Perkembangan e-commerce mengubah langkah belanja masyarakat Indonesia. Namun bagi pusat perbelanjaan premium seperti Senayan City, gelombang perubahan itu justru menjadi momentum untuk mendefinisikan ulang kegunaan mal.
Pergeseran langkah shopping kian terasa saat pandemi COVID-19, sekitar 2020-2022. Assistant General Manager Operations PT Manggala Gelora Perkasa, pengelola Senayan City, Lucky Hartadi Naftali, menyebut pandemi sebagai titik kembali perilaku konsumen.
"Yang tadinya orang enggak percaya sama shopping online, sekarang dengan adanya COVID, commerce jadi makin kencang. Itu nan secara mendorong peningkatan e-commerce, pas era COVID. Jadi mal juga sekarang sudah berubah fungsinya, nan tadinya tempat belanja, sekarang bukan lagi sekadar tempat belanja," kata Lucky saat ditemui kumparan di Senayan City, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Kini, menurut Lucky, argumen orang datang ke mal bukan lagi murni untuk berbelanja. Mal telah beralih bentuk menjadi ruang sosial nan mempertemukan keluarga, teman, hingga komunitas. Mal menjadi titik kumpul di tengah hiruk-pikuk kota.
"Mal itu seumpama rumah besar. Rumah nan jadi tempat ngumpul, jadi hub-nya dulu, tempat ketemuan dulu," jelasnya.
Ia mencontohkan, masyarakat sekarang lebih memilih berjumpa di mal lantaran kemudahan akses parkir, ragam pilihan restoran, dan akomodasi komplit nan tersedia dalam satu kawasan. Tak mengherankan jika mal juga berubah menjadi destinasi rekreasi keluarga, khususnya bagi kaum urban.
Namun di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan di Jakarta, tantangan terbesar bukan lagi sekadar menarik orang untuk datang. nan jauh lebih penting, kata Lucky, adalah memberi argumen kuat kenapa mereka kudu memilih Senayan City, bukan mal lain.
Karena itu, strategi nan diterapkan bukan asal mengisi ruang dengan sebanyak mungkin tenant, melainkan mengkurasi merek nan betul-betul selaras dengan profil pengunjung.
"Kita enggak mungkin asal terima tenant. Kita kurasi dulu, enggak bisa nan krusial terisi, nan krusial bayar. Berani bayar lebih mahal pun, jika tenantnya enggak cocok dengan profil segmen kita, ya dia bakal meninggal sendiri. Percuma," ujar Lucky.
Proses kurasi ini juga mengikuti tren nan sedang digemari pasar. Salah satu buktinya adalah kehadiran area unik olahraga, mulai dari toko multi-brand hingga gerai eksklusif untuk beragam merek perlengkapan sport.
Pengalaman Lebih Berharga daripada Sekadar Belanja
Pergeseran ini juga tergambar jelas dari pola konsumsi masyarakat secara nasional. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2025, rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk golongan makanan mencapai Rp 804.430 per kapita per bulan, sedikit lebih tinggi dibanding golongan non-makanan nan sebesar Rp 780.042.
Khusus di wilayah perkotaan, rata-rata pengeluaran makanan apalagi mencapai Rp 860.540 per kapita per bulan.
Besarnya alokasi shopping makanan ini menegaskan bahwa sektor kuliner tetap menjadi salah satu penggerak utama konsumsi masyarakat perkotaan. Namun bagi Gen Z, rasa nan lezat saja tidak lagi cukup. Lucky menilai generasi muda saat ini juga mencari tempat nan nyaman sekaligus menarik secara visual. Atas dasar itu, kreasi tenant restoran pun menjadi perhatian serius pengelola.
"Restoran sekarang, lezat itu belum tentu cukup. Harus cozy, di foto juga [bagus], apalagi jika mau nyambung sama Gen Z," ungkapnya.
Tak berakhir di proses seleksi awal, Senayan City apalagi tetap mengawal konsep kreasi gerai setelah tenant resmi masuk, demi memastikan tampilannya menarik dan punya daya tarik visual nan kuat.
"Setelah mereka masuk ke kita, ya itu juga dikurasi lagi. Mau bikin desainnya kayak apa? Jangan nan biasa-biasa aja dong," ucap Lucky.
Event dan Tenant: Satu Paket nan Tak Terpisahkan
Selain menghadirkan tenant pilihan, Senayan City juga rutin menggelar beragam aktivitas untuk menjaga arus kunjungan tetap hidup. Bagi Lucky, event menjadi salah satu kunci agar masyarakat, khususnya Gen Z, punya argumen untuk terus kembali.
"Kita berupaya bikin kegiatan-kegiatan, event-event, nan bisa menarik crowd ke Senayan City," ujarnya.
Meski begitu, Lucky menegaskan event tidak bisa berdiri sendiri. Pengalaman berjamu baru terasa komplit jika didukung oleh tenant nan betul-betul sesuai selera pengunjung.
"Dua-duanya kudu jalan bareng. Tenant nan disukai Gen Z, event nan disukai Gen Z juga, saling melengkapi. Enggak bisa jalan sendiri-sendiri," tutur Lucky.
Kombinasi strategi ini diharapkan bisa mendorong pembelian spontan namalain impulse buying, ialah ketika visitor nan awalnya datang hanya untuk sebuah acara, pada akhirnya tergoda berbelanja di tenant favorit mereka.
Membidik Semua Generasi
Meski gencar menghadirkan aktivitas nan dekat dengan bumi Gen Z, Lucky menegaskan Senayan City tidak membatasi diri pada satu golongan usia saja. Menurutnya, profil visitor mal premium ini justru terbentang cukup luas, mulai dari Gen Z hingga baby boomers.
"Kita ambil semua. Memang segmennya luas," papar Lucky.
Oleh lantaran itu, komposisi tenant pun dirancang berlapis. Merek-merek nan dekat dengan Gen Z tidak ditempatkan berdampingan dengan tenant premium nan menjadi daya tarik utama bagi segmen usia nan lebih dewasa.
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·