Merauke, CNBC Indonesia - Petani di Merauke bukan hanya berpacu melawan cuaca panas. Di area sawah pasang surut Papua Selatan, mereka juga kudu mengalahkan datangnya air asin. Jika terlambat menanam, saluran irigasi bisa berubah asin pada Agustus-September dan musim tanam pun berakhir.
Angga Dwi Hardianto, petani dari Candra Jaya, Distrik Kurik, mengatakan hujan sudah tak turun selama dua bulan. Namun bagi petani di wilayah pasang surut, persoalan bukan semata tidak adanya hujan, melainkan gimana menjaga sawah tetap mendapat suplai air sebelum musim asin datang.
"Kalau normalnya, sebenarnya sudah kita rasakan panas, sudah ini, sudah dua bulan nggak ada hujan," kata Angga saat ditemui di lahannya di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan, Minggu (5/7/2026).
Di Merauke, akibat El Nino dirasakan berbeda lantaran sistem pengairannya berjuntai pada pasang surut sungai. Selama air belum berubah asin, sawah tetap mendapat suplai air.
"Di sini tergantung pengairan, ikut kali. Air pasang surut. Selama itu air pasang lagi surut, tidak mengalami asin, (maka pengairan) tetap aman," ujarnya.
Artinya, ancaman terbesar bagi petani bukan semata kekeringan maupun El Nino, tetapi perubahan kualitas air. Karena itu, waktu tanam menjadi sangat krusial. Angga mengatakan, petani didorong untuk tanam lebih sigap agar panen datang sebelum air pasang mulai asin.
"Makanya pemerintah kan selalu gembar-gembur suruh tanam cepat, ya itu lantaran mungkin lihat kondisi tanah di sini, jadi mungkin pemerintah juga tahu di sini pengairan pakai air pasang surut. Jadi jika terlambat sedikit, mungkin jika sekarang tanam, nan jelas nggak bisa panen. nan jelas ini perkiraan kan kelak bulan-bulan Agustus sudah asin air itu, selama cuaca begini loh. Kalau mungkin kelak ada hujan lagi, itu lain ceritanya," jelas dia.
Oleh lantaran itu, banyak petani memilih mulai tanam sejak April agar panen dapat dilakukan sebelum air berubah asin.
Angga memperkirakan panen mulai berjalan pada akhir Juli hingga Agustus.. "Akhir bulan 7 sudah ada nan panen," lanjut dia.
Bagi petani di Merauke, keputusan menanam lebih sigap bukan tanpa alasan. Sekali terlambat, kesempatan menanam ulang dalam waktu dekat nyaris tertutup. Setelah musim ini selesai, petani biasanya kudu menunggu musim rendengan pada akhir tahun.
Sementara bagi petani nan sudah melakukan panen sebelum air berubah jadi asin, Angga menyebut mereka tidak bakal bisa lanjut menanam baru jika sudah masuk bulan Agustus.
"Tidak, kayaknya tidak bisa (tanam baru) lantaran ini ya sudah, paling tidak Agustus kan sudah air asin itu, jadi nggak bisa," ucapnya.
Lalu kapan mereka bisa mulai lagi?
"Nanti musim rendengan, sekitar bulan Desember," ujarnya.
Untuk menjaga pasokan air selama kemarau, petani juga tetap mengandalkan pompanisasi. "Kalau irigasi tetap aman. Kita pakai pompanisasi, Pak," sambung dia.
Meski cuaca panas mulai terasa dan hujan tak turun dua bulan, Angga mengaku belum terlalu cemas sawahnya bakal puso. Menurut dia, umur tanaman saat ini sudah cukup kondusif untuk dibawa sampai masa panen, asalkan air asin belum masuk lebih sigap dari perkiraan.
"Kalau untuk kekhawatiran puso tidak ada. Karena kan kita sudah baca, ini kan tanaman sudah umur dua bulan. Paling tidak kan satu bulan ke depan kan itu perkiraan air mungkin sudah asin, jadi kita sudah panen," kata Angga.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian, Fadjry Djufry mengakui karakter lahan Merauke memang berbeda dengan wilayah lain. Menurut dia, lahan di area ini termasuk lahan pasang surut jenis C, sehingga almanak tanam kudu disesuaikan dengan pola air.
"Nah, pasti bakal berbeda variasinya di seluruh Indonesia. Kalau di sini kan lahan pasang surut jenis C namanya. Jadi ada pasang purnama. Kalau dalam kondisi pasang tidak full nggak masuk air di sini. Nah, biasanya Agustus, akhir September sudah asin airnya di sini. Makanya kita gunakan juga varietas-varietas nan lebih toleran dengan asin," kata Fadjry.
Ia menambahkan, wilayah Merauke juga mempunyai tantangan (benih)penyakit dan kondisi agroekosistem tersendiri, sehingga pendekatan budidaya tak bisa disamaratakan dengan Jawa alias wilayah irigasi teknis lainnya. Karena itu, varietas dan metode tanam kudu disesuaikan dengan kondisi setempat.
Bagi petani Merauke, almanak musim akhirnya menjadi penentu nan sama pentingnya dengan pupuk dan benih. Mereka bukan hanya menanam padi, tetapi juga menghitung hari: kapan air tetap aman, kapan sawah tetap bisa diairi, dan kapan gabah kudu sudah dipanen sebelum rasa asin masuk ke saluran air. Di sawah pasang surut Papua Selatan, selisih beberapa pekan bisa menjadi pembeda antara panen dan kandas tanam.
(mkh/mkh)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·