Bung Karno dan Gus Dur: Dua Panggilan, Satu Napas Kebangsaan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Ir. Soekarno. Foto: Shutterstock

Dalam sejarah Indonesia, ada tokoh-tokoh nan datang bukan sekadar sebagai pemimpin, melainkan juga sebagai penanda zaman. Mereka tidak hanya memimpin negara, tetapi juga membentuk langkah bangsa ini memandang dirinya sendiri. Dua nama besar nan susah dipisahkan dari perjalanan Indonesia adalah Bung Karno dan Gus Dur.

Keduanya lahir di era nan berbeda, berjuang dalam medan perjuangan nan berbeda juga, tetapi mempunyai satu titik jumpa nan kuat: kecintaan nan mendalam kepada Indonesia. Bung Karno datang sebagai penggugah kesadaran nasional, penyambung lidah rakyat, dan perumus khayalan besar tentang bangsa merdeka, sedangkan Gus Dur datang sebagai penjaga kemanusiaan, pembela keberagaman, dan pengingat bahwa Bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan jiwa welas asihnya.

Keduanya dikenal tidak hanya dengan nama lengkapnya saja, justru nama panggilannya nan lebih terkenal. Soekarno lebih berkawan dipanggil “Bung Karno”, sementara Abdurrahman Wahid lebih melekat dengan panggilan “Gus Dur”. Dua panggilan ini bukan sekadar sapaan, melainkan juga gambaran kedekatan, karakter, dan langkah mereka datang di tengah rakyat.

Panggilan “Bung” dalam diri Bung Karno mengandung semangat persaudaraan revolusioner. “Bung” berfaedah saudara, kawan seperjuangan, seseorang nan berdiri sejajar dalam cita-cita kemerdekaan. Dengan panggilan itu, Soekarno tidak tampil sebagai penguasa nan jauh, tetapi sebagai bagian dari rakyat nan sedang berjuang. Ia bukan hanya presiden pertama Republik Indonesia, melainkan juga simbol keberanian bangsa nan lama dijajah untuk berdiri tegak di hadapan dunia.

Sementara itu, panggilan “Gus” pada Gus Dur berasal dari tradisi pesantren, biasanya disematkan kepada putra ustad alias tokoh muda dari lingkungan keagamaan. Namun dalam diri Gus Dur, panggilan itu berkembang menjadi simbol kehangatan, kecerdasan, humor, dan kebijaksanaan. Gus Dur tidak tampil sebagai tokoh nan kaku. Ia datang sebagai manusia nan dekat, kadang jenaka, kadang mengejutkan, tetapi selalu menyimpan kedalaman moral.

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Istana Kepresidenan di Jakarta, pada 27 Oktober 1999. Foto: AGUS LOLONG / AFP

Bung Karno dan Gus Dur sama-sama memahami bahwa Indonesia bukan bangsa nan sederhana. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, banyak bahasa, beragam agama, adat, dan tradisi. Karena itu, Indonesia tidak bisa dibangun dengan langkah berpikir nan sempit. Indonesia memerlukan khayalan besar, hati nan lapang, dan keberanian untuk merangkul perbedaan.

Di sinilah pemikiran Bung Karno dan Gus Dur saling beririsan. Bung Karno memandang Indonesia sebagai bangsa nan kudu berdiri di atas persatuan. Baginya, kemerdekaan tidak sekadar lepas dari penjajahan, tetapi juga membangun martabat manusia Indonesia.

Melalui Pancasila, Bung Karno menawarkan dasar berbareng bagi semua golongan. Pancasila bukan milik satu agama, satu suku, alias satu golongan politik. Pancasila adalah rumah berbareng nan memungkinkan perbedaan hidup dalam satu cita-cita kebangsaan.

Gus Dur melanjutkan semangat itu dalam bahasa nan lebih humanis dan membumi. Ia mengingatkan bahwa kebangsaan tidak boleh berakhir menjadi slogan. Kebangsaan kudu tampak dalam langkah negara memperlakukan warganya, terutama mereka nan lemah, minoritas, tersisih, ataupun berbeda. Bagi Gus Dur, Indonesia nan sejati adalah Indonesia nan memberi tempat bagi semua orang, bukan hanya bagi mereka nan kuat secara politik, ekonomi ataupun jumlah.

Jika Bung Karno menekankan pentingnya persatuan nasional, Gus Dur menekankan pentingnya kemanusiaan di dalam persatuan itu. Persatuan tanpa kemanusiaan bisa berubah menjadi penyeragaman ataupun pemaksaan.

Ilustrasi persatuan. Foto: Getty Images

Sebaliknya, kemanusiaan tanpa persatuan dapat menyebabkan hilangnya arah tujuan kehidupan berbangsa. Maka, keduanya saling melengkapi. Bung Karno memberi fondasi besar tentang Indonesia sebagai suatu bangsa dan negara nan merdeka, sedangkan Gus Dur mengingatkan agar kemerdekaan itu tetap berpihak kepada manusianya, bukan sekadar negaranya.

Dalam soal agama, keduanya juga mempunyai titik jumpa nan penting. Bung Karno memandang kepercayaan sebagai sumber nilai moral, tetapi negara tidak boleh menjadi perangkat satu golongan kepercayaan tertentu. Ia mau Indonesia menjadi negara nan berketuhanan, tetapi tetap menaungi semua warga.

Gus Dur pun mempunyai pandangan serupa. Sebagai tokoh Nahdlatul Ulama dan Presiden keempat Republik Indonesia, dia menunjukkan bahwa keberagamaan nan matang bukanlah keberagamaan nan memaksakan kehendak, melainkan nan melindungi martabat manusia.

Gus Dur sering menunjukkan bahwa memihak minoritas bukan berfaedah melawan mayoritas. Membela nan lemah bukan berfaedah membenci nan kuat. Justru di situlah ukuran keluhuran sebuah bangsa. Sebuah bangsa tidak hanya dinilai dari gimana dia memperlakukan golongan besar, tetapi juga dari gimana dia menjaga kewenangan golongan kecil. Semangat ini sejalan dengan pesan Bung Karno bahwa bangsa Indonesia kudu menjadi bangsa nan beradab, bukan bangsa nan saling menindas.

Dalam bagian politik, Bung Karno dan Gus Dur sama-sama memahami bahwa kekuasaan kudu mempunyai arah moral. Bung Karno menggerakkan rakyat dengan pidato, gagasan, dan simbol kebangsaan. Ia membujuk bangsa Indonesia percaya diri, tidak minder di hadapan kekuatan asing, dan tidak menyerahkan nasib kepada kapitalisme dunia maupun imperialisme. Baginya, bangsa nan merdeka kudu mempunyai kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan.

Ilustrasi Soekarno dan Hatta. Foto: Designer-04/Shutterstock

Gus Dur juga mempunyai keberanian politik nan kuat, tetapi dengan style berbeda. Ia sering melawan arus, memihak golongan nan tidak populer, dan mengkritik kekuasaan nan dianggap menyimpang dari nilai kemanusiaan. Gus Dur mengajarkan bahwa kerakyatan bukan hanya soal pemilu, partai, dan jabatan, melainkan juga soal keberanian menghormati perbedaan pendapat, melindungi kebebasan dan menolak kesewenang-wenangan.

Bung Karno adalah api nan membakar semangat bangsa agar bangkit. Gus Dur adalah sinar nan mengingatkan bangsa agar tidak kehilangan nurani. Bung Karno mengajarkan keberanian untuk berbicara “Kami bangsa nan merdeka”. Gus Dur mengajarkan kedewasaan untuk berbicara “Semua penduduk berkuasa hidup terhormat di negeri ini”.

Keduanya juga sama-sama mempunyai daya bahasa nan kuat. Bung Karno berbincang dengan retorika nan megah, penuh gelora, dan membangkitkan keberanian kolektif. Gus Dur berbincang dengan humor, sindiran halus, dan kalimat sederhana nan sering kali lebih tajam daripada pidato panjang. Bung Karno mengguncang kesadaran rakyat melalui panggung besar sejarah. Gus Dur menyentuh kesadaran rakyat melalui kedekatan, kelucuan, dan keberanian moral.

Namun, mengagumi Bung Karno dan Gus Dur tidak berfaedah menutup mata dari sisi manusiawi mereka. Mereka bukan tokoh tanpa kekurangan. Sejarah selalu menyimpan kompleksitas. Namun, justru di situlah kita belajar bahwa tokoh besar bukanlah manusia nan sempurna, melainkan manusia nan meninggalkan warisan pendapat besar bagi bangsanya. nan krusial bagi generasi hari ini tidaklah memuja tokoh secara buta, tetapi mengambil api pemikiran dan keteladanan moralnya.

Dari Bung Karno kita belajar bahwa bangsa ini kudu percaya diri. Indonesia tidak boleh menjadi bangsa pengekor. Kita mempunyai sejarah, budaya, sumber daya, dan kekuatan rakyat nan besar. Namun, semua itu hanya berfaedah jika dikelola dengan semangat keadilan dan kedaulatan.

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Foto: Jay Directo/AFP

Dari Gus Dur, kita belajar bahwa bangsa besar kudu mempunyai hati besar. Indonesia tidak boleh menjadi rumah nan hanya nyaman bagi sebagian orang. Indonesia kudu menjadi rumah bagi semua: nan berbeda agama, berbeda suku, berbeda pandangan, berbeda latar sosial, dan berbeda pilihan hidup, selama tetap menghormati kemanusiaan dan kebangsaan.

Pesan moral dari Bung Karno dan Gus Dur sangat relevan untuk hari ini. Di tengah politik nan sering gaduh, media sosial nan mudah memecah belah, dan kepentingan ekonomi nan kadang mengalahkan nurani, kita perlu kembali pada semangat kebangsaan nan sehat. Mencintai Indonesia bukan hanya dengan mengibarkan bendera, melainkan juga dengan menjaga persaudaraan. Bukan hanya dengan meneriakkan persatuan, melainkan juga dengan menolak ketidakadilan. Bukan hanya dengan bangga pada sejarah, melainkan juga dengan bekerja jujur untuk masa depan.

Bung Karno dan Gus Dur mengajarkan bahwa Indonesia bukan sekadar wilayah, melainkan juga amanah. Indonesia bukan sekadar negara, melainkan juga rumah bersama. Rumah ini tidak boleh dirusak oleh kebencian, keserakahan, fanatisme sempit, alias kekuasaan nan kehilangan arah moral.

Maka, menjadi Indonesia hari ini berfaedah menjadi “bung” bagi sesama: kerabat seperjuangan dalam membangun negeri. Sekaligus menjadi “gus” dalam makna moral: pribadi nan rendah hati, berilmu, hangat, dan berani memihak kemanusiaan.

Bung Karno dan Gus Dur telah pergi, tetapi semangatnya tidak boleh padam. Selama Indonesia tetap berdiri di atas keberagaman, selama rakyat tetap merindukan keadilan, dan selama bangsa ini tetap mau menjadi rumah bagi semua, pemikiran keduanya bakal tetap hidup. Mereka mengingatkan kita bahwa kebangsaan sejati bukan hanya tentang siapa nan paling keras berbincang atas nama Indonesia, melainkan juga siapa nan paling tulus merawat manusia Indonesia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan