(Kiri ke kanan) Marcia Julia, Chief Executive Officer PT Eden Kreasi Indonesia & Frebriansyah, Founder PT Eden Kreasi Indonesia.(Dok. PT Eden Kreasi Indonesia.)
STRATEGI influencer alias pemberi pengaruh marketing terus mengalami pergeseran seiring perubahan perilaku konsumen di era digital. Jika sebelumnya kampanye banyak difokuskan untuk menciptakan awareness dan viralitas, sekarang semakin banyak brand menuntut hasil nan dapat diukur secara langsung terhadap pertumbuhan bisnis.
Perubahan tersebut terjadi di tengah semakin kompleksnya perjalanan konsumen nan berinteraksi melalui beragam platform digital. Kondisi ini membikin perusahaan tidak lagi hanya memerlukan kampanye kreatif, tetapi juga pendekatan pemasaran nan bisa mengintegrasikan media, data, influencer, dan pengukuran performa dalam satu strategi.
Tren tersebut menjadi salah satu latar belakang merger antara MediaScience dan Eden nan diumumkan pada Selasa (2/6). Melalui langkah ini, kedua perusahaan berupaya menggabungkan kapabilitas di bagian digital media buying, media planning, dan performance marketing dengan skill influencer marketing, strategi kampanye, serta komunikasi digital berbasis budaya dan komunitas.
Dalam keterangan resminya, perusahaan menilai kebutuhan terhadap solusi pemasaran nan lebih terintegrasi terus meningkat. Seiring berkembangnya platform digital, brand tidak lagi cukup mengandalkan kampanye nan bisa menarik perhatian publik, tetapi juga dituntut menghasilkan akibat upaya nan terukur.
Chief Executive Officer PT Eden Kreasi Indonesia Marcia Julia mengatakan, perubahan perilaku konsumen membikin brand kudu bisa mengikuti dinamika kultur dan percakapan digital nan bergerak sangat cepat.
"Konsumen saat ini bergerak sangat sigap mengikuti kultur dan percakapan digital nan terus berubah. Karena itu, brand memerlukan pendekatan nan tidak hanya kreatif, tetapi juga relevan secara budaya dan terukur secara bisnis," ujarnya.
Menurut Marcia, penggabungan kekuatan kreativitas, influencer, media, dan performance marketing menjadi semakin krusial agar kampanye tidak berakhir pada pembuatan awareness semata.
"Dengan menggabungkan kekuatan kreativitas, influencer, media, dan performance dalam satu ekosistem. Kami mau membantu brand, sekaligus mendorong pertumbuhan upaya nan berkelanjutan," katanya.
Perubahan kebutuhan pasar juga mendorong berkembangnya pendekatan influencer marketing nan semakin berbasis data. Jika sebelumnya pemilihan influencer banyak ditentukan oleh ketenaran alias jumlah pengikut, sekarang efektivitas kampanye semakin diukur berasas relevansi audiens, tingkat keterlibatan, hingga kontribusinya terhadap tujuan bisnis.
Salah satu diferensiasi nan dikembangkan Eden adalah model influencer marketing nan memberikan akses langsung kepada para key opinion leader (KOL) tanpa perantara. Pendekatan ini dinilai dapat meningkatkan efisiensi sekaligus membantu brand menjangkau audiens nan lebih tepat melalui beragam kategori kreator, mulai dari celebrity influencer hingga micro, nano, dan community-based creators.
Kemampuan tersebut diperkuat melalui Influencer IQ, sistem database KOL nan digunakan untuk memetakan influencer berasas relevansi, performa, dan dampaknya terhadap tujuan kampanye. Pendekatan berbasis info tersebut memungkinkan proses seleksi pembuat dilakukan secara lebih presisi dan terukur.
Didirikan pada 2020, Eden telah berkembang menjadi agensi nan menangani lebih dari 30 brand aktif dari beragam sektor, mulai dari telekomunikasi, e-commerce, nutrisi, personal care, home appliance, otomotif, hingga FMCG. Perusahaan juga didukung lebih dari 30 personel dengan pengalaman campuran mencapai 36 tahun di industri pemasaran dan komunikasi. Selama kariernya, Marcia telah menangani beragam kampanye viral dan peraih penghargaan untuk beragam brand, termasuk proyek berskala internasional seperti Asian Games.
Pascamerger, Eden bakal beraksi sebagai digital creative performance agency di bawah WOW Group dengan konsentrasi membantu brand menghadirkan kampanye nan menggabungkan kreativitas, budaya, media, dan performa upaya secara lebih terintegrasi. (E-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·