Bupati Fawait Libatkan Pesantren dan Guru Ngaji dalam Pembangunan Jember

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Bupati Jember, Muhammad Fawait alias Gus Fawait. Foto: Dok. Pemkab Jember

Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, terus berupaya memperluas akses partisipasi masyarakat dari beragam lapisan. Termasuk kalangan pondok pesantren dan pembimbing ngaji.

Hal itu dikemukakan oleh Bupati Jember, Muhammad Fawait alias Gus Fawait, melalui keterangannya usai membentuk Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) sekaligus juga Forum Komunikasi Guru Ngaji (FKGN).

"Kami mau pembangunan Jember melibatkan banyak pihak termasuk pembimbing ngaji dan pondok pesantren," terangnya, Selasa (16/6).

Keberadaan pesantren sangat lekat hubungannya dengan kehidupan masyarakat kota tembakau. Secara historis maupun kultural tertaut erat.

Gus Fawait pun menilai pesantren dan pembimbing ngaji merupakan entitas penting. Pasalnya, keduanya menempati posisi dalam struktur sosial sampai ke akar rumput.

Jumlah pesantren nan terdeteksi oleh Kemenag mencapai 773 lembaga. Lebih dari tiga kali lipat jumlah desa dan kelurahan se-Jember.

Guru ngaji nan terdata di Pemkab Jember menembus nomor 21 ribu orang. Setara dengan rata-rata 85 orang nan tersebar di 248 desa dan kelurahan.

Bagi Gus Fawait, pelibatan pesantren berbareng pembimbing ngaji sangat strategis. Manfaat untuk Pemkab Jember bisa mempermudah mendeteksi sekaligus menyerap aspirasi masyarakat.

Bupati Jember, Muhammad Fawait alias Gus Fawait. Foto: Dok. Pemkab Jember

Selaku pengambil kebijakan, Gus Fawait merasa bakal lekas memperoleh gambaran komprehensif tentang kebutuhan masyarakat untuk bahan menyusun program nan tepat.

"Saya berambisi pembimbing ngaji membantu kami untuk membangun Jember. Forum ini menjadi komunikasi antara Pemkab dengan semua komponen masyarakat," jelasnya.

Seluruh lembaga di lingkungan Pemkab Jember oleh Gus Fawait diminta menjalin hubungan selaras dengan pesantren dan pembimbing ngaji. Memposisikan mereka sebagai subjek, bukan lagi objek pembangunan.

​"Ke depan tidak ada pembatas. Kita melibatkan pondok pesantren dan pembimbing ngaji agar para santri bisa mendapatkan kewenangan dan akses nan sama, untuk program-program Pemkab Jember," tutur Gus Fawait.

Ke depan, Pemkab Jember mempersiapkan pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Bahkan, pesantren menjadi bagian dalam pengedaran lapangan kerja.

Melalui kerja sama dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Pemkab Jember menyiapkan program training unik untuk santri menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) nan kompeten.

"Seperti nan disampaikan Pak Wamen P2MI kemarin, kita pastikan santri nan mau jadi PMI bisa kita fasilitasi. Jadi, bukan hanya support kepada pondoknya saja, tetapi juga kepada santrinya," pungkas Gus Fawait.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan