Di lobi hotel nan berantakan, Lutfhi mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, tidak ada komunikasi nan jelas antara pihak hotel dan para visitor sebelum eksekusi berlangsung. Pihak hotel hanya memberikan info bahwa pelayanan tetap berjalan.
"Masalae wes mbayar, lah kemarin enggak ada pengumuman, enggak ada info. Cuma jam 9 malam jika enggak salah (kabar jasa hotel tetap berjalan)," ungkap Lutfhi, Kamis (18/6/2026).
Lutfhi mengaku hanya mengetahui bakal ada unjuk rasa di depan hotel tempatnya menginap. Saat hendak ke letak kerja pagi hari, dia sempat memandang laman Hotel Sultan sudah terpasang kawat berduri. Ia sempat meminta izin kepada pengelola hotel untuk melintas dan diizinkan.
Ia tak punya firasat apa-apa dengan pemandangan itu. Apalagi pihak hotel sudah menginformasikan bahwa operasional tetap berjalan. Dengan kepercayaan tersebut, Lutfhi tetap bergegas ke letak aktivitas usai menyantap sarapan.
Jelang sore, Lutfhi kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum mengikuti agenda terakhir di Jakarta besok harinya. Betapa kagetnya dia lantaran sudah berantakan. Banyak petugas berjaga. Parahnya lagi, bilik para tamu nan sebelum tertutup rapat sudah dalam keadaan terbuka. Di tengah kebingungan, Lutfhi sempat berhadapan dengan petugas dan menanyakan apa nan terjadi
Dengan santainya Lutfhi menjawab mau ke kamar. Pada saat itulah, dia tahu bahwa hotel tersebut sedang dieksekusi.
"Saat pulang saya kan bawa kartu akses dilirik sama bapak polisi itu 'Mau ke mana mas?', 'Ke kamar', 'Lho gak tau tah jika hotelnya dieksekusi?', 'Lho tadi pagi kan hanya demo katanya' seperti itu," ucap Lutfhi.
Bagi Lutfhi, hilangnya busana bukanlah persoalan terbesar, meski nilainya cukup mahal. Dia lebih menyesalkan minimnya komunikasi pengelola hotel terhadap para tamu nan menginap saat proses tersebut berlangsung.
Menurutnya, kondisi ini sebenarnya bisa diantisipasi lebih awal. Jika pihak hotel memberikan info bakal ada eksekusi pengosongan, dia bakal mengemas peralatan dan pergi mencari hotel lain sehingga tidak menjadi korban.
Kini, meski pakaian telah raib, Lutfhi tetap menjalankan tanggung jawabnya. Ia mengembalikan kunci akses ke resepsionis, meski tak ada orang nan menyambut. Hanya adas petugas keamanan lampau lalang, tapi bukan untuk melayani. Mengenakan baju batik dan celana pendek sembari menenteng tas serta membawa barang-barang seadanya, Lutfhi akhirnya melangkah keluar dari lobi hotel.
Ia berupaya mencari pihak manajemen nan semestinya dapat dimintai pertanggungjawaban atas situasi nan dialaminya saat ini.
Namun, upaya itu tak membuahkan hasil. Tak satu pun pihak hotel sukses dia temui. Pada akhirnya, Lutfhi hanya bisa meninggalkan hotel dan mencari tempat menginap lain.
Di tengah perjalanan dinas nan belum usai, dia terpaksa merogoh kocek tambahan untuk bayar penginapan baru. Padahal, ada satu sisa satu malam nan semestinya dia dapatkan.
"Lah jika ada (informasi eksekusi) ya saya bawa semuanya. Saya gak mungkin kembali dan busana kayak gini kan, ini sepatunya di sini kayak wong ngungsi gini lho. Ya opo lali mau cari hotel lagi," curhatnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·