Cegah Jalan Ambles, Pengamat Tata Kota Sebut Pemprov DKI Harus Audìt Sistem Drainase

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Cegah Jalan Ambles, Pengamat Tata Kota Sebut Pemprov DKI Harus Audìt Sistem Drainase Sejumlah pekerja Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan melakukan perbaikan jalan amblas di Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta, Jumat, (29/5/2026).(ANTARA/AHMAD NAUFAL)

PENGAMAT Tata Kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mengingatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta agar tidak hanya konsentrasi pada penanganan jangka pendek mengenai jalan ambles di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Yayat menegaskan, peristiwa tersebut kudu menjadi momentum untuk melakukan audit total terhadap kondisi pengetahuan bumi dan sistem drainase tua di seluruh wilayah ibu kota.

Menurut Yayat, penanganan secara parsial di satu titik tidak bakal menyelesaikan akar masalah, mengingat struktur tanah di Jakarta secara umum berkarakter labil dan terus mengalami penurunan.

"Mengetahui kondisi nan terjadi pada jalan Lenteng Agung ini tidak boleh dipetakan pada letak itu saja. Harus ada pemetaan tentang kondisi tanah nan ada di sekitar area tersebut, apakah kemungkinan ada aktivitas tanah, alias potensi terjadinya amblas tidak hanya pada jalan Lenteng Agung tapi juga bisa masuk ke sekitar jaringan rel kereta api," ujar Yayat ketika dihubungi, Kamis (4/6/2026).

Yayat mengimbau Pemprov DKI meningkatkan kehati-hatian lantaran kejadian amblasnya jalan akibat gorong-gorong tua bawah tanah juga kerap melanda kota-kota besar lain, seperti Bandung. Sebagai langkah konkret pencegahan, dia mendesak keterlibatan lintas dinas untuk mendeteksi ancaman di bawah aspal jalan arteri Jakarta.

"Mudah-mudahan tidak ada retakan alias kondisi nan lebih mengkhawatirkan di sepanjang jalan-jalan tersebut," tuturnya.

Yayat mengatakan pengawasan ketat terhadap kebocoran saluran air bawah tanah juga krusial dilakukan oleh dinas terkait. Kebocoran drainase nan dibiarkan terus-menerus bakal memicu rembesan air tinggi nan mengikis kekuatan struktur tanah dari dalam.

"Struktur tanah nan melemah akibat rembesan air itu kemudian dihantam lagi oleh tekanan beban tonase ribuan kendaraan dari nan ringan sampai nan berat setiap harinya. Ini nan kudu dicegah agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan," jelas Yayat.

Lebih lanjut, Yayat meminta masyarakat ikut proaktif melaporkan kepada pemerintah jika memandang adanya indikasi awal penurunan tanah alias keretakan jalan di lingkungan sekitar mereka. Kontur tanah Jakarta nan didominasi tanah lunak dinilai menyimpan akibat tinggi.

Ia meminta pemerintah belajar dari pengalaman saat Jalan R.E. Martadinata di Jakarta Utara amblas total secara dramatis ke arah laut pada 2010 lalu.

"Kejadian nan sama pernah terjadi sekitar tahun 2010 ketika Jalan R.E. Martadinata itu amblas, runtuh ke badan air lantaran rupanya tanahnya labil. Potensi tanah alias jalan amblas ini bisa terjadi di beragam tempat Jakarta jika memang aspek penurunan tanah, kondisi tanah lunak nan bertambah, dan kondisi tanah nan tidak stabil, ditambah lagi dengan beban volume kendaraan dengan tonase berlebih tidak menjadi perhatian serius kita," pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia