Cara UT Maknai Kemerdekaan: Perluas Akses Pendidikan hingga Perkuat Riset

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Ilustrasi Universitas Terbuka. Foto: Dok. Universitas Terbuka

Kemerdekaan tidak hanya berfaedah terbebas dari penjajahan, tetapi juga terbukanya kesempatan bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh pendidikan nan layak. Dalam semangat Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Universitas Terbuka (UT) menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan tinggi, meningkatkan kompetensi lulusan, serta menghasilkan riset dan penemuan nan berkontribusi terhadap kemandirian bangsa.

Komitmen tersebut berangkat dari salah satu cita-cita besar kemerdekaan Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, ialah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sejak didirikan pada 1984, UT datang untuk menjawab persoalan terbatasnya akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi. Melalui sistem pembelajaran jarak jauh, UT menjangkau masyarakat nan terkendala jarak, waktu, pekerjaan, maupun kondisi geografis.

Jangkauan tersebut tercermin dari jumlah mahasiswa UT nan terus bertambah. Berdasarkan info semester 2025 ganjil, UT mencatat 768.248 mahasiswa teregistrasi nan tersebar di beragam wilayah Indonesia dan luar negeri. Data tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap sistem pendidikan tinggi nan elastis dan dapat diakses tanpa kudu beranjak tempat tinggal alias meninggalkan pekerjaan.

Mahasiswa UT berasal dari beragam latar belakang, mulai dari generasi muda, pekerja, guru, aparatur sipil negara, pelaku usaha, hingga masyarakat Indonesia nan tinggal di luar negeri. Sebanyak 60,72 persen mahasiswa UT berumur di bawah 25 tahun.

Sementara itu, berasas info pekerjaan mahasiswa, sekitar 79,9 persen mahasiswa UT telah bekerja alias mempunyai aktivitas ahli ketika menjalani perkuliahan.

Sekretaris Universitas Terbuka, Dr. Kurnia Endah Riana, S.E., M.Com., mengatakan bahwa pembangunan sumber daya manusia merupakan salah satu fondasi krusial bagi kemandirian sebuah bangsa.

“Peningkatan kesejahteraan berangkaian erat dengan tingkat literasi dan kualitas sumber daya manusia. UT mau menjangkau masyarakat nan selama ini belum terlayani perguruan tinggi negeri maupun swasta agar mereka mempunyai kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi,” ujar Riana.

Selain mengembangkan sistem pembelajaran jarak jauh, UT bekerja sama dengan pemerintah dan beragam mitra untuk menyediakan sejumlah skema beasiswa. Berdasarkan info nan dipublikasikan UT, sebanyak 23.375 mahasiswa tercatat menerima danasiwa dengan biaya kelolaan lebih dari Rp 44 miliar. Dari jumlah tersebut, 9.337 orang merupakan mahasiswa dari golongan berpenghasilan rendah.

Beasiswa tersebut antara lain berasal dari program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), tanggung jawab sosial perusahaan alias CSR mitra UT, pemerintah daerah, serta lembaga tempat mahasiswa bekerja. Dukungan ini menjadi bagian dari upaya UT memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menutup kesempatan seseorang untuk menempuh pendidikan tinggi.

Program KIP Kuliah dan danasiwa CSR dapat memberikan support biaya pendidikan hingga delapan semester. Bagi mahasiswa dari family berpenghasilan rendah, KIP Kuliah juga menyediakan support biaya hidup untuk mendukung kebutuhan selama menjalani pendidikan.

Menurut Riana, semakin luas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi, semakin besar pula kesempatan untuk meningkatkan keahlian berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, dan mengembangkan kompetensi nan dibutuhkan dalam kehidupan maupun bumi kerja.

Tak Sekadar Memperbanyak Lulusan

Perluasan akses pendidikan tidak cukup hanya diukur berasas jumlah mahasiswa dan lulusan. UT juga berupaya memastikan bahwa setiap lulusan mempunyai kompetensi nan relevan serta bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Untuk mewujudkannya, UT menjalankan penjaminan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan, termasuk pengguna lulusan dan asosiasi profesi.

“Ketika merancang kurikulum, kami wajib melibatkan pemangku kepentingan alias stakeholder. Salah satunya adalah pengguna lulusan dan asosiasi profesi. Dengan demikian, kompetensi lulusan UT dapat tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan bumi kerja,” jelas Riana.

Pelibatan beragam pihak menjadi krusial lantaran perkembangan teknologi dan kebutuhan bumi kerja berjalan sangat cepat. Kurikulum nan sesuai dengan kebutuhan hari ini belum tentu tetap relevan beberapa tahun mendatang.

Oleh lantaran itu, UT secara berkala melakukan pemantauan dan pertimbangan terhadap kurikulum, bahan ajar, metode pembelajaran, serta pertimbangan hasil belajar mahasiswa.

“UT secara konsisten memperbaiki kurikulum, terutama berangkaian dengan kompetensi nan kudu dimiliki lulusan. Kami melakukan pemantauan, kemudian menyesuaikan bahan ajar, metode pembelajaran, hingga pertimbangan hasil belajar,” tegas Riana.

UT juga melakukan tracer study untuk mengetahui perkembangan pekerjaan dan relevansi kompetensi lulusan di bumi kerja. Hasil kajian tersebut digunakan untuk memetakan kompetensi nan perlu diperkuat dalam proses pembelajaran.

Hampir 80 persen mahasiswa UT diketahui telah bekerja saat menjalani perkuliahan.

Bagi golongan mahasiswa ini, pendidikan tinggi bukan hanya jalan memperoleh gelar, melainkan juga kesempatan meningkatkan kompetensi, menunjang perkembangan karier, dan memperbaiki kondisi ekonomi.

Guru Besar Memperkuat Riset nan Berdampak

Komitmen UT untuk berkontribusi terhadap pembangunan nasional juga diwujudkan melalui penguatan riset dan inovasi. Salah satunya ditandai dengan pengukuhan 12 pembimbing besar dari beragam bagian kepakaran.

Dengan pengukuhan tersebut, UT sekarang mempunyai 45 pembimbing besar. Namun, penambahan jumlah pembimbing besar tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan legalisasi ataupun meningkatkan posisi UT dalam pemeringkatan perguruan tinggi. Lebih dari itu, penguatan sumber daya akademik tersebut menjadi bagian dari transformasi UT, dari perguruan tinggi nan berfokus pada pengajaran alias teaching-led university menuju perguruan tinggi berbasis riset nan memberikan akibat langsung kepada masyarakat.

“Guru besar dan setiap pendidik di UT diharapkan menghasilkan riset dan penemuan nan dapat menjadi bagian dari solusi atas persoalan bangsa. Sebagai perguruan tinggi negeri, kami juga diukur berasas akibat nan dihasilkan. Karena itu, riset tidak hanya berhujung sebagai publikasi, tetapi idealnya dapat digunakan untuk memecahkan persoalan dan mendukung kemajuan bangsa,” papar Riana.

Kedua belas pembimbing besar nan baru dikukuhkan mempunyai kepakaran nan mencakup pendidikan, bahasa, matematika, tata kelola pemerintahan, politik, lingkungan, serta transformasi digital. Mereka adalah:

  1. Prof. Rahmat Budiman, S.S., M.Hum., Ph.D., bagian kepakaran English Writing;

  2. Prof. Dr. Juhana, M.Pd., bagian kepakaran English Language Instruction;

  3. Prof. Dr. Yumiati, M.Si., bagian kepakaran Pembelajaran Aljabar;

  4. Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Pd., bagian kepakaran Model Pembelajaran Anak Usia Dini;

  5. Prof. Made Yudhi Setiani, S.IP., M.Si., Ph.D., bagian kepakaran Pendidikan Jarak Jauh pada Pendidikan Politik;

  6. Prof. Dr. Milwan, S.Sos., M.Si., bagian kepakaran Kebijakan Layanan Umum Pemerintahan dan Otonomi Daerah;

  7. Prof. Dr. Tita Rosita, M.Pd., bagian kepakaran Perencanaan Pendidikan;

  8. Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Si., bagian kepakaran Smart Governance, Transformasi, dan Keberlanjutan Pembangunan;

  9. Prof. Dr. Ir. Edi Rusdiyanto, M.Si., bagian kepakaran Lingkungan Perkotaan;

  10. Prof. Dr. Suparti, M.Pd., bagian kepakaran Pembelajaran Literasi Bahasa;

  11. Prof. Dr. Mery Noviyanti, S.Si., M.Pd., bagian kepakaran Komputasi dan Strategi Pembelajaran Matematika; dan

  12. Prof. Dr. Rahmat Hidayat, S.Sos., M.Si., bagian kepakaran Digital Governance.

Keragaman bagian kepakaran tersebut diharapkan memperkuat keahlian UT dalam menghasilkan penelitian lintas disiplin nan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan agenda pembangunan nasional.

Pendidikan Sebagai Jalan Menuju Kemandirian

Bagi UT, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari makna kemerdekaan. Bangsa nan merdeka bukan hanya bangsa nan mempunyai kebebasan politik, tetapi juga bangsa nan bisa mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan penemuan untuk menentukan arah pembangunannya sendiri.

Indonesia tetap menghadapi sejumlah tantangan, termasuk ketergantungan terhadap negara lain dalam bagian ekonomi dan teknologi. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu prasyarat untuk memperkuat kedaulatan dan daya saing bangsa.

“Kita tetap mempunyai ketergantungan di bagian ekonomi maupun teknologi kepada negara lain. Harapannya, melalui pendidikan dan penguatan sumber daya manusia, Indonesia semakin bisa berdiri di atas kaki sendiri,” ujar Riana.

Dalam konteks tersebut, pemerataan akses pendidikan tinggi merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia. Semakin banyak masyarakat nan memperoleh pendidikan berkualitas, semakin besar pula kesempatan bangsa ini menghasilkan sumber daya manusia nan bisa menciptakan pengetahuan, teknologi, dan penemuan untuk menjawab persoalannya sendiri.

Bagi Universitas Terbuka, itulah salah satu langkah memaknai kemerdekaan: memastikan bahwa tempat tinggal, kondisi ekonomi, usia, dan kesibukan bekerja tidak menutup kesempatan seseorang untuk memperoleh pendidikan tinggi serta berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan