Cerita Keluarga Kecelakaan Kereta Bekasi: Terlempar Bersama Tumpukan Penumpang

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Aditya Subagja Putra, salah satu family korban kecelakaan kereta saat ditemui di RSUD Kota Bekasi, Kamis (30/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Keluarga korban kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur mengungkap peristiwa nan dialami Anggita Rizka Utami (37) salah satu korban luka dalam kejadian tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin (27/4) lalu.

Aditya Subagja Putra, adik korban, menyebut saat kejadian, sang kakak berada di dekat bangku prioritas gerbong unik wanita. Sesaat sebelum kecelakaan terjadi, korban sedang mencoba menghubungi suaminya.

“Ceritanya, tadinya dia mau ngabarin suaminya lantaran keretanya delay, tiba-tiba sebelum dia kirim, keretanya tabrakan,” kata Aditya di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/4).

Adit menyebut, dalam kejadian tersebut korban mengalami tumbukan keras hingga terhimpit dan terpental berbareng penumpang lainnya.

Aditya Subagja Putra, salah satu family korban kecelakaan kereta saat ditemui di RSUD Kota Bekasi, Kamis (30/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

“Dan dia terlempar sama tumpukan orang-orang gitu,” ujar Aditya.

Adit menyebutkan, berasas keterangan sang kakak, pada saat itu dia dapat keluar melalui pintu nan terbuka otomatis pada gerbong tersebut.

“Dekat sama bangku prioritas katanya, jadi dia pas kejadian terhimpit dan pintunya itu otomatis kebuka, lampau dia keluar di situ. Masih bisa keluar,” lanjutnya.

Aditya menambahkan, korban mengalami luka di beberapa bagian tubuh akibat kejadian tersebut.

“Luka lebam di tangan sebelah kanan, sama kakinya, sama punggungnya. Itu enggak bisa bangun sendiri gitu, kudu dibantu. Jadi dia dirujuk ke master ahli saraf,” ujarnya.

Sejumlah kerabat korban kecelakaan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi menunggu berita di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Namun dia memastikan tidak ada tindakan operasi nan dilakukan terhadap korban.

“Eggak ada,” katanya.

Terkait penanganan awal, korban sempat dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada hari kejadian dan dipulangkan pada awal hari lantaran kondisi awal dinilai tidak terlalu parah.

“Di hari kejadian, dia IGD terus dipulangkan di jam 2 pagi ya, jam 2 pagi, lantaran kelihatannya enggak terlalu parah mungkin ya, jadi dipulangkan,” jelasnya.

Namun, kondisi korban kemudian memburuk keesokan harinya sehingga kembali dibawa ke akomodasi kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan hingga akhirnya menjalani rawat inap.

“Udah gitu pas hari besoknya baru berasa, baru dibawa ke sini lagi buat check-up, tadinya mau check-up tapi jadinya malah kayak rawat inap,” kata Aditya.

Selain kondisi fisik, korban juga sempat mengalami syok pascakejadian. Namun, menurut keluarga, kondisinya sekarang mulai membaik setelah mendapatkan pendampingan psikologis.

“Sebenarnya sudah lumayan membaik ya dari awal mah. Soalnya kemarin tetap syok, dan sekarang udah ada pengarahan ilmu jiwa juga dari pihak KAI, jadi udah bisa cerita,” ujarnya.

Keluarga menyebut proses pemulihan korban tetap terus berlangsung, baik secara bentuk maupun psikologis, setelah menjadi salah satu penumpang nan terdampak langsung dalam kejadian kecelakaan tersebut.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan