Ketersediaan sembako di Batam tetap aman, namun nilai beberapa komoditas mulai merangkak naik.(MI/HENDRI KREMER)
HARGA sejumlah bahan pokok di Kota Batam mengalami kenaikan signifikan pada awal April 2026. Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabe nan sekarang menembus nilai tinggi dan dikeluhkan masyarakat.
Beberapa pasar tradisional seperti Pasar Penuin Wet Market dan Pasar Mitra Raya, harga cabai rawit mencapai kisaran Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Sementara itu, cabe merah dijual sekitar Rp50.000 hingga Rp70.000 per kilogram, tergantung kualitas dan pasokan.
Tidak hanya cabai, kenaikan juga terjadi pada bahan pokok lainnya. Harga beras medium sekarang berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp17.000 per kilogram, sedangkan minyak goreng curah menyentuh Rp20.000 per liter. Gula pasir pun naik menjadi sekitar Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram.
Di sektor protein, nilai daging ayam terpantau naik menjadi Rp42.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Telur ayam juga mengalami kenaikan dan sekarang dijual sekitar Rp30.000 hingga Rp33.000 per kilogram di tingkat pasar.
Kondisi ini membikin masyarakat kudu mengatur ulang pengeluaran rumah tangga. Banyak penduduk mengaku keberatan dengan kenaikan nilai nan terjadi secara bersamaan.
“Sekarang shopping jadi lebih mahal, terutama cabai. Biasanya beli sedikit sudah cukup, sekarang kudu dikurangi,” ujar Ani, 43, seorang ibu rumah tangga di area Batam Center.
Hal senada disampaikan Roma, 28, seorang ibu rumah tangga nan tinggal di Batam Center. Ia mengaku kudu lebih berhemat akibat kenaikan nilai kebutuhan pokok.
“Kenaikannya terasa sekali, apalagi cabai. Ini saja shopping seikit-sedikit, ngak tahu bisa irit alias tidak,” katanya.
Kenaikan nilai sembako ini juga berakibat pada pelaku upaya mini seperti pedagang makanan. Mereka terpaksa meningkatkan nilai jual alias mengurangi porsi untuk menyesuaikan biaya produksi nan meningkat.
Sejumlah pedagang menyebut bahwa kenaikan nilai dipicu oleh terbatasnya pasokan dari wilayah pemasok serta meningkatnya biaya distribusi. Sebagai wilayah kepulauan, Batam tetap sangat berjuntai pada pasokan dari luar daerah, sehingga rentan terhadap perubahan harga.
Pemerintah wilayah sebelumnya menyatakan bahwa stok bahan pokok tetap dalam kondisi aman. Namun, masyarakat berambisi adanya langkah konkret untuk menstabilkan harga, terutama pada komoditas nan mengalami lonjakan tinggi seperti cabai. Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan daya beli masyarakat bakal semakin menurun dan berakibat pada aktivitas ekonomi lokal. Sementara itu, Disprindag Kota Batam belum turun ke lapangan memeriksa kenaikan sembako ini. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·