Bukan Sekadar Faktor Usia, Ini Pemicu Penurunan Daya Ingat pada Lansia!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Bukan Sekadar Faktor Usia, Ini Pemicu Penurunan Daya Ingat pada Lansia! Pemicu Penurunan Daya Ingat pada Lansia(Dok. Magnific)

PENURUNAN kognitif pada lanjut usia (lansia) menjadi tantangan kesehatan serius seiring dengan meningkatnya beban gangguan neurologis dunia nan sekarang mencapai 3,4 miliar orang. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa kondisi ini dipicu oleh hubungan kompleks antara aspek biologis, medis kronis, hingga determinan sosial.

Imran menjelaskan bahwa aspek akibat kardiometabolik memegang peran krusial dalam memicu kerusakan vaskular otak. Penyakit seperti hipertensi, glukosuria mellitus, dislipidemia, obesitas, serta riwayat stroke menjadi kontributor utama nan mempercepat penurunan kegunaan otak pada golongan usia senja.

“Selain aspek medis, gangguan tidur, depresi, stres kronis, dan aspek genetik juga meningkatkan kerentanan. Determinan sosial seperti pendidikan rendah, kemiskinan, dan isolasi sosial turut menurunkan persediaan kognitif serta membatasi akses jasa kesehatan,” ujar Imran kepada Media Indonesia, Senin (22/6).

Di Indonesia, urgensi penanganan masalah ini semakin mendesak mengingat proyeksi penuaan populasi. Pada tahun 2025, jumlah lansia berumur 60 tahun ke atas diperkirakan mencapai 34 juta jiwa alias sekitar 11,9% dari total populasi. Kondisi ini dibarengi dengan perkiraan lebih dari 2 juta kasus demensia, di mana Alzheimer menyumbang lebih dari 60% kasus nasional.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah mendorong pendekatan komprehensif healthy aging nan mencakup pilar promotif, preventif, dan restoratif. Beberapa aspek protektif nan dapat dimodifikasi untuk memperlambat penurunan kegunaan kognitif meliputi:

Strategi Pencegahan Penurunan Kognitif:

  • Aktivitas bentuk teratur melalui program exercise medicine (latihan kekuatan dan aerobik).
  • Pola makan sehat kaya sayur, ikan, dan asupan protein adekuat.
  • Stimulasi kognitif dan training kegunaan eksekutif.
  • Manajemen stres dan tidur berkualitas.
  • Penghentian merokok dan pembatasan konsumsi alkohol.
  • Koreksi gangguan sensorik seperti penglihatan dan pendengaran.

Imran menekankan bahwa nutrisi optimal dan latihan bentuk tidak hanya mendukung kegunaan otak, tetapi juga mencegah frailty (kerapuhan fisik) dan mempertahankan mobilitas lansia. Intervensi awal pada faktor-faktor akibat tersebut terbukti efektif meningkatkan kualitas hidup dan partisipasi sosial para lansia di tengah tren penuaan populasi. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia