Bukan Iran, 2 Negara Asia Ini Jadi Korban Blokade Selat Hormuz Trump

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah Amerika Serikat (AS) memblokir jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz mulai memicu akibat luas terhadap pasar daya global. Kebijakan nan dimulai sejak Senin itu tak hanya menekan Teheran, tetapi juga menghantam negara-negara besar seperti India hingga China.

Washington diketahui mencegah kapal-kapal masuk dan keluar dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz setelah negosiasi tenteram gagal. Jalur ini merupakan rute vital nan dilalui sekitar 20% pasokan minyak bumi sehingga dampaknya langsung terasa bagi negara importir daya besar, terutama India.

India menghadapi tekanan berat lantaran kudu kehilangan dua sumber pasokan utama sekaligus. Selain terganggunya aliran minyak Iran akibat blokade, pengecualian dari AS untuk membeli minyak Rusia juga resmi berhujung pada 11 April.

Mukesh Sahdev, kepala analis minyak di X. Analysts, mengatakan kondisi ini mempersempit ruang mobilitas India. "India menghadapi tekanan pasokan nan semakin meningkat dengan hilangnya pasokan minyak Iran, ditambah tidak mendapatkan pasokan minyak Rusia," ujarnya kepada CNBC International, Rabu (15/4/2026).

India sendiri mengimpor lebih dari 85% kebutuhan minyaknya alias sekitar 5,5 juta barel per hari. Gangguan di Selat Hormuz membikin negara itu kehilangan sekitar 3 juta barel per hari nan sebelumnya melintas di jalur tersebut.

Kondisi ini memaksa kilang minyak India mencari sumber alternatif, terutama dari Rusia. Namun, berakhirnya pengecualian dari AS membikin opsi tersebut semakin terbatas.

Situasi India makin rentan lantaran persediaan energinya relatif kecil. Sahdev mencatat persediaan minyak India hanya sekitar 160 juta barel, alias cukup untuk sekitar 30 hari. Bandingkan dengan China nan mempunyai persediaan hingga sekitar 300 hari.

Tekanan ini mulai tercermin pada kondisi ekonomi. Aktivitas sektor swasta India pada Maret melambat ke level terendah sejak Oktober 2022, dipicu melemahnya permintaan domestik serta meningkatnya tekanan inflasi akibat bentrok Timur Tengah.

Kementerian Keuangan India apalagi memperingatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 7,0%-7,4% berisiko mengalami penurunan signifikan akibat lonjakan nilai daya dan gangguan rantai pasok.

China

Sementara itu, akibat blokade juga memicu reaksi keras dari China. Pemerintah Beijing menyebut langkah AS sebagai tindakan nan rawan dan tidak bertanggung jawab.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan blokade tersebut berpotensi merusak stabilitas kawasan. "China percaya bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata komprehensif dan mengakhiri perang, kita dapat meredakan situasi di selat," ujarnya.

Sebagai pembeli terbesar minyak Iran, China mempunyai kepentingan besar agar jalur tersebut tetap terbuka. Penutupan Selat Hormuz secara langsung mengganggu pasokan daya ke negara tersebut dan berpotensi menekan ekonominya.

Di sisi lain, pasar minyak dunia mulai bergejolak. Harga minyak mentah Brent sempat turun sekitar 1% ke level US$98,44 per barel alias sekitar Rp1,67 juta. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 2,6% menjadi US$96,48 per barel alias sekitar Rp1,64 juta.

Meski nilai sempat terkoreksi di tengah angan solusi diplomatik, para analis memperingatkan pasar tetap dalam kondisi ketat. Berakhirnya pengecualian pembelian minyak Rusia berpotensi mendorong nilai kembali naik.

(tfa/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News