja lebih ekstra dan teliti.
“Kendalanya itu ketika agenda penerbangan bersamaan, kita agak kesulitan untuk menghitung barang-barang nan tiba,” katanya.
Meski demikian, Fitsa berbareng tim tetap berupaya bekerja secara maksimal demi kelancaran penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026.
“Mudah-mudahan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, semua jemaah bisa melaksanakan ibadah dengan baik,” pungkasnya.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·