Ilustrasi(Magnific)
FENOMENA déjà vu selama ini sering dianggap sebagai tanda bahwa otak kita sedang mengalami gangguan memori sesaat. Namun, sebuah penelitian terbaru justru menunjukkan perihal sebaliknya, emosi familier nan asing ini merupakan bukti bahwa sistem pengecek kebenaran di dalam otak Anda sedang bekerja dengan sangat baik.
Dr. Akira O'Connor, seorang peneliti memori dari University of St Andrews di Skotlandia, berbareng timnya sukses memetakan aktivitas otak saat déjà vu terjadi. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, tim ini memindai otak relawan sehat menggunakan mesin MRI (Magnetic Resonance Imaging) saat kejadian tersebut dipicu di dalam laboratorium.
Untuk menciptakan sensasi déjà vu buatan, para peneliti membacakan daftar kata nan saling berangkaian kepada para relawan, seperti basah, salju, musim dingin, es, dan membeku. Namun, mereka sengaja melewatkan satu kata inti nan menyatukan semua komponen tersebut, ialah kata dingin.
Ketika kata dingin ditunjukkan di kemudian hari, para relawan tahu bahwa kata itu belum pernah muncul sebelumnya lantaran sebuah tes logika, tetapi sistem emosi mereka merasa sangat familier dengannya. Tabrakan info inilah nan memicu emosi déjà vu.
Saat bentrok mental ini terjadi, hasil pemindaian fMRI menunjukkan lonjakan aktivitas di bagian depan otak, khususnya pada area anterior cingulate cortex. Area ini dikenal sebagai wilayah nan bekerja menangkap bentrok antara dua sinyal nan saling bersaing dan memberikan tanda bahwa ada sesuatu nan perlu ditinjau ulang.
“Déjà vu ini berjalan lebih singkat daripada situasi sebelumnya,” tulis salah satu relawan nan menggambarkan sensasi tersebut di dalam lab.
Selain anterior cingulate cortex, jaringan lain di dekatnya seperti medial prefrontal cortex dan sebagian parietal cortex juga ikut aktif. Ketiga wilayah ini membentuk sebuah jaringan nan digunakan otak untuk memonitor pemikirannya sendiri dan membatalkan emosi keliru demi mempertahankan realitas.
Temuan nan dipublikasikan dalam jurnal Memory ini juga menjawab misteri kenapa déjà vu makin jarang terjadi seiring bertambahnya usia. Seiring menuanya seseorang, sistem di otak bagian depan nan bekerja mendeteksi ketidakcocokan mini ini condong melemah, sehingga otak lansia bakal membiarkan pertentangan mini tersebut lolos begitu saja tanpa memicu déjà vu.
Pada akhirnya, déjà vu bukanlah sebuah kesalahan fatal pada ingatan manusia. Fenomena ini justru menjadi bukti bahwa otak Anda sedang melakukan pemeriksaan realitas secara aktif untuk memisahkan memori original dari sinyal-sinyal nan menyesatkan. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·