Buruh Ungkap Banyak Perusahaan Ogah Umumkan PHK, Ini Alasannya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), Ristadi mengungkap banyak perusahaan sengaja tidak membuka info pemutusan hubungan kerja (PHK) ke publik. Menurutnya, perusahaan berupaya menjaga gambaran agar tetap terlihat sehat di mata perbankan dan pembeli.

Ristadi mengatakan perusahaan cemas jika kasus PHK terekspos luas, tingkat kepercayaan bank maupun buyer bakal menurun. Kondisi itu dinilai bisa memengaruhi pendanaan hingga volume pesanan ke perusahaan.

"Perusahaan mau menjaga stabilitas kondusivitas perusahaannya agar tetap terlihat sehat. Ini adalah untuk menjaga trust perbankan dan juga buyer. Sebab jika kemudian PHK itu diekspos diketahui oleh pihak bank, diketahui oleh pihak buyer tentu kondisi perusahaan tersebut dianggap menurun," kata Ristadi saat dihubungi detikcom, Selasa (12/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehingga kemudian sudah peralatan tentu trust dari baik itu perbankan alias buyer bakal turun dan ini bakal mempengaruhi volume order ataupun juga mempengaruhi fundraising alias sumber modal daripada perusahaan tersebut," sambung Ristadi.

Menurutnya, situasi tersebut justru dapat memperparah kondisi perusahaan nan bakal berakibat juga ke tenaga kerja. Karena itu, banyak perusahaan memilih menghindari publikasi mengenai PHK massal.

"Secara logika bisa mengakibatkan kondisi perusahaan lebih jelek itu ada betul juga. Dan saya berpikir nasib personil saya nan di perusahaan tersebut kelak jika kondisi perusahaan makin jelek saya bakal jadi korban anggota-anggota saya lagi dan PHK lagi kan, kasihan," ujar Ristadi.

Pada kesempatan itu, Ristadi menilai info PHK nan dirilis pemerintah belum sepenuhnya akurat. Menurutnya, jumlah PHK riil diyakini lebih besar dari nomor resmi pemerintah.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) merilis info terbaru nomor PHK periode Januari-April 2026. Berdasarkan info nan diunggah di situs Satudata Kemnaker, nomor PHK pada periode tersebut mencapai 15.425 orang.

"PHK massal itu pabrik tutup condong lebih menurun ya, lebih menurun. Tapi bukan berfaedah kemudian info nan disampaikan itu memang aktual begitu, enggak juga. Jadi bukan 15 ribuan (korban PHK) itu, tapi saya meyakini tetap datanya di atas itu dengan PHK nan tadi nan tertutup itu," tuturnya.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance