Cerita Ardi, Gondolaman yang Menggantung Nyawa dan Harapan di Langit Jakarta

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ardi Suhardi (30), pekerja Rope Access asal Pandeglang. Foto: Dok. Pribadi

Bagi Ardi Suhardi (30), gedung-gedung tinggi di Jakarta bukan sekadar lanskap kota. Di sanalah dia bekerja, berjuntai pada seutas tali, menjalani hari-hari sebagai Rope Access Technician alias gondolaman—profesi nan penuh risiko, sekaligus menjadi tumpuan hidupnya.

Ardi bukan dari Jakarta, dia berasal dari Kampung Kadu Apus, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Banten, nan merantau ke ibu kota untuk mencari nafkah.

“Saya dari Pandeglang, bekerja sebagai Rope Access/Gondolaman di Jakarta,” kata Ardi saat dihubungi kumparan, Senin (4/5).

Nekat Merantau dengan Bekal Rp 100 Ribu

Perjalanan Ardi ke Jakarta dimulai tanpa rencana besar. Ia hanya mengikuti rayuan teman, dengan bekal seadanya dan angan sederhana ialah mencari nafkah.

“Dulu merantau lantaran diajak teman, nggak ada family juga di Jakarta. Cuma pengin cari nafkah aja gitu,” kata Ardi.

Ia tetap mengingat betul awal perjalanannya meninggalkan kampung halaman.

“Dulu dibekali sama orang tua Rp 100 ribu buat naik bus dari Terminal Labuan ke Kalideres. Buat naik bus Rp 35 ribu,” terang Ardi.

Setibanya di Jakarta, Ardi sempat tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sebelum akhirnya menetap di kontrakan berbareng dua rekannya di Jatibening, Bekasi. Setiap hari, dia berangkat kerja menggunakan KRL.

Sebelum menemukan pekerjaannya saat ini, Ardi sempat mencoba beragam pekerjaan.

“Pertama itu saya kerja jadi sales elektronik di Pandeglang, hanya 1 bulanan, soalnya pendapatannya nggak mencukupi buat sehari-hari,” ucapnya.

Ia kemudian merantau ke Jakarta dan menjadi kenek gedung selama sekitar enam bulan.

“Terus kawan ajak kerja jadi pekerja bangunan/kenek gedung di Jakarta, sekitar tahun 2018. Nggak lama, 6 bulanan,” lanjutnya.

Pendidikan Terhenti, Hidup Harus Berlanjut

Ardi bukan laki-laki dengan pendidikan tinggi. Pendidikannya berakhir di bangku SMP.

“Saya lulus SMP tahun 2012, lantaran keterbatasan ekonomi, jadi nggak bisa lanjut sekolah,” jelas Ardi.

Latar belakang keluarganya pun sederhana. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pekerja pembuatan emping di kampung halaman.

“Orang tua saya kerja pekerja pembuatan emping, kerja sama orang di kampung. Sampai sekarang tetap bekerja,” kata Ardi.

Namun dari kondisi itu, Ardi justru belajar tentang ketekunan dan rasa syukur. Ia juga tetap mengingat pesan sederhana dari orang tuanya.

“Kalau orang tua sih hanya pesan hati-hati dan jangan lupa bermohon selama kerja. nan krusial berangkat selamat, pulang juga selamat,” jelas Ardi.

Menggantung di Ketinggian, Bertaruh Nyawa

Ardi Suhardi (30), pekerja Rope Access asal Pandeglang. Foto: Dok. Pribadi

Pekerjaan sebagai gondolaman bukanlah pilihan instan. Ardi memulainya dari nol, belajar sembari bekerja hingga akhirnya mempunyai sertifikasi.

“Sambil belajar jadi gondolaman, ikut sertifikasi, baru diajak sepupu buat kerja. Sampai sekarang tetap jadi Rope Access, udah 7 tahunan,” kata Ardi.

Kini, dia bekerja secara freelance, beranjak dari satu proyek ke proyek lainnya.

“Sekarang di Rope Access statusnya freelance, pindah-pindah vendor, sesuai siapa aja nan memerlukan jasa sama tenaga kita,” katanya.

Dalam sebulan, dia bisa menangani pekerjaan di dua hingga tiga gedung berbeda.

Pekerjaannya pun beragam, semuanya dilakukan dengan tali di ketinggian.

“Pekerjaan sehari-harinya sih bersihin kaca, ngecat, perbaikan, pokoknya nan pakai tali,” jelas Ardi.

Soal penghasilan, Ardi bilang ada peningkatan signifikan dibanding masa lalunya.

“Kalau jadi sales dulu sebulan Rp 300 ribu, pindah ke sipil per hari Rp 50 ribu, terus jika di Rope Access sekarang per hari bisa Rp 300 ribu-Rp 500 ribu,” terangnya.

Namun, di kembali itu, akibat besar selalu mengintai dirinya.

“Kalau soal takut sih pasti ada takut, tapi kudu percaya sama diri sendiri aja. Nggak bisa berjuntai sama orang lain jika kerja gini,” kata Ardi.

Ia mengakui kelelahan dalam bekerja adalah perihal nan tak terhindarkan.

“Kalau capek pasti ada. Apalagi jika kita nemu nan gedungnya ribet alias apa gitu kan pasti ada (rasa capek),” ucap Ardi.

Bahkan, kemauan untuk mencari pekerjaan lain kerap muncul, apalagi setelah dirinya berkeluarga.

“Ya lantaran kan ini risikonya nyawa juga gitu. Tinggi lah ini risikonya gitu kan pengin cari kerja nan lain, apalagi sudah berfamili kan akibat kepikiran terus kan gitu,” minta Ardi.

Namun untuk saat ini, dia memilih tetap memperkuat sejenak.

“Pernah berpikir cari kerja nan lain, hanya kan daripada kita belum ada tujuan ya kan mending kita jalanin saja dulu gitu,” kata Ardi.

Harapan untuk Anak

Ardi Suhardi (30), pekerja Rope Access asal Pandeglang. Foto: Dok. Pribadi

Di kembali kerasnya hidup di Jakarta, Ardi sekarang mempunyai argumen nan lebih besar untuk memperkuat ialah keluarganya.

Ia menikah pada akhir 2023 dan sekarang telah mempunyai seorang anak laki-laki nan baru berumur satu bulan. Istri dan anaknya tinggal di kampung halaman, dirinya tidak setiap saat pulang.

“Pulang nggak tentu, kalau freelance itu kan kadang-kadang satu minggu sekali alias dua minggu sekali, kadang sebulan sekali gitu,” kata Ardi.

Meski hidupnya penuh keterbatasan, Ardi menyimpan angan besar untuk anaknya kelak.

“Saya sih berambisi anak saya kelak jangan kayak saya, jika bisa lebih dari saya sekarang ini,” ujar Ardi penuh harap.

Dulu, dia bercerita sempat punya mimpi nan tak dapat diwujudkan.

“Dulu saya pengin jadi Ustaz, tapi nggak kesampaian,” kata Ardi.

Kini, dia hanya mau memastikan anaknya mempunyai kesempatan nan lebih baik.

Di tengah segala akibat dan ketidakpastian, Ardi memegang satu prinsip sederhana dalam hidup.

“Ya intinya jika saya itu jangan nganggur di rumah saja. Mau mini mau besar pendapatan kita kan rezeki sudah ada nan mengatur begitu kan, kita berterima kasih saja. Kita sudah dikasih kerjaan saja sudah alhamdulillah ya kan,” ujar Ardi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan