Safira Dwi Meilani kembali mengharumkan nama Indonesia lewat prestasi meraih lencana emas di Belgium Open 2026 - International Championship. Prestasi ini tak hanya membanggakan negara, tetapi juga keluarganya.
kumparan berkesempatan menemui ibu dari Safira, Kholifah, di kediamannya nan berada di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di ruang tamu rumah Safira terpasang beragam medali, piala, dan piagam nan diperoleh dari beragam kejuaraan pencak silat.
Kholifah mengatakan, putrinya merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara. Safira mempunyai kakak laki-laki dan adik laki-laki.
Kholifah mengaku sudah mendengar berita putrinya meraih lencana emas di Belgia Open 2026. Safira nan memberi berita tersebut. Dirinya mengaku berterima kasih putrinya bisa membawa lencana emas untuk tim pencak silat Indonesia.
"Alhamdulillah bersyukur bisa meraih lencana emas lagi. Saya memandang perjuangan Safira memang luar biasa, meski beberapa kali mengalami cedera, dia itu tetap optimistis jika mau tanding inginnya dapat lencana emas," kata wanita berumur 50 tahun ini kepada kumparan, Senin (27/4).
Di mata ibunya, Safira merupakan sosok nan baik, sopan, pendiam dan menaati perintah orangtuanya. Selain itu giat berlatih dan semangat setiap hendak mengikuti pertandingan.
"Anaknya optimistis dan merasa pasti bisa gitu. Kalau di rumah ya latihan pagi sore di teras rumah, latihan skipping," sambungnya.
Setiap bakal ada pertandingan, Safira selalu menyempatkan untuk pulang. Hal itu dilakukannya untuk meminta angan restu kepada ayah dan ibunya.
"Safira jika ada waktu pulang menjelang pertandingan, dia pasti pulang minta angan restu dan pamit mau tanding. Biasanya di rumah tiga hari, kadang seminggu. Kalau setelah tanding biasanya video call memberi berita dapat medali," terangnya.
Menurutnya, anak keduanya itu tidak pernah neko-neko. Terutama soal makanan. Safira paling doyan makan tempe, telur asin dan ikan lele. Kholifah menyampaikan, Safira juga menjaga pola makan sebagai seorang atlet.
"Kan kadang ada patokan ya tidak boleh makan ini itu sebagai atlet. Ya dia menjalankan. Kalaupun dia pengin banget itu paling ambil sedikit," ujarnya.
Kholifah menjelaskan, Safira menekuni pencak silat saat duduk di bangku SMP pada 2014. Kala itu di SMP 1 Jati, Safira mengikuti ekstrakurikuler pencak silat.
"Setiap ada pertandingan tingkat SMP dia diikutkan lomba pencak silat dan alhamdulillah bisa meraih prestasi. Kemudian bersambung ke SMA 7 Semarang juga tetap menekuni pencak silat sampai sekarang ini," terangnya.
Kekhawatiran saat Safira terjun sebagai atlet pencak silat selalu terlintas di benaknya. Terlebih, Safira merupakan anak perempuan. Ditambah lagi bagian olahraga pencak silat identik dengan aktivitas bentuk dan rentan cedera.
"Khawatir pasti, saya sudah meminta agar Safira pilih olahraga lain. Tetapi anaknya mau di pencak silat. Akhirnya kami sebagai orang tua ya mendukung saja. Walaupun memang sering lihat Safira cedera ankle, bahu, dan tangan," ungkapnya.
Kini, Safira telah membuktikan bisa meraih prestasi di bagian pencak silat. Ia mengaku bangga dan berterima kasih atas pencapaian anaknya. Ia selalu mendoakan agar Safira beserta kakak adiknya menjadi orang nan sukses.
Pencapaian Safira meraih prestasi di bagian pencak silat diakui oleh Kholifah membantu perekonomian keluarganya. Kholifah sehari-hari bekerja sebagai penjahit. Sementara ayah Safira, Sugiyanto (53 tahun), bekerja sebagai tukang bangunan.
"Setiap Safira dapat bingkisan dari kejuaraan pencak silat, dia selalu peduli dengan keluarganya. Rumah ini nan merenovasi juga Safira," ungkapnya.
Selain itu, Safira juga membelikan keluarganya sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari. Safira juga membeli sebidang tanah untuk investasi masa depan. Sisanya, jerih payah hasil menjadi atlet ditabung untuk masa depan.
"Saya juga dibelikan sepeda motor. Ya intinya alhamdulillah Safira sangat membantu perekonomian keluarga," imbuhnya.
Sebagai orang tua, dia dan suaminya selalu mendoakan anak-anaknya. Ia berambisi Safira semakin sukses ke depannya.
"Semoga selalu sukses bumi dan akhirat," imbuhnya.
Reporter: Vega M. Ula
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·