Cegah Banjir Susulan, Tito Minta Pembangunan Sabo Dam di Tapteng Dikebut

Sedang Trending 18 jam yang lalu

Jakarta -

Penanganan area hulu Tapanuli Tengah (Tapteng) Sumatera Utara (Sumut) dipercepat untuk mengantisipasi banjir susulan serta melindungi permukiman dan lahan pertanian penduduk andaikan terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan Sabo Dam Aek Tukka dan Sabo Dam Sigala-gala di Tukka sebagai prasarana pengendali sedimen.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan Tapteng menjadi salah satu wilayah nan mendapat perhatian unik dalam penanganan musibah di Sumut. Pengendapan lumpur sebelumnya berakibat pada permukiman, perkantoran, sekolah, rumah ibadah, hingga persawahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penanganan di wilayah hulu ini kudu kita percepat. Jangan sampai ketika hujan deras turun, aliran air dan material kembali turun dan berakibat ke masyarakat," ujar Tito dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Hal tersebut dia katakan saat meninjau progres rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Tapteng, hari ini.

Menurut Tito, Kecamatan Tukka memerlukan sistem unik untuk menghadapi curah hujan sekaligus aliran sedimen dari area perbukitan. Karena itu, pembangunan Sabo Dam menjadi bagian krusial dari sistem perlindungan kawasan.

Pada tahap awal, satu Sabo Dam Aek Tukka dan satu Sabo Dam Sigala-gala disiapkan untuk memperkuat pengendalian aliran air dan sedimen. Pembangunan tahap awal tersebut ditargetkan selesai pada Desember 2026.

Penguatan bakal dilanjutkan tahun depan melalui pembangunan dua Sabo Dam tambahan. Dengan demikian, total bakal terdapat empat Sabo Dam unik di Kecamatan Tukka untuk memperkuat perlindungan kawasan.

"Setelah itu, tahun depan dibangun lagi dua, jadi totalnya empat, unik di Kecamatan Tukka ini," kata Tito.

Adapun pembangunan Sabo Dam melangkah beriringan dengan normalisasi saluran air dan sungai serta pembangunan tembok penahan alias retaining wall sepanjang 1,6 kilometer. Infrastruktur tersebut dibutuhkan untuk memperkuat perlindungan area dari aliran air dan material nan berpotensi kembali menakut-nakuti permukiman.

Di sisi lain, pemulihan rumah penduduk dan akomodasi pelayanan dasar nan terdampak juga dilakukan. Langkah tersebut diperlukan agar pemulihan masyarakat tetap melangkah tanpa menunggu seluruh pekerjaan pengendalian di area hulu selesai.

Lebih lanjut, Tito menegaskan seluruh program pemulihan Tapteng perlu dilakukan secara paralel. Penguatan prasarana di hulu, normalisasi sungai, serta pemulihan beragam akomodasi terdampak menjadi satu rangkaian penanganan untuk mengurangi akibat sekaligus mempercepat kembalinya aktivitas masyarakat.

Dengan percepatan penanganan tersebut, Tapteng diharapkan tidak hanya pulih dari akibat bencana, tetapi juga mempunyai sistem perlindungan nan lebih kuat dalam menghadapi ancaman banjir dan sedimentasi

(akd/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News