Cerita Ibu Dihubungi Anak Seminggu Sebelum Kecelakaan Kereta: Ma Aku Mau Pulang

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Suasana pemakaman Harum Anjasari di TPU Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

Rumah nan dulu menjadi tempat Ibu Sri Lestari membesarkan putri sulungnya, Harum Anjarsari (30), sekarang diselimuti duka mendalam. Harum meninggal bumi dalam kecelakaan maut KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek.

Bagi Sri, Harum bukan sekadar anak. Ia sudah seperti kawan dekat, apalagi sahabat. Sejak kecil, Sri merawat dan membesarkan Harum dengan sepenuh hati hingga dia menikah dan tinggal terpisah.

"Bestie banget, kayak teman. Jadi jika sama Ibu kayak teman," kata Sri di rumahnya di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4).

Seminggu sebelum kecelakaan itu terjadi, Sri sempat dihubungi oleh Harum melalui telepon.

"Dia sebelum meninggal minta pulang. ‘Aku mau pulang ke rumah Mama, saya mau pulang.’ Itu tandanya dia, ya akhirnya pulang,” tutur Sri.

“Dia juga bilang ke teman-temannya, ‘Mau pulang ke rumah Mama, capek,’ begitu,” tambahnya.

Minta Ibu Rapikan Rumah Sebelum Lebaran

Harum juga sempat meminta ibunya untuk merapikan rumah menjelang Lebaran. Sri pun menuruti permintaan putrinya itu.

“Seminggu sebelum Lebaran, dia minta rumahnya dirapikan. Kita nggak tahu jika itu tanda-tanda,” ujarnya.

Keluarga almarhum Harum Anjasari di TPU Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

"Mama, rapihin, Ma. Seminggu lagi mau Lebaran, kudu keburu," kata Sri menirukan permintaan anaknya saat itu.

Kecelakaan

Malam saat kecelakaan terjadi, ponsel Sri berdering. Suami Harum menelepon dan menyampaikan kabar.

"Ma, Arum ada di gerbong nan kecelakaan itu," kata Sri menirukan ucapan menantunya.

Keluarga pun melakukan pencarian ke beragam rumah sakit di Bekasi hingga awal hari. Kondisi Harum akhirnya diketahui setelah mereka memandang buletin di televisi.

"Aku nggak tahu kudu bagaimana. ‘Itu Arum sudah ketemu, namanya ada di berita.’ Ternyata kami tahu lebih dulu dari TV, baru kemudian diumumkan secara resmi di RS Polri,” cerita Sri.

Sri kemudian menelepon suaminya nan sedang menunggu di RS Polri. Sang suami pun terisak, tak menyangka berita duka itu dia terima dari istrinya nan memantau buletin di rumah.

“Akhirnya pulang juga ke rumah ayah, kamu, Mbak,” ujar Sri menirukan ucapan suaminya.

Sosok Harum

Di mata Sri, Harum adalah sosok pekerja keras nan tak pernah mengeluh. Sejak usia 19 tahun, apalagi sebelum ijazahnya keluar, Harum sudah bekerja demi membahagiakan orang tua.

“Motonya, dia mau membahagiakan orang tua. Angan-angannya banyak,” ujar Sri.

Setiap kali libur panjang, Harum selalu menyempatkan diri menginap di rumah ibunya sembari membawa anaknya nan tetap berumur tiga tahun. Hobi mereka pun sama, ialah berburu kuliner.

“Tapi sekarang sudah nggak bisa lagi menginap di rumah aku. Sudah nggak ada lagi nan sayang sama Mama,” ucapnya menahan tangis.

Harum dimakamkan di TPU Cipayung pada Rabu (29/4) siang.

Sri menitipkan pesan kepada pihak KAI agar sistem persinyalan diperbaiki sehingga kejadian serupa tidak terulang.

"15 nyawa melayang. Ada nan kakinya sampai di atas, bayangkan. Mereka wanita semua, pejuang rupiah nan baru pulang kerja, termasuk anak saya," tutup Sri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan